
Hari demi hari pun terus berlalu dan semua orang tetap menjalankan semua sesuai dengan yang telah mereka rencanakan, dan hari itu tak tau mengapa Adit tak menjemput Ara seperti biasanya dia hanya mengatakan bahwa hari itu dia ada sebuah pertemuan penting
Hari itu Ara berangkat ke kantor dan bekerja seperti biasanya tanpa tau sama sekali bahwa Adit sudah menyiapkan sebuah kejutan besar bagi dirinya, dan Adit pun sengaja seharian penuh tidak menghubungi Ara sama sekali. Dan sikap Adit tersebut berhasil membuat perasaan Ara sedikit terganggu
"Pertemuan apa sih? kenapa aku bisa ga tau sama sekali? ini juga pak Arman seharian ada di kantor. Bahkan sekarang udah mau jam pulang kerja tetap ga ada kabar sama sekali"
Ara pun tersadar dari lamunan nya karena mendengar ponselnya berdering dan panggilan tersebut berasal dari Vira
"Ya Vir"
"Ara nanti malam kita semua datang ke sebuah acara, kamu ikut ya?"
"Aku rasanya lagi ga mood untuk pergi"
"Maaf Vir kayaknya aku ga usah ikut ya"
"Yah, kok gitu sih?"
"Aku tunggu di rumah aja ya"
"Kalau Ara sampai ga ikut semua acaranya bakal berantakan dong"
"Ara sebenarnya ini acara penting buat keluarga kami, kamu kan udah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri. Bahkan kak Merry udah siapin baju untuk kamu, masa kamu ga ikut sih?"
Karena merasa tak enak hati akhirnya Ara pun menyetujui ajakan dari sahabatnya tersebut, dan saat tiba di rumah Ara sempat sedikit bingung karena pakaian yang telah di siapkan untuk dirinya terbilang cukup mewah dan glamor
"Ga salah nih kak Merry pilihin baju ini buat aku?"
"Kenapa?"
"Vir aku yakin baju ini mahal" menatap tajam
"Kak Merry sengaja pilih itu karena kamu penting buat kami"
"Tapi Vir..."
"Ya udah balikin aja ke kak Merry kalau kamu mau liat dia kecewa"
"Maaf ya Ara sayang aku terpaksa bohong sama kamu"
"Memang kita mau datang ke acara apa sih?"
"Pertemuan sama orang-orang penting, udah akh aku juga mau siap-siap" dengan cuek dan meninggalkan kamar Ara
Mereka semua yang berada di rumah itu sudah siap dengan balutan pakaian yang terbilang mewah, hal tersebut membuat Ara tak menaruh curiga sama sekali. Mereka pun mulai berangkat ke suatu tempat
Sesampainya di sana sudah ada beberapa orang yang terlihat dari golongan orang berada menduduki meja mereka masing-masing, dan Ara pun sempat merasa curiga karena tempat semewah itu hanya di hadiri oleh beberapa orang
"Sebenarnya acara penting apa sih ini? kenapa yang datang sedikit banget ya?"
__ADS_1
Saat Ara dan yang lainnya sudah berada di meja mereka tiba-tiba saja lampu di tempat itu menjadi padam dan Ara pun langsung memeluk buah hatinya
"Jangan takut ya sayang, cuma mati lampu kok" berbisik
Daffa hanya membalas dengan senyuman karena dia pun tau apa yang akan terjadi di tempat itu, dan tiba-tiba saja lampu bagian di bagian panggung tempat itu menyala di sana sudah ada Adit berada tepat di depan sebuah piano
"Ngapain kak Adit di situ?"
Ara yang sedang terkejut melihat Adit berada di atas panggung semakin terkejut karena tiba-tiba saja ada sebuah lampu yang mengarah ke arah dirinya, suara denting piano pun mulai terdengar dengan indah dan suara Adit pun mulai terdengar menyanyikan sebuah lagu
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
__ADS_1
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Akulah yang terbaik untukmu
Adit memainkan piano tersebut dan malantunkan sebuah lagu dengan penuh perasaan seolah dia sedang berkata dari dasar lubuk hatinya yang paling dalam, sedangkan Ara hanya bisa terdiam dan matanya pun mulai berkaca-kaca karena merasa haru
Adit menatap ke arah Ara sambil tersenyum hangat, dia pun mulai melangkahkan kakinya ke arah meja Ara di iringi sebuah lampu yang menerangi jalannya. Adit pun berlutut tepat di hadapan Ara sambil mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku bajunya, Adit membuka kotak tersebut dan ternyata kotak tersebut berisikan sebuah cincin yang sangat mewah
"Aku mungkin bukan laki-laki terbaik untuk kamu tapi aku janji aku akan selalu melakukan yang terbaik untuk kamu, tolong kasih aku kesempatan untuk melakukan itu semua. Will you marry me?"
Ara hanya bisa terdiam dan air matanya pun sudah mulai mengalir dengan sendirinya, Ara pun menganggukkan kepalanya tanda menerima lamaran dari Adit dan seluruh lampu di ruangan tersebut kembali menyala
Suara riuh tepuk tangan terdengar dari orang-orang yang hadir di tempat itu, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja sudah banyak dari anggota keluarga Mahardika berada di sana. Mamanya Adit pun langsung menghampiri Ara dan memeluk tubuh Ara dengan erat
"Terima kasih ya sayang, sebentar lagi kamu akan jadi anak mama juga"
Semua yang berada di sana merayakan acara tersebut dengan suka cita, karena sebagian besar keluarga Mahardika sudah mengetahui tentang Daffa. Dan mereka juga bersyukur karena Adit akhirnya menemukan seorang wanita yang bisa menaklukkan hatinya
Di sela acara Gilang meminta Adit untuk sedikit menjauh dari kerumunan, Gilang merasa bertanggung jawab untuk melepaskan Ara dengan cara baik
"Sebelumnya saya mau minta maaf sama pak Adit, karena saya sempat ragu dengan keseriusan pak Adit"
"Saya paham kok" tersenyum ramah
"Saya juga mau bilang terima kasih karena sudah hadir di kehidupan Ara dan Daffa, saya titip mereka ya pak"
Mereka berdua langsung memandang ke arah Ara dan Daffa yang sedang asik berbincang dengan mamanya Adit
"Kamu ga perlu ucapin terima kasih, saya yang harus berterima kasih ke Ara karena mau menerima saya. Dan saya janji akan jaga mereka berdua dengan baik" dengan yakin
"Baik pak kalau gitu sekali lagi saya ucapkan terima kasih"
"Tapi masih ada satu masalah yang sedikit mengganggu"
Gilang pun langsung menatap serius ke arah Adit
"Ada apa ya pak?"
__ADS_1
"Kita sekarang udah jadi keluarga, tolong jangan pakai bahasa formal lagi ke saya dan jangan panggil saya bapak"
Mereka berdua pun akhirnya tertawa lepas