Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Anak Dan Calon Istri


__ADS_3

Setelah mengirimkan supir untuk menjemput Ara dan cucu pertama keluarga Mahardika mamanya Adit pun langsung menghubungi Adit


"Ya mah"


"Kamu lagi di mana?"


"Aku baru aja mau jalan makan malam sama Adel mah"


"Adel?" mengerutkan keningnya


"Ya mah, ada apa ya mah?"


"Dasar anak ga berguna, kamu biarin anak kamu makan cuma berdua sama ibunya dan kamu makan dengan perempuan lain"


"Jawab pertanyaan mama Raditya, kenapa kamu bisa berduaan sama Adel?" penuh penekanan


Adit paham betul bila mamanya sudah menyebutkan nama lengkapnya berarti saat itu mamanya sudah marah terhadap dirinya


"Ceritanya panjang mah, nanti aku jelasin ke mama ya"


"Terus sekarang Adel ada di mana?"


"Adel lagi ke toilet mah"


"Ya sudah selamat menikmati makan malam kamu bersama Adel, kalau mama sih mau makan malam sama Ara dan cucu pertama mama"


"Mama pasti bercanda kan?"


"Apa ada untungnya mama bercanda masalah kayak begini ke kamu? mama lagi suruh supir untuk jemput mereka berdua"


"Ya udah aku pulang sekarang juga mah" Adit langsung memutuskan sambungan teleponnya


Baru saja Adit akan keluar dari galeri tersebut Adel pun sudah berada tak jauh dari Adit


"Kak mau kemana?"


"Maaf ya aku ada urusan penting jadi aku harus pergi sekarang"


"Loh kita ga jadi makan malam kak?"


"Maaf ya aku juga ga bisa antar kamu pulang, aku duluan ya"


Tanpa menunggu persetujuan dari Adel terlebih dahulu Adit segera pergi meninggalkan Adel begitu saja, Adel hanya bisa melihat kepergian Adit yang tergesa-gesa


"Kenapa sih kak? kenapa dari dulu kak Adit ga pernah bisa hargai perasaan aku?"


Dan akhirnya Ara serta anaknya tiba di sebuah rumah yang benar-benar mewah, bahkan kediaman orang tua Adit jauh lebih mewah dari pada kediaman Adit. Ara pun di antar oleh sang supir hingga ke pintu utama rumah mewah tersebut


"Ya ampun aku merasa semakin kecil di hadapan mereka semua, apa sebaiknya aku pulang aja ya? gimana kalau nanti Fafa bikin kesalahan di hadapan mereka?"

__ADS_1


"Sayang kita pulang aja ya"


Daffa pun hanya bisa menjawab dengan anggukkan kepalanya, walaupun jauh di dalam hatinya sedang sedikit kesal karena dia telah melewatkan makanan kesukaan nya. Baru saja Ara berniat pergi tiba-tiba saja suara yang dia kenal pun sudah terdengar


"Aduh sayang kenapa masih di luar? ayo masuk"


"Terlambat, ya udah lah aku ikutin aja keinginan mamanya pak Adit"


"Ya tante"


Kedua bola mata mamanya Adit langsung tertuju ke arah pria kecil yang berdiri tepat di samping Ara


"Astaga Tuhan ga perlu di periksa lagi aku yakin anak ini pasti cucu aku, anak ini benar-benar duplikat dari Adit kecil"


"Nama kamu siapa sayang?"


