
Ara mulai merasa heran karena pada hari itu tak ada satu pun tugas yang di berikan Arman kepada dirinya, dia pun memilih untuk bertanya langsung kepada Adit karena dia yakin bila dia bertanya kepada Arman dia pasti tak akan mendapatkan jawaban apapun
Saat jam makan siang tiba Adit mulai meninggalkan ruangannya dan langsung menghampiri meja kerja Ara
"Ayo kita makan siang"
Ara pun bangkit dari duduknya dan mengikuti sang bos besar, Arman hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat cara Adit menatap Ara. Adit pun membawa Ara ke salah satu rumah makan mewah di kota itu
"Kamu mau pesan apa?"
"Saya ga pilih-pilih makanan pak, jadi samain aja sama bapak"
"Oke"
Adit pun memanggil pelayan dan memesan berbagai macam makanan yang ada di buku menu karena dia belum tau selera Ara
"Pak.."
"Ya"
"Kenapa harus pesan makanan sebanyak itu? kita kan cuma makan berdua"
"Ya sih, tapi saya belum tau makanan kesukaan kamu. Jadi saya pesan aja semua"
Pelayan yang berada di dekat mereka pun hanya bisa terdiam melihat pasangan tersebut
"Itu namanya kita buang-buang makanan pak, mana buku menu nya?"
Adit pun memberikan buku menu yang berada di tangannya, Ara akhirnya memesan seporsi makanan dan meminta Adit untuk memesan makanan yang akan dia makan
"Serasa di perhatiin sama istri kalau begini" tersenyum
"Sudah mas kita pesan itu aja" tersenyum ramah menghadap sang pelayan
"Baik bu, mohon tunggu sebentar"
Pelayan tersebut pun pergi meninggalkan mereka, dan saat Ara mengahap ke arah Adit dia pun melihat Adit yang sudah mulai memasang wajah masam
"Ada apa ya pak?"
"Kamu panggil pelayan tadi mas, tapi kamu masih aja panggil saya bapak walaupun kita lagi di luar kantor"
"Ga pantas banget sih lihat pak Adit dengan ekspresi kayak gitu"
"Ya bapak kan atasan saya, jadi sudah sewajarnya saya panggil bapak"
"Selain atasan kamu saya juga orang yang lagi berusaha memenangkan hati kamu" dengan entengnya
__ADS_1
Jantung Ara pun langsung berdetak dengan sangat cepat
"Bisa copot nih jantung aku kalau pak Adit begini terus"
"Terus gimana?"
"Apanya ya pak?"
"Ya kamu jadi mau panggil saya apa? oke kalau di kantor kamu boleh panggil saya bapak, tapi saya ga mau kamu panggil saya bapak saat kita di luar kantor"
"Jadi saya harus panggil bapak apa?" menatap dengan serius
"Kalau kamu panggil saya sayang saya ga keberatan, atau calon suami itu lebih bagus lagi. Supaya ga ada laki-laki yang berani dekat sama kamu lagi"
Ara pun menatap Adit dengan tatapan mata yang aneh
"Kenapa?" mengerutkan keningnya
"Pak kita ini sudah sama-sama dewasa masa mau pakai panggilan kayak gitu"
"Ya udah kalau begitu kamu panggil saya kak, dan itu ga bisa di tawar lagi"
Ara pun hanya bisa mengalah dan menjawab dengan anggukkan kepalanya, mereka pun mulai menyantap makanan yang telah mereka pesan tanpa membahas apapun. Saat mereka sudah selesai makan Adit pun mulai memasang wajah serius
"Sekarang saatnya saya cerita ke kamu semua tentang saya, saya akan mulai dari hal-hal buruk yang sudah saya lakukan. Saya ga mau kamu tau dari orang lain dan salah menilai saya"
"Apa pak Adit bisa jujur untuk semua hal? termasuk tentang dia yang selalu berganti pasangan"
Saat itu perasaan Ara bercampur aduk menjadi satu, di satu sisi dia sudah mulai berharap dengan Adit tetapi di sisi lain dia juga takut akan kebenaran rumor tentang Adit
"Saya anak tunggal dari keluarga Mahardika, saya harus jujur sama kamu saya suka minum minuman keras dengan teman-teman saya"
Wajah Ara pun mulai terlihat sedikit kecewa
"Apa sebaiknya saya ga usah lanjutkan?"
