Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Merasa Gagal


__ADS_3

Papa Surya tak bisa tidur dengan tenang pada malam itu, ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. Karena tak lagi dapat menahan rasa itu dia pun memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan menuju ke ruang kerjanya, dia pun langsung menghubungi seseorang untuk mulai mencari tau


"Halo om"


"Bisa om ketemu sama kamu Dion? ada sesuatu yang harus om bicarakan sama kamu"


"Bisa kok om, kapan om mau ketemu sama aku?"


"Gimana kalau besok pas jam makan siang di Cafe dekat kantor om?"


"Boleh om, sekalian ada hal penting yang harus aku sampaikan ke om"


"Oke, sampai ketemu besok ya"


"Ya om"


Papa Surya memutuskan sambungan teleponnya dan membuka salah satu laci di meja kerjanya yang selalu dia kunci, di sana berisikan foto pernikahan dirinya dan istri pertamanya. Serta ponsel dan dompet Ara yang dulu di kembalikan kepada dirinya Saat Ara pergi dari sana


Papa Surya mengeluarkan foto pernikahan dirinya dengan istri pertamanya dan memandangi foto tersebut


"Maaf ya sayang aku ternyata gagal menjadi ayah yang baik, hingga saat ini aku ga pernah tau di mana anak kita berada. Bahkan aku ga pernah mendengar kabar dari dia"


Papa Surya pun mulai mengeluarkan foto Ara saat dia masih bayi dari dalam laci


"Kenapa kamu ga pernah hubungi papa sama sekali? apa kamu ga pernah kangen ketemu sama papa? papa cuma bisa berharap di mana pun sekarang kamu berada kamu akan menemukan kebahagiaan, sampai kapan pun rumah ini akan selalu menjadi rumah kamu juga"


Papa Surya mengembalikan foto-foto tersebut ke dalam laci dan kembali ke dalam kamarnya, dia melihat mama Tania yang masih tertidur dengan pulas


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi di rumah ini? saya cuma berharap kalian ga melakukan sesuatu yang berlebihan"


Papa Surya mulai merebahkan tubuhnya dan mulai menuju ke alam mimpi, hingga pagi pun mulai menyapa papa Surya tetap terlihat biasa saja di mata Nana dan mama Tania. Dia benar-benar tak ingin menunjukkan sikap yang dapat membuat mereka curiga sebelum dia mengetahui semua yang telah terjadi, sedangkan di tempat yang berbeda Adit sudah tiba di kediaman keluarga Vira


"Selamat pagi" tersenyum ramah


"Astaga sekarang dia udah mulai jemput Ara ke kantor juga? apa ga bosen kalau harus lebih dari setengah hari mereka habiskan berdua"


Vira yang kebetulan membukakan pintu menatap Adit dengan perasaan bingung


"Pagi pak Adit"


"Saya mau jemput Ara ke kantor"


"Silahkan masuk pak"


Setelah mengantarkan Adit ke ruang tamu Vira pun mulai menuju ke arah kamar Ara


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk"


Vira membuka pintu kamar Ara dan memasukkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka


"Ara pangeran kamu udah datang tuh, katanya mau jemput kamu ke kantor"

__ADS_1


"Ada om Adit ya mami?" sumringah


"Ya sayang, ada di ruang tamu"


Tanpa banyak bicara Daffa segera berlari kecil ke arah ruang tamu dan menemui Adit


"Om Adit"


"Hai sayang" tersenyum


Daffa langsung mendudukkan dirinya tepat di samping Adit


"Mau jemput mama kerja ya?"


"Ya, kan saya harus jaga mama kamu dengan baik supaya ga dapat pukulan dari kamu"


Daffa pun tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Adit


"Kamu udah sarapan belum?"


"Udah dong om, aku selalu sarapan bareng oma di kamar"


"Kenapa mereka sarapan di dalam kamar? kayaknya aku udah datang beberapa kali ke sini dan belum pernah melihat sosok oma yang barusan Daffa bilang"


"Kenapa kamu sarapan bareng oma? kok ga bareng mama kamu sayang?"