"Nama aku Daffa Sanjaya"


"Kamu bisa panggil aku oma ya sayang"


Daffa pun langsung menoleh ke arah Ara tanda menunggu perintah dari Ara, dan Ara pun menjawab dengan anggukkan kepalanya


"Ya oma"


Daffa mencium telapak tangan mamanya Adit seperti yang selalu di ajarkan oleh Ara selama ini bila bertemu dengan orang yang lebih tua


"Terima kasih tante"


"Ayo masuk dulu ya"


Mereka semua berkumpul di ruang tamu sejenak sambil mengobrol ringan dan sudah pasti kedua orang tua Adit tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Daffa, dan saat semua orang sudah bersiap untuk pindah ke ruang makan Adit pun tiba di sana


"Malam semua"


"Tumben kamu datang?" tersenyum mengejek


Sedangkan Ara hanya bisa menundukkan kepalanya karena melihat kehadiran Adit di sana


"Kok pak Adit juga ada di sini sih? kan aku jadi serba salah kalau begini"


Mamanya Adit pun memperkenalkan Daffa kepada Adit, hati Adit terasa sakit saat melihat Daffa saat itu. Karena ingin sekali dia memeluk erat Daffa pada saat itu tetapi dia tak dapat melakukan hal tersebut, sedangkan Daffa menatap sinis ke arah Adit


Mereka pun memulai makan malam bersama dengan penuh kehangatan, kehangatan sebuah keluarga yang sangat di rindukan oleh seorang Mutiara Sanjaya


"Dulu aku ga pernah bisa makan dengan tenang seperti ini, bahkan mama suruh aku untuk ga makan bersama. Mama selalu bilang kalau aku menghilangkan ***** makan mereka semua"


Selesai makan malam mereka semua kembali ke ruang tamu dan kembali berbincang ringan hingga sang bocah tampan terlihat mengantuk


"Aduh kamu sudah ngantuk ya sayang"

__ADS_1


"Ya oma"


"Ya udah Adit kamu antar Ara dan anaknya pulang ya"


"Ya iyalah lah mah harus aku yang harus antar mereka pulang, masa anak dan calon istri aku mau di antar pulang sama supir"


"Ga usah tante nanti merepotkan pak Adit, biar saya pesan taksi online aja"


Adit menatap tajam ke arah Ara membuat Ara langsung menundukkan kepalanya, tanpa banyak bicara Adit pun langsung bangkit dari duduknya


"Ayo aku antar pulang, kasian Daffa sudah ngantuk"


"Ya sayang Adit aja yang antar, tante takut kalian ga aman kalau naik taksi online" tersenyum


Saat Ara bangkit dari duduknya Daffa pun ikut bangkit dari duduknya dan mulai mencium telapak tangan kedua orang tua Adit


"Fafa pulang dulu ya"


"Tapi kamu harus janji kamu harus datang lagi ya ke rumah oma"


"Ya oma"


Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara Adit dan Ara, sedangkan Daffa sudah tertidur di bangku belakang. Adit benar-benar bingung harus memulai percakapan dari mana, hingga mereka pun tiba di depan kediaman Vira


"Terima kasih pak sudah mengantarkan kami pulang" dengan sopan


Ara pun mulai turun dari dalam mobil dan ketika Ara akan membuka pintu belakang untuk menggendong Daffa, ternyata Adit sudah berada di sampingnya dan langsung memegang tangan Ara


"Saya ga suka dengan sikap kamu" dengan tegas


"Maaf kalau saya ada melakukan kesalahan pak"


"Tolong berhenti bersikap seperti ini"


"Saya rasa saya sudah bersikap dengan sopan kepada bapak"


Adit pun tak lagi dapat menahan perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, Adit menarik tubuh Ara agar masuk ke dalam pelukannya


"Apa sedikit aja kamu ga bisa mengerti perasaan saya ke kamu?"


Ara mendorong paksa tubuh Adit agar dia bisa terlepas dari pelukan Adit


"Perasaan yang seperti apa ya pak? apa bapak pikir saya ini hanya perempuan bodoh? apa yang terjadi tadi siang di depan mata saya sudah jelas pak" menatap tajam


"Apa ini artinya dia cemburu sama Adel? apa ini juga artinya dia juga ada hati sama aku?"


"Terima kasih ya" tersenyum


Ara hanya bisa mengerutkan keningnya sambil menatap tajam

__ADS_1


__ADS_2