"Kenapa pak?"
"Saya takut lihat ekspresi wajah kamu"
"Saya ga apa kok" dingin
"Saat ini umur saya sudah kepala tiga"
"Siapa yang perduli umur kamu? saya mau tau tentang semua keburukan kamu" menatap tajam
"Selain suka minum-minum, apalagi yang sudah bapak lakukan di sana?"
__ADS_1
"Ga ada kok, saya selalu ke sana sendiri ga pernah di temani perempuan mana pun" menjawab dengan cepat
"Tapi rumor yang saya dengar tentang bapak ga seperti itu"
Ara kembali memanggil Adit dengan sebutan bapak, tetapi Adit tak mau mempermasalahkan hal itu terlebih dahulu. Karena dia paham betul arah dari ucapan Ara
"Kamu tau kan kalau saya anak tunggal, dulu mama minta saya untuk cepat menikah karena ingin cepat menggendong cucu. Jadi saya mendekati beberapa perempuan supaya saya punya pasangan di depan mama saya, jadi mama berhenti minta saya untuk cepat menikah"
"Cuma itu pak?"
"Iya, saya bahkan ga pernah berciuman dengan semua perempuan itu"
"Cuma kamu perempuan pertama yang berhasil menyentuh saya"
Ara menunjukkan bahwa dia tak percaya dengan ucapan Adit lewat tatapan matanya, Adit pun mengerti perasaan Ara saat itu dia pun membuang napasnya dengan kasar
"Kamu bisa cari artikel tentang saya, pasti kamu akan temukan siapa saja perempuan yang pernah dekat sama saya. Tapi itu semua terjadi enam tahun yang lalu"
Ara pun menatap serius ke arah Adit seolah dia menanti ucapan Adit selanjutnya
"Enam tahun belakangan ini saya ga pernah lagi dekat dengan perempuan mana pun" dengan yakin
"Kenapa pak?"
"Masa saya harus bilang kalau saya mati-matian cari kamu, perempuan yang mengambil malam pertama saya lalu mencampakkan saya begitu aja"
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa bapak bisa berubah? kenapa keluarga bapak berhenti memaksa bapak untuk menikah?"
"Karena saya sudah jelaskan ke mereka, saya hanya akan menikah dengan perempuan yang berhasil menyentuh hati saya. Sekarang saya sudah ketemu sama perempuan itu dan dia ada di hadapan saya"
Entah menghilang kemana rasa takut dan kesal Ara pada saat itu, yang tersisa hanya rasa malu dan tersipu
"Apa bapak ga akan menyesal?"
"Saya pasti akan menyesal"
"Kan dia udah tau akan menyesal kalau pilih aku, kenapa juga masih harus lakuin ini semua?"
Ara pun menundukkan kepalanya sedangkan Adit tersenyum tipis melihat Ara yang seperti itu
"Saya akan menyesal kalau ga berhasil mendapatkan kamu, saya juga akan menyesal jika saya ga berhasil menjadi papanya Daffa"
Ara pun kembali mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Adit, sedangkan Adit melepaskan senyuman yang hangat
"Jadi tolong jangan meminta saya menunggu jawaban dari kamu terlalu lama, karena sekarang saya sudah yakin dengan pilihan hati saya"
__ADS_1
"Apa ini saatnya aku berani untuk melangkah dari masa lalu aku, selain Fafa butuh sosok ayah aku juga butuh seseorang yang bisa terima keadaan aku apa adanya"