
Tanpa Ara sadari Ara melayangkan tangannya dengan sangat kuat ke arah pipi mama Tania, hatinya terbakar emosi saat kata-kata yang terlontar dari bibirnya merendahkan anaknya. Seorang ibu tak akan pernah mau anaknya di hina atau di sakiti oleh orang lain
Mama Tania pun hingga terjatuh duduk di atas lantai sedangkan Nana yang melihat mamanya di perlakukan begitu langsung membantu mamanya untuk bangkit sambil berteriak
"Hei!! anak seperti apa kamu berani menyakiti orang tua?"
Dua orang pengawal yang di kirimkan Adit pun langsung berlari mendekat ke arah Ara dan Daffa, Ara seolah mendapatkan kembali kesadarannya melihat Nana yang membantu mamanya untuk berdiri dan Ara melihat darah segar sudah berada di ujung bibir mama Tania
"Astaga apa yang udah aku lakuin?"
Melihat mamanya tak berdaya Daffa pun mulai menunjukkan peran sebagai sang pelindung
"Saya bukan anak haram karena saya punya papa namanya papa Adit, pantas aja mama pukul kalian karena mulut kalian terlalu kotor" dengan tegas
"Kamu anak kecil tau apa? kamu terlahir hasil perbuatan kotor mama kamu itu"
"Cukup mah, dia cuma anak kecil"
"Pantas aja dia ga sopan berani ikut bicara saat orang tua sedang bicara karena dia tak punya didikan dari seorang ayah" tersenyum merendahkan
"Aku bilang cukup mah!!" menatap tajam
"Kenapa kamu mau pukul mama lagi? kamu mau jadi anak durhaka!!"
"Aku ga mungkin bersikap ga sopan kalau mama ga menyakiti anak aku" dengan tegas
Mama Tania sudah mengangkat tangannya untuk membalas tamparan yang sudah dia terima, dua pengawal sudah berada tak jauh dari mereka dengan perasaan cemas. Mereka takut akan jadi amukan sang bos besar bila tangan mama Tania berhasil menyentuh Ara
Sesaat sebelum tangan mama Tania berhasil menyentuh Ara tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang kekar memegang tangan mama Tania
"Apa kalian ga malu di liatin semua orang?"
Mama Tania dan Nana menjadi terkejut karena orang tersebut adalah Dion
"Kak kok kamu ada di sini?"
Dion pun mulai melepaskan tangan mama Tania
"Baru selesai pertemuan di dekat sini" dengan dingin
"Sial!! kenapa harus ada kak Dion di sini sih? sebaiknya aku gunakan kesempatan ini buat jatuhin nama kak Ara"
"Kak kamu liat bibir mama, tadi kami cuma sapa kak Ara secara baik dan dia pukul mama sampai seperti itu" memasang wajah bersedih
__ADS_1
"Ya Dion kamu liat bibir tante sampai berdarah"
"Apa kalian pikir mata saya buta?"
Dua orang pengawal yang di kirimkan Adit tau benar bahwa Dion adalah sahabat Adit, merasa keadaan sudah aman mereka langsung membuat daerah sekeliling menjadi steril agar tak berita yang tersebar dari kejadian tersebut
"Apa ada yang mau kamu jelasin Ara?"
"Jelasin apa? jelasin kalau mereka bilang anak aku anak haram"
"Ga ada kak aku memang tampar mama Tania dengan sengaja, kalau ga ada urusan lain aku permisi dulu"
"Kenapa kamu ga mau balas mereka Ara?"
"Aku bisa kok jelasin semua kejadiannya"
Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang terlihat muda dan cantik berada di dekat mereka, wanita tersebut melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah mereka dan di dampingi oleh seorang sekretaris. Setelah berada di dekat mereka wanita tersebut tersenyum dengan ramah ke arah Ara
Semua orang yang berada di sana menatap bingung ke arah wanita tersebut karena tak ada satu pun dari mereka yang mengenal wanita tersebut, hanya Dion yang menatap wanita tersebut dengan tajam
"Dia kan perempuan yang waktu itu mabuk di depan apartemen aku, mau ngapain dia sekarang?"
