
Detik demi detik terus berlalu dan malam pun semakin larut, wanita yang di pernah berniat menjebak Dion masih setia duduk di sampingnya
"Kemana dia? menurut info dari Adit dia selalu ada di sini akhir pekan. Udah jam segini kok belum datang juga? apa mungkin dia ga datang malam ini?"
Dion mengangkat gelasnya dan mulai meminum minuman yang berada di dalam gelasnya, tiba-tiba saja wanita yang berada di sampingnya langsung berbisik kepada Dion
"Orangnya baru datang tuh dia duduk di meja belakang"
Senyuman tipis pun langsung terlihat di bibir Dion
"Aku mau liat sejauh apa kamu bertindak? kamu ga bisa lari dari aku lagi. Setidaknya aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku perbuat"
Dion pun bangkit dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, Marisa yang melihat Dion pun langsung memperhatikan Dion dengan seksama. Marisa semakin terkejut saat melihat wanita yang duduk di samping Dion memasukkan sesuatu ke gelas Dion
"Ni orang bodoh atau gimana sih? masa ga belajar dari kesalahan dia sebelumnya?"
Tak lama kemudian Dion pun mulai kembali ke tempat duduknya dan menghabiskan minuman yang berada di dalam gelasnya, dan Dion pun mulai memainkan akting nya secara baik karena dia benar-benar terlihat secara perlahan tak sadarkan diri
Wanita yang duduk di samping Dion mengelus rambut Dion secara lembut lalu mencium ujung kepala Dion
"Kamu ngapain?" berbisik
"Dia lagi perhatiin kita, kalau kamu mau rencana kamu sukses jangan bergerak" berbisik
Wanita tersebut memanggil seorang pelayan dan meminta bill pesanan mereka, dan wanita tersebut pun langsung menyelesaikan pembayaran. Sedangkan Marisa tak bisa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun dari mereka berdua
"Masa aku harus tolong dia lagi? nanti kalau hal itu terjadi lagi gimana? tapi aku kan ga mungkin biarin kak Dion di manfaatkan perempuan gatal itu"
Wanita tersebut melakukan peran nya dengan sangat baik, dia pun mulai membantu Dion untuk bangkit dan memapah tubuh Dion keluar dari tempat itu. Marisa masih terus berusaha memperhatikan mereka tetapi rasa ragu masih menghampiri hatinya, wanita tersebut membawa Dion ke arah mobilnya
"Dia ga keluar juga, sekarang gimana?"
"Masuk aja ke mobil saya"
Wanita tersebut yang sudah mendapatkan sebagian bayaran sesuai perjanjian pun mengikuti perintah Dion, wanita tersebut sudah meletakkan Dion di bangku sebelah dan dia sudah bersiap untuk naik ke mobil. Tiba-tiba saja tangan wanita tersebut di pegang oleh Marisa dengan cukup kuat
"Kenapa kamu ga kapok juga deketin suami saya?"
__ADS_1
"Kena juga, hampir aja gw ga dapat sebagian dari bayaran gw"
"Ish, kenapa harus ketemu kamu lagi sih?"
"Pergi dari sini sekarang juga" menatap tajam
"Oke" menyerahkan kunci mobil Dion
Wanita tersebut meninggalkan Marisa dengan berpura-pura marah, Marisa pun langsung masuk ke dalam mobil Dion dan menatap ke arah Dion yang sudah berpura-pura tak sadarkan diri
"Kenapa kamu lakuin kesalahan yang sama sih kak? masa aku harus bantu kamu terus? aku bukan ga mau langsung bantu kamu tadi kak, tapi aku takut kejadian itu keulang lagi" dengan suara pelan tetapi tetap terdengar sambil terus menatap ke arah Dion
"Jadi bener kan kalau ternyata kamu perempuan itu, tapi kenapa kamu bersikap dingin kalau ketemu aku?"
