
Ara sudah duduk berhadapan dengan papanya di dalam ruang meeting dan hanya berdua, sedangkan Adit tampak cemas di ruang cctv dan terus mengamati pergerakan Ara dan papanya di sana
"Gimana kabar kamu?"
"Baik pah" menundukkan kepalanya
"Apa kamu benci sama papa?"
Ara tetap setia menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya
"Kenapa selama ini kamu ga pernah pulang ke rumah?"
"Kan papa yang minta aku ga pernah kembali ke rumah itu lagi"
"Kenapa kamu ga mau melihat papa?"
"Aku cuma takut papa akan marah saat lihat wajah aku" lirih
Papa Surya secara spontan langsung berdiri begitu mendengar ucapan dari anaknya, sedangkan Adit yang memperhatikan lewat cctv sudah akan bangkit dari duduknya dan bersiap untuk menerobos ruangan tersebut. Tetapi Adit mengurungkan niatnya dan langsung mendudukkan kembali tubuhnya, karena yang papa Surya lakukan adalah memeluk tubuh Ara
"Ga perduli apapun yang pernah terjadi rumah itu akan selalu jadi rumah kamu, dan papa akan selamanya jadi papa kamu Ara" dengan lembut
Ara benar-benar tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya, hatinya benar-benar tersentuh akan sikap dan ucapan dari papa Surya. Papa Surya pun mulai melepaskan pelukannya dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah Ara
"Papa minta maaf sama kamu ya Ara karena selama ini papa terlalu egois, papa pasti sudah banyak menyakiti kamu"
"Papa minta maaf ke aku? papa ga perlu lakuin itu selama ini aku cuma butuh papa peluk aku itu aja udah cukup pah"
Ara pun mulai berkaca-kaca
"Papa janji papa akan cari keadilan untuk kamu"
"Apa maksud papa? apa jangan-jangan papa juga udah tau tentang malam itu?"
"Tolong pah jangan pernah cari tau tentang kejadian malam itu" memegang tangan papa Surya
"Tapi Ara..."
"Aku baik-baik aja kok pah" tersenyum
"Karena bagi aku papa percaya sama aku aja itu udah cukup pah, cuma itu yang aku harapkan dari papa"
"Apa kamu yakin?"
Ara hanya membalas dengan senyuman dan anggukkan kepalanya
"Apa kamu bisa maafin kesalahan papa selama ini?"
"Aku udah lupain semua itu pah" tersenyum dengan tulus
Papa Surya pun kembali mendudukkan tubuhnya dan terus menatap ke arah Ara. Lalu dia mengeluarkan sebuah ponsel dan kartu atm
"Ini punya kamu"
"Ga usah pah, aku sekarang udah kerja kok"
"Ini memang punya kamu, papa selalu isi saldo ke rekening kamu sama dengan yang papa kasih ke Nana"
__ADS_1
"Jadi selama ini papa ga pernah lupain aku ya? aku kira papa benar-benar udah membuang aku"
Sedangkan di ruangan cctv Adit merasa sedikit jengkel melihat papa Surya memberikan Ara sebuah kartu atm
"Kenapa dia harus kasih Ara kartu atm? apa dia kira aku ga sanggup untuk menghidupi Ara?"
Tanpa sadar Adit merasa sedikit resah melihat semua itu, untuk pertama kalinya Ara dan papa Surya banyak bercerita ini dan itu. Walaupun saat dahulu kala mereka tinggal bersama mereka tak pernah melakukan hal tersebut
"Kalau gitu papa pergi dulu ya"
Saat papa Surya bangkit dari duduknya Ara pun ikut bangkit dari duduknya, lalu papa Surya menatap ke arah Ara dengan penuh penyesalan
"Apa papa boleh peluk kamu sekali lagi?"
Ara pun menganggukkan kepalanya dan papa Surya mulai memeluk tubuh anaknya dengan penuh kehangatan
"Pintu rumah papa selamanya akan selalu terbuka untuk kamu" dengan lembut lalu mencium ujung kepala Ara
"Makasih pah"
"Kalau kamu ga keberatan, apa boleh papa ketemu sama cucu papa?"
Ara seperti menunjukkan wajah bingung untuk menjawab pertanyaan dari papanya
"Kalau kamu ga mau bawa dia ke rumah, apa boleh papa ketemu dia di luar?"