"Sayang kamu main sama tante itu sebentar ya" berjongkok di hadapan Daffa
"Kamu mau tau kan?" menatap ke arah Dion
Dion hanya terdiam sambil menatap dengan serius
"Dia tadi tampar ibu itu sampai jatuh di lantai" dengan entengnya
"Tuh kan kak aku ga bohong"
Nana menjawab dengan antusias karena merasa ada yang membela dirinya, sedangkan yang lainnya hanya bisa terdiam dan mama Tania pun tersenyum puas
"Tapi saya rasa harusnya sebuah tamparan aja ga akan cukup, karena ibu itu telah menghina anaknya" menunjuk ke arah Ara
Wanita yang di anggap Dion aneh tersebut berhasil membuat Nana dan mama Tania merasa terbang berada di atas awan, lalu dalam sekejap menjatuhkan mereka dengan sangat keras
"Kamu!!"
"Kenapa? saya kan cuma bilang kejadian yang sebenarnya" dengan entengnya sambil tersenyum
Dion menatap tajam ke arah Nana
__ADS_1
"Kak aku bisa jelasin semuanya kok" memegang tangan Dion
"Ayo pulang jangan bikin malu lagi" dengan tegas sambil menatap tajam
"Sial!! siapa sih perempuan ini? karena dia kak Dion jadi marah sama aku"
Dion pun membawa Nana pergi dari tempat itu sedangkan mama Tania pasti mengikuti dari belakang, wanita tersebut langsung mengahap ke arah Ara sambil tersenyum hangat
"Kamu baik-baik aja?"
"Terima kasih"
"Kenapa kamu sekarang jadi begini? kamu itu orang baik aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan kamu suatu saat nanti"
"Ga masalah ga perlu bilang terima kasih, ayo saya antar ke tempat anak kamu"
Setelah menghubungi sekretaris pribadinya wanita tersebut mengajak Ara untuk menjemput Daffa di sana, dan wanita tersebut mengeluarkan sebuah kartu nama lalu memberikan kepada Ara
"Kalau ke depannya nanti kamu ada masalah apapun kamu bisa hubungi saya"
"Siapa perempuan ini? kenapa dia bisa sebaik ini sama aku"
"Terima kasih tapi saya ga mau merepotkan orang lain"
"Ga mungkin kak, apapun masalah yang kamu hadapi aku ga akan merasa di repotkan. karena kamu dan kak Dion adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa mama saya"
Saat mereka tiba di sana ternyata sang nyonya besar keluarga Mahardika sudah berada tepat di samping Daffa dengan wajah penuh amarah, ternyata saat nyonya besar keluarga Mahardika tiba dia melihat Daffa sedang bersama orang asing walaupun salah satu pengawal yang di kirimkan Adit berada di dekat sana
Nyonya besar keluarga Mahardika pun segera menghampiri Daffa dan bertanya di mana Ara berada, Daffa seorang anak kecil yang masih merasa kesal langsung menceritakan semuanya dengan jujur. Dan sudah pasti hal tersebut membuat sang nyonya besar menjadi marah besar
"Tante udah sampai?"
"Di mana mereka?"
"Pasti Daffa udah cerita, tapi kenapa jadi tante lebih kelihatan marah dari pada aku ya?"
"Sudah pergi kok tante, dan semua masalahnya juga udah selesai" tersenyum canggung
Daffa yang melihat mamanya kewalahan langsung mengeluarkan senyuman terbaik yang dia punya untuk meluluhkan hati sang nyonya besar
"Oma katanya mau beliin aku mainan"
"Oh ya sayang oma lupa, ayo jalan"
__ADS_1
Melihat senyum Daffa amarah sang nyonya besar langsung lenyap dari dalam hatinya