
Hati Adit bergetar dengan hebat karena di selimuti rasa takut saat melihat rekaman cctv yang menunjukkan bahwa Ara dengan langkah kaki yang cepat mengarah ke bagian paling atas gedung tersebut, Adit pun langsung berlari dengan sangat cepat menuju ke atas gedung tersebut. Sedangkan para pengawal yang berada di dekatnya langsung mengikuti langkah kaki Adit
"Aku mohon sama kamu Ara jangan lakukan hal bodoh, aku janji aku akan ikuti semua keinginan kamu walaupun kamu minta aku untuk menghilang selamanya dari pandangan kamu. Aku janji aku akan lakukan itu"
Adit pun berlari semakin cepat hingga dia tiba di atas gedung tersebut dengan nafas yang memburu, Adit pun segera membuka pintu yang ada di sana dan dia melihat Ara sedang berdiri di bagian paling ujung sambil merentangkan kedua tangannya
"Ara!!"
Adit berteriak sekuat yang dia bisa membuat Ara yang sedang memejamkan kedua bola matanya pun membuka matanya secara perlahan, dengan langkah yang bergetar Adit berusaha mendekat ke arah Ara. Adit benar-benar merasakan langkah kakinya pada saat itu sangat berat, perasaan takut benar-benar sudah berhasil menguasai hatinya
"Aku mohon Ara jangan lakuin itu, kamu jangan berbuat sesuatu yang akan kamu sesali" dengan suara yang bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca
"Aku mohon Ara kamu boleh hukum aku dengan cara apapun tapi jangan dengan cara yang seperti ini, aku yakin aku ga akan pernah sanggup melihat kamu melakukan hal itu Ara"
Ara pun membalikkan tubuhnya dan melihat Adit serta beberapa para pengawal yang sudah berada di belakang Adit
"Suruh mereka semua pergi dari sini kak" dengan nada suara yang dingin
Adit yang tak mau Ara semakin berbuat nekat segera memberikan kode agar semua para pengawal yang berada di sana pergi dari tempat itu, para pengawal Adit pun hanya bisa mengikuti perintah dari sang bos besar. Sedangkan para pengawal yang lain sudah mulai mempersiapkan alat pertolongan di bagian bawah gedung itu
"Aku mohon Ara kamu jangan gegabah, aku janji aku akan lakukan apapun yang kamu minta. Kamu harus ingat ada anak kita yang masih membutuhkan kamu"
Ara hanya terdiam sambil menatap tajam ke arah Adit
"Maaf bukan anak kita tapi anak kamu, Daffa ga butuh papa yang ga bertanggung jawab kayak aku. Tapi dia masih terlalu kecil Ara dia pasti butuh kamu" mengulurkan tangannya sambil berusaha berjalan mendekat ke arah Ara
"Aku minta maaf sama kamu Ara, aku janji aku akan lakukan apapun yang kamu minta. Tapi aku mohon menjauh dari sana Ara"
"Apa kamu serius kak? kamu akan kasih apapun yang aku minta"
"Aku janji, sekali pun kamu minta aku untuk pergi dan menjauh aku pasti lakuin itu Ara. Aku janji aku ga akan pernah muncul lagi di hadapan kamu selamanya" lirih
Air mata Adit pun mengalir dengan sendirinya
__ADS_1
"Apa kamu sadar kamu sudah berbuat salah kak?"
"Ya aku tau aku salah"
"Apa aku bisa pegang omongan kamu kak?" menatap dengan serius
"Aku janji, apapun permintaan kamu pasti aku ikuti"
"Ini adalah hal yang paling aku takuti, kamu pasti akan marah dan minta pergi dari aku. Tapi aku janji akan lepas kamu Ara, aku mohon jangan lakukan hal bodoh"
"Apa kamu akan mencintai kami selamanya?"
"Aku janji aku akan pergi dan menghilang dari kehi..."
Adit pun langsung menghentikan ucapannya karena dia baru tersadar bahwa permintaan Ara benar-benar berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam pikirannya
"Kamu bilang aku boleh minta apa aja" tersenyum dengan hangat
FLASH BACK
Sedangkan Dion merasakan perasaan yang lega setelah mengetahui Ara sudah berada di tangan orang yang tepat, dia pun segera pergi meninggalkan Adit setelah mengatakan bahwa dia sudah ikhlas untuk melepaskan Ara
Dion yang baru saja berada di dalam mobilnya dan melihat ponselnya ternyata ada sebuah panggilan telpon yang tak terjawab dari Ara, dia pun segera menghubungi Ara kembali yang saat itu sudah berada di atap gedung tersebut
"Tadi kamu telpon ya?"
Ara hanya terdiam dan secara samar Dion bisa mendengar suara tangisan Ara
"Kamu kenapa Ara?" khawatir
"Apa yang aku dengar tadi benar kan kak?" dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
"Astaga jadi Ara dengar semuanya"
__ADS_1
"Masalah itu kamu..."
"Kak Adit laki-laki malam itu kan kak"
"Ya, tapi kenapa kamu sedih?"
"Jadi semua ini cuma karena perasaan bersalah dan adanya Daffa aja kak, dia ga perlu lakuin sampai sejauh ini kak. Aku juga punya perasaan kak dan ternyata semuanya cuma kebohongan"
"Kenapa Ara bilang begitu? apa mungkin dia salah paham"
"Maksud kamu apa Ara?"
"Pernikahan aku ternyata ga lebih dari sebuah kebohongan aja"
"Maksud kamu apa Ara?"
"Aku udah dengar semuanya kak, kak Adit bilang dia menikahi aku cuma karena perasaan bersalah dan karena ada Daffa aja"
"Apa kamu dengar ucapan Adit setelah itu?" tersenyum tipis
"Ga ada yang perlu aku dengar lagi kak, bagi aku semua itu sudah jelas"
"Ya udah kamu dengerin aku dulu ya, setelah itu terserah kamu mau ambil keputusan apapun aku pasti akan selalu mendukung kamu" dengan penuh keyakinan
Ara pun hanya bisa terdiam sambil berusaha mengatur nafasnya
"Dia bilang kalau cuma untuk bertanggung jawab karena kejadian malam itu atau masalah Daffa cukup dengan uang, tapi dia menikahi kamu karena kamu perempuan aneh pertama yang berhasil menyentuh hati dia"
"Kamu pasti bohong kan kak, kamu cuma mau bikin aku tenang aja"
"Aku orang yang selalu berharap kamu bisa kembali ke sisi aku lagi, jadi apa untungnya aku berbohong masalah ini ke kamu?"
Setelah mendengar ucapan dari Dion hati kecil Ara pun ingin mengetahui sendiri setulus apa hati Adit untuk dirinya, dia pun mulai melangkahkan kakinya ke arah ujung. Dan kini tubuh Ara hanya terhalang oleh pembatas atap gedung tersebut, Ara pun mulai memejamkan matanya dan merentangkan ke dua tangannya
__ADS_1
"Saat ini aku harus bisa meyakinkan hati aku kak, cuma dengan cara ini aku bisa yakin dengan perasaan kamu ke aku. Aku ga mau pernikahan kita cuma di landasi perasaan bersalah kamu aja kak, dan aku benar-benar berharap kamu ga mengecewakan aku kak"
FLASH OFF