"Ya pah"
"Terima kasih karena kamu bisa menerima permintaan maaf papa, papa janji papa akan selalu ada untuk kamu"
Papa Surya pun meninggalkan gedung tersebut dan akan kembali ke kantor nya, sedangkan di dalam ruang kerjanya Adit sudah memasang wajah masam karena merasa cemburu melihat Ara di peluk laki-laki lain. Walaupun pria tersebut adalah orang tua kandung Ara sendiri
"Masuk"
"Ada masalah apa lagi nih? kenapa muka pak Adit begitu? jangan nanti saya yang kena getah nya lagi"
"Permisi pak saya mau mengantarkan laporan yang bapak minta" meletakkan sebuah berkas di atas meja
"Di mana dia?" menatap tajam
"Ada di meja kerjanya pak"
"Apa ga bisa dia masuk ke ruang kerja aku tanpa harus aku panggil dulu?"
"Kamu boleh keluar"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu pak"
Arman seperti mengerti apa yang ada di dalam benak Adit pada saat itu, dia pun langsung menuju ke arah meja Ara saat keluar dari ruangan Adit
"Ara tolong buatkan minuman untuk pak Adit"
"Baik pak"
Tanpa banyak berpikir Ara langsung menyiapkan minuman untuk Adit dan mengantarkan minuman tersebut ke ruangan Adit
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"Masuk"
Ara masuk ke dalam ruangan Adit dan langsung menuju ke meja kerja Adit lalu meletakkan minuman tersebut di atas meja kerja Adit, sedangkan Adit masih memasang wajah masam dan menatap tajam ke arah Ara
"Silahkan di minum pak" tersenyum
Adit tetap diam dan masih dengan ekspresi wajah yang sama
"Kak Adit kenapa mukanya asem banget ya?"
"Apa ada masalah kak?"
"Apa aku kurang buat kamu?"
"Maksud kamu apa ya kak?" mengerutkan keningnya
"Sini" melambaikan tangannya agar Ara mendekat ke arah Adit
Ara yang belum tau jalan pikiran Adit pun melangkahkan kakinya mendekat, lalu tiba-tiba saja Adit bangkit dari duduknya dan menepuk beberapa bagian tubuh Ara seperti sedang membersihkan debu
"Kamu ngapain sih kak?"
Adit hanya terdiam dan langsung memeluk tubuh Ara
"Kak kita lagi di kantor" berusaha meronta
"Aku ga akan izinkan bau laki-laki lain menempel di tubuh kamu walaupun itu orang itu papa kamu"
"Jangan bilang kalau kak Adit cemburu sama papa? tapi tunggu kak Adit tau dari mana tadi aku di peluk sama papa?"
Saat Adit melepaskan pelukannya dia merasa bingung karena saat itu Ara yang sedang memasang wajah masam
"Kenapa? apa aku ga boleh peluk pacar aku sendiri?"
"Kamu tau dari mana papa peluk aku?" menatap tajam
Adit pun menggaruk kepalanya walaupun tidak terasa gatal
"Maaf, tadi karena khawatir aku perhatikan kalian dari kamera cctv" tersenyum canggung
"Terus maksudnya kamu cemburu sama papa?"
"Ya kan papa kamu juga laki-laki"
"Terus kalau Daffa peluk aku apa kamu mau cemburu juga?" dengan nada suara yang dingin
"Daffa kan anak kita ya aku ga akan cemburu"
"Ya ampun kamu kayak anak remaja yang baru pacaran aja sih, gimana kalau orang lain tau tentang sikap kamu yang kayak gini?"
Ara pun langsung melepaskan tatapan membunuhnya, Adit hanya bisa menundukkan kepalanya layaknya seorang anak kecil yang sedang mendapatkan teguran keras dari orang tuanya. Ara membuang napasnya dengan kasar dan memegang kedua pipi Adit dengan lembut
"Kamu tau kak, aku sudah bersyukur dengan kehadiran kamu di hidup aku. Saat ini cuma ada kamu di dalam hati aku" dengan lembut
Adit langsung menarik tubuh Ara ke dalam pelukan hangat nya
"Maaf ya, aku juga ga tau kenapa aku bisa bersikap seperti itu?"
__ADS_1
"Sebenarnya aku cuma merasa takut saat ada orang lain yang berhasil membuat kamu nyaman dengan pelukan mereka, aku takut kalau suatu saat nanti kamu akan nekat pergi dan aku harus kehilangan kamu"