"Oma kan lagi sakit, kalau aku ga sarapan sama oma nanti oma makan nya cuma sedikit"


"Sakit? apa sakit parah sampai harus makan di dalam kamar? sebaiknya nanti aku cari tau dari Ara, bagaimana pun juga keluarga ini sangat berjasa bagi Ara dan Daffa. Aku harus bisa membantu sebisa mungkin"


"Pagi kak"


"Sudah siap?"


"Ya kak" tersenyum


"Astaga boleh ga sih sekarang juga aku nikahi kamu? senyuman kamu benar-benar bikin aku jadi gila"


Mereka pun mulai menuju ke kantor dan di tengah perjalanan akhirnya Adit pun mengingat ucapan Daffa sebelumnya


"Tadi Daffa bilang dia sarapan sama oma di kamar"


"Ya kak"


"Ibu teman kamu itu ya?"


"Ya kak"


"Apa dia lagi sakit?"


"Ya kak, tante cuma bisa tiduran di atas kasur"


"Boleh ga aku bantu dia?"

__ADS_1


Ara pun langsung menatap haru ke arah Adit ada perasaan yang tak dapat dia ungkapkan


"Kenapa?"


"Tante adalah perempuan terbaik yang aku kenal kak, bahkan tante minta kak Gilang tetap di sana kalau aku belum siap kembali ke kota ini. Padahal saat itu tante sudah mulai drop" berkaca-kaca


"Nanti kamu tolong tanya ke pihak keluarga mereka, apa boleh aku bantu?"


"Kak Adit ga bercanda kan?"


Adit menoleh sekilas sambil tersenyum hangat dan meletakkan tangannya di atas kepala Ara dengan lembut


"Aku ga mungkin diam aja kalau orang itu adalah orang yang penting buat kamu"


"Makasih ya kak"


"Seluruh keluarga sudah berusaha untuk menolong tante tapi belum menemukan jalan keluarnya, semoga aja bantuan dari kak Adit bisa membuat keadaan tante lebih baik"


Siang itu papa Surya sudah duduk berhadapan dengan Dion, awalnya Dion benar-benar mengira bahwa papa Surya akan mendesak dia untuk menikahi Nana. Karena bagaimana pun juga dia sudah terlalu mengulur waktu


"Ada apa ya om mau ketemu sama aku?"


"Apa kamu dapat info tentang Ara?"


"Astaga aku benar-benar lupa kasih kabar tentang Ara ke om Surya"


"Maaf om aku lupa bilang kalau Ara sudah balik ke kota ini"


Papa Surya membulatkan ke dua bola matanya dengan sempurna, lalu mulai menunjukkan wajah sedih dan menundukkan kepalanya


"Ternyata kamu sudah pulang ke sini ya, tapi kamu sama sekali ga mau ketemu sama papa"


"Gimana keadaan dia sekarang?" lirih


"Dia baik-baik aja om dan sekarang dia udah punya anak"


Papa Surya menatap kembali ke arah Dion


"Jadi om sekarang sudah punya cucu?" dengan suara yang sedikit bergetar


Dion pun tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepalanya


"Apa anak itu ada karena...."


"Ya om" menjawab dengan cepat


Wajah papa Surya pun terlihat sedih


"Pasti kamu sudah menjalani hari yang sulit selama ini, maafin papa ya Ara papa benar-benar sudah gagal menjadi orang tua yang baik"


Dion pun mengetahui dengan pasti apa yang sedang di rasakan oleh papa Surya saat itu, karena terlihat jelas dari raut wajahnya. Dan dia pun merasakan hal yang sama dengan papa Surya


"Om ga usah khawatir om, Ara bilang dia bahagia karena kehadiran anak itu"

__ADS_1


Papa Surya pun hanya terdiam sambil tersenyum getir


"Maaf om ada sesuatu yang harus saya sampaikan tentang kejadian malam itu" dengan serius


__ADS_2