Marisa pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai menghidupkan mobil Dion dan melajukan mobil tersebut ke arah apartemen Dion, sesampainya di sana Marisa membantu memapah tubuh Dion masuk ke dalam dan terdengar beberapa para penjaga menyapa Marisa dengan cara yang terdengar hormat
"Selamat malam bu"
"Selamat malam, seperti kemarin hapus semua rekaman cctv. Jangan sampai dia tau saya yang bawa dia pulang" dengan suara pelan
"Oh jadi ini alasannya aku ga bisa cari tau tentang kamu malam itu, jadi semakin menarik"
Marisa kembali memapah Dion ke arah apartemen Dion, dan sesampainya di sana Marisa membawa Dion masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh Dion di atas sofa. Dia hanya tak ingin kejadian yang sebelumnya akan terulang kembali, Marisa pun sudah berniat akan segera melarikan diri dari tempat itu dan tiba-tiba saja Dion menangkap tangan Marisa masih dengan mata yang tertutup
"Jangan pergi" dengan suara yang di buat berat seolah sedang mabuk berat
"Aku bukan kak Ara jadi tolong lepasin tangan aku" dengan nada suara yang sinis
"Kok dia kenal Ara juga, aku harus tau semuanya hari ini"
"Aku minta kamu jangan pergi, karena kamu harus jelasin semuanya hari ini"
Tiba-tiba saja Dion membuka ke dua matanya sambil tersenyum ke arah Marisa, dan Marisa pun terkejut bukan main hingga rasanya jantung nya akan terlepas dari tempatnya
"Akh!! kamu pura-pura ya kak?"
Marisa segera melepaskan tangannya secara paksa dan berlari kecil ke arah pintu, tetapi apa daya kedua tangan Dion sudah berada di pintu dan menahan pintu terlebih dahulu
__ADS_1
"Mau lari ke mana?"
Marisa mengangkat kepalanya hingga kedua mata mereka saling bertemu dan jarak wajah mereka sangat dekat
"Kamu mau apa kak?"
"Duduk di sana, jelasin semuanya ke aku" dengan tegas
Dengan berat hati Marisa terpaksa melangkahkan kakinya ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana, perasaan Marisa saat itu sudah bercampur aduk. Ada perasaan takut, malu dan marah semua menjadi satu. Dion pun ikut mendudukkan tubuhnya di hadapan Marisa
"Kamu kenal saya?"
Maris pun menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Kamu kenal Ara juga"
Marisa kembali menganggukkan kepalanya
"Kenapa kamu bisa masuk apartemen saya?" menatap tajam
Marisa hanya bisa menundukkan kepalanya sambil mengunci rapat mulutnya
"Saya kasih kamu dua pilihan, mau jawab pertanyaan saya atau mau saya cium?"
Mendengar hal tersebut Marisa langsung mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Dion
"Bukannya jawab malam melotot, ya udah berarti kamu pilih aku cium ya" tersenyum
Dion pun segera bangkit dari duduknya dan hendak mendekat
"Akh!! jangan mendekat, aku punya saham di apartemen ini"
"Ya saya tau dari data yang di kirim Adit kamu bukan dari keluarga sembarangan"
Dion mendudukkan kembali tubuhnya dan menatap serius ke arah Marisa
"Sekarang pertanyaan yang terpenting, kenapa kamu pergi malam itu?"
__ADS_1
Marisa pun mengeraskan rahangnya dan ke dua matanya langsung berkaca-kaca, Dion bisa merasakan perasaan marah dan kecewa dari tatapan mata Marisa saat itu. Cukup lama mereka berdua hanya saling diam dan Marisa terus menatap Dion dengan tajam sambil menahan air matanya
"Aku harus bilang apa ke kamu? aku harus bilang kalau kamu sudah mengambil kesucian aku dalam keadaan tidak sadar dan aku juga ga menolak saat itu. Selain aku berjanji untuk membuat kalian berdua bahagia, aku juga sudah jatuh hati sama kamu dari waktu itu kak. Tapi yang paling menyakitkan kamu melakukan itu ke aku dengan membayangkan wanita lain bukan aku kak"