
Setelah Ara selesai membersihkan diri ternyata sarapan untuk mereka berdua pun sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan
"Kalau udah selesai ayo sarapan dulu"
"Wah keliatan enak kak" tersenyum
"Kalau kamu suka aku bisa masak untuk kamu setiap hari"
Ara mulai menatap Adit dengan tatapan curiga
"Kenapa ngeliatin begitu?"
"Kayaknya ga mungkin kalau kamu bisa masak ini sendiri, pasti kamu pesan di luar kan"
Adit pun tertawa kecil melihat ekspresi Ara pada saat itu
"Apa tampang aku ga meyakinkan untuk masak?"
"Ya secara seorang Raditya Mahardika masa bisa masak"
"Mama kan ga punya anak perempuan, ya terpaksa dulu aku sering temenin mama masak"
"Wah keren, aku aja ga bisa masak" tersenyum canggung
"Kamu ga perlu masak, kalau nanti kamu udah jadi istri aku biar aku yang masak untuk kamu" tersenyum dengan hangat
Dan ucapan dari Adit berhasil membuat wajah Ara menjadi merona
"Kayak kamu pasti lakuin itu aja kak"
"Kenapa ga?"
Ara pun menatap serius ke arah Adit
"Ya kamu kan atasan aku kak"
"Ga ada lagi kata atasan kalau kamu udah siap jadi istri aku"
"Apaan sih kak Adit kenapa bahas ke arah sana terus? kan jantung aku jadi ga jelas gini"
"Apa kamu ga mau kita menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius? apa kamu ga mau kasih Daffa keluarga yang utuh?"
"Aku bukan ga mau kak tapi terkadang aku masih ragu, apa aku pantas untuk kak Adit?"
Ara pun hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya
"Kenapa? apa karena aku udah terlalu dewasa buat kamu ya?"
__ADS_1
"Bukan gitu kak" menjawab dengan cepat
"Aku sadar kok aku ga semuda Dion, tapi aku bisa kok ikuti semua mau kamu"
"Masalahnya bukan ada di kamu kak"
Adit pun menatap Ara dengan serius sambil mengerutkan keningnya
"Tapi ada di aku kak" lirih
"Kamu mau bilang tentang masa lalu kamu dan Daffa lagi"
Ara pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai menatap Adit dengan serius
"Selain itu status sosial kita beda kak, apa aku pantas?"
Adit langsung bangkit dari duduknya dan berjongkok tepat di hadapan Ara
"Kamu tau? selain kamu ga ada perempuan lain yang pantas jadi pendamping hidup aku" dengan penuh keyakinan
Kedua bola mata Ara pun mulai berkaca-kaca karena merasa haru
"Tolong kasih aku kesempatan untuk jadi pendamping kamu, aku akan jaga kamu dan Daffa dengan baik selama jantung aku masih berdetak"
Ara pun hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya, sedangkan Adit benar-benar merasakan perasaan yang tak dapat dia ungkapkan lewat kata-kata. Adit segera bangkit dan memeluk tubuh Ara dengan erat
Saat mereka tiba di tempat parkir kantor Adit langsung menggenggam tangan Ara, dan Ara yang terkejut pun langsung berusaha menarik tangannya
"Kak kita lagi di kantor"
"Ya aku tau kok" dengan entengnya
"Kalau gitu lepasin tangan aku" menatap tajam
"Mulai sekarang aku ga akan lepas tangan kamu, aku mau semua orang tau kalau kamu udah jadi milik aku" dengan yakin
"Tapi kak...."
"Buat yang satu ini aku ga mau di tawar"
Adit menggengam kembali tangan Ara dan mulai membawa Ara masuk ke dalam gedung tersebut, seluruh para pekerja yang ada di sana hanya bisa terkejut melihat itu semua tanpa ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir mereka
Karena hal tersebut baru pertama kali terjadi di gedung itu, selama ini Adit tak pernah melakukan hal tersebut walaupun dengan para gadis yang sempat dekat dengan dirinya. Mereka selalu melihat para gadis tersebut yang mendekatkan diri kepada Adit
Saat tiba di lantai tujuan mereka Arman yang sudah tiba di sana hanya melihat sekilas ke arah mereka tanpa menunjukkan rasa terkejut sama sekali, tetapi tetap saja Ara merasa sedikit malu atas sikap Adit yang seperti itu
Seharian penuh Ara di minta untuk berada di dalam ruangan Adit, walaupun Ara sudah berusaha menolak tetapi Adit tetap bersikeras. Adit berkata bahwa dia tak mau sedikit pun jauh dari Ara
__ADS_1
Saat hampir jam makan siang Adit langsung membawa Ara keluar dari kantor dengan cara sama, Adit seakan benar-benar ingin menunjukkan ke seluruh dunia bahwa Ara sudah menjadi miliknya seorang
Setelah berdiskusi akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu rumah makan yang cukup ternama, setelah memarkirkan mobilnya Adit mulai menggenggam tangan Ara dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat itu
Saat mereka akan masuk ke sana mereka menghentikan langkah kaki mereka karena orang yang berada di hadapan mereka menatap mereka berdua dengan tajam, tatapan mata orang tersebut tertuju ke arah tangan Adit yang sedang menggenggam tangan Ara. Dan orang tersebut adalah Dion
Ara yang merasa tak enak hati berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Adit, walaupun hasilnya hanyalah sia-sia karena Adit semakin mengeratkan genggaman tangannya
"Lu ada di sini?" dengan santai
"Ya abis ketemu orang"
"Ya udah kalau gitu kita masuk dulu ya"
Dion hanya terdiam dan terus menatap ke arah tangan Adit, baru saja mereka akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat itu Dion pun memegang bahu Adit
"Gw mau ngomong sebentar sama lu" dengan nada dingin
"Kamu masuk duluan ya, aku ga lama kok" tersenyum menghadap ke arah Ara
"Tapi kak..."
Rasa khawatir Ara terlukis dengan jelas dari wajah Ara saat itu, karena Ara tau dengan pasti saat itu Dion dalam keadaan marah. Adit pun tersenyum dengan hangat dan meletakkan tangannya di ujung kepala Ara
"Ga apa, aku cuma sebentar kok"
Dengan berat hati Ara terpaksa mengikuti ucapan Adit dia pun segera masuk ke dalam tempat itu, sedangkan Adit dan Dion langsung sedikit menjauh dari tempat itu
"Sejak kapan?" melepaskan tatapan membunuh
"Belum lama dan baru hari ini dia bersedia jadi istri gw" dengan santai
"Lu udah tau kan semua masa lalu dia?"
Adit menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Kalau lu cuma mau mainin dia, lebih baik lu lepasin dia sekarang juga. Karena gw ga akan biarin ada orang yang sakiti dia lagi"
"Maaf gw ga bisa, karena sampai kapanpun gw ga akan pernah lepasin dia" dengan penuh keyakinan
"Seandainya aja dulu aku punya keberanian seperti Adit, pasti saat ini Ara sudah menjadi istri aku. Sekarang saatnya aku melepaskan Ara untuk selamanya"
Dion pun membuang nafasnya dengan kasar untuk mengusir segala beban yang berada di dalam hatinya
"Gw titip dia ya Dit tolong gantiin gw untuk jaga dia, dia perempuan yang baik" tersenyum getir
"Pasti.. Gw pasti akan jaga dia dengan baik" dengan penuh keyakinan
__ADS_1