Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Peringatan Keras


__ADS_3

Papa Surya dan istrinya hanya bisa kembali ke kediamannya membawa kekecewaan yang mendalam, sedangkan Nana begitu tau orang tuanya kembali langsung keluar dari dalam kamarnya untuk mengetahui keputusan yang di ambil oleh keluarga besar Dion


"Gimana mah, pah? kak Dion mau kan maafin aku?" berurai air mata


Mama Tania merasa hatinya hancur berkeping-keping melihat kondisi anak kesayangan nya seperti itu sedangkan papa Surya sudah mengeraskan rahangnya, papa Surya benar-benar merasa malu dengan perbuatan Nana yang sangat memalukan


"Dion minta agar kalian bercerai sayang" dengan suara yang bergetar menahan air matanya


"Ga mah" Nana langsung memegang kedua tangan mama Tania


"Mama ga boleh biarin kak Dion mah, aku salah mah aku janji ga akan pernah lakuin itu lagi mah. Tolong bujuk kak Dion mah"


"Cukup Nana" dengan tegas


"Tolong pah aku ga mau kak Dion sampai ceraikan aku pah"


"Apa kamu masih belum sadar kesalahan yang sudah kamu perbuat?"


"Iya pah aku salah, aku ga akn pernah lakuin itu lagi pah"


"Dion sudah ambil keputusan untuk menceraikan kamu, kamu harus bisa menghargai keputusan Dion"


"Ga!! aku ga mau!! kak Dion ga bisa lakuin itu ke aku!! aku sudah melakukan banyak hal untuk bisa mendapatkan kak Dion!!"


Nana berteriak tanpa sadar apa yang telah dia ucapkan


"Apa maksud ucapan Nana? dia sudah melakukan apa untuk bisa mendapatkan Dion? atau jangan-jangan jauh sebelum ini semua. Apa berarti kejadian yang menimpa Ara juga ada hubungannya dengan Nana?"


Melihat suaminya menatap Nana dengan penuh rasa curiga, Mama Tania segera melepaskan sebuah tamparan yang sangat keras ke pipi Nana agar Nana dapat tersadar. Karena mama Tania jika di biarkan Nana akan mengungkap semua kejadian di masa lalu di hadapan suaminya


"Sadar Nana!! apa dengan kami berbuat seperti ini Dion akan kembali ke sisi kamu?"


"Mah...."


"Sekarang juga masuk ke dalam kamar kamu" menatap tajam


Seperti orang yang tak lagi memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupan Nana hanya bisa mengikuti kata-kata mama Tania, dia pun kembali ke dalam kamarnya dengan air mata yang mengalir dengan derasnya. Sedangkan papa Surya semakin curiga dengan sikap panik istrinya


Sedangkan di tempat yang berbeda Ara berusaha menghilang dari pandangan Adit dan dia pun mulai menghubungi seseorang, dan orang yang dia hubungi adalah Dion


"Halo"

__ADS_1


"Kak ini aku Ara"


"Ya Tuhan setelah sekian lama akhirnya kamu hubungi nomor ini lagi Ara"


"Apa kamu mau membahas masalah hubungan aku sama Nana?"


"Ga kok kak, aku akan hargai apapun keputusan yang Dion ambil"


"Terima kasih ya, kamu ada perlu apa hubungi aku?"


"Gimana ya kak ngomong ke kakak nya?"


"Kita kan sekarang berteman kalau ada masalah kamu bisa bilang kok aku" dengan lembut


"Ternyata kamu ga pernah berubah ya kak, kamu masih tetap kak Dion yang sama"


"Aku mau minta tanya sesuatu sama kak Dion"


"Apa nih? kalau aku tau pasti aku jawab"


"Apa kak Dion udah lama dekat sama kak Adit?"


"Ga lama dari kamu pergi, memang ada apa?"


"Kamu lagi cari tau tentang tunangan kamu sama aku ya?" tertawa pelan


"Ya mau gimana lagi? aku kan ga dekat sama teman kak Adit yang lain. Sebenernya aneh juga sih, masa aku tanya tentang tunangan aku sama mantan tunangan aku"


"Maaf ya kak"


"Ga masalah kok, apa yang kamu mau tau tentang Adit?"


"Sebenarnya aku ngerasa kadang kak Adit suka bersikap agak aneh kak ke aku"


"Maksud kamu?"


"Gimana ya kak bilangnya? aku kadang ngerasa kak Adit kayak punya salah sama aku"


Degh.. Dion merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya mendengar ucapan dari Ara


"Kenapa kamu bisa bilang begitu?"

__ADS_1


Ara pun terpaksa menceritakan semua kejadian aneh yang dia rasakan dari sikap Adit, dia hanya berharap dengan dia berkata jujur Dion akan bersedia bercerita


"Jujur aku ga terlalu tau tentang masalah pribadi Adit, tapi aku coba cari tau ya supaya kamu ga penasaran"


"Kalau kakak dengar sesuatu, kakak harus janji kasih tau ke aku ya"


"Iya aku janji"


"Makasih ya kak"


"Oke" Dion pun memutuskan sambungan teleponnya


"Adit pernah bilang dia di tinggal perempuan yang ga dia kenal setelah mereka berhubungan badan, apa mungkin perempuan itu Ara? ga aku ga boleh ambil kesimpulan sekarang aku harus cari tau dulu"


Sedangkan Adit dan kedua orang tuanya sudah mengatakan kepada Ara akan melamar Ara ke keluarga Sanjaya secara resmi, Ara ingin sekali melarang hal tersebut untuk sementara waktu mengingat keadaan Nana saat ini. Tetapi apa daya mereka terlihat sangat mengharapkan Ara segera bergabung dengan keluarga besar mereka


Ara pun menghubungi papanya untuk mengabarkan tentang berita tersebut, pada awalnya papa Surya sangat terkejut karena anak tunggal keluarga Mahardika akan melamar putrinya. Dan setelah persiapan yang matang akhirnya keluarga Mahardika pun mendatangi kediaman keluarga Sanjaya


Semua sudah berkumpul di ruang tamu menyambut kehadiran keluarga Mahardika, bagaimana tidak karena keluarga Mahardika adalah orang yang sangat terpandang di kota itu. Dan kini mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu, bahkan Nana pun terpaksa hadir di tengah mereka karena paksaan dari papanya


Mereka pun berbincang ringan untuk melepaskan ketegangan, hingga sang kepala keluarga Mahardika pun mulai membuka suara


"Maaf kalau kehadiran kami mengganggu waktu bapak dan keluarga"


"Kami merasa tersanjung keluarga Mahardika mau mampir di gubuk kami"


Terdengar tawa kecil dari semua orang


"Kedatangan kami ke sini sebenarnya untuk melamar putri bapak yang bernama Mutiara Sanjaya"


"Kalau saya terserah anaknya aja pak" tersenyum ramah


"Gimana Ara? kamu bersedia kan jadi istri anak kami?"


Ara pun hanya tersipu sambil menundukkan kepalanya, semua orang yang hadir di sana merasakan kebahagiaan. Bahkan Daffa pun tersenyum bahagia karena akhirnya dia akan menemukan sosok seorang ayah, tetapi ada satu orang yang merasa sangat terluka hatinya melihat itu semua dan orang tersebut adalah Nana


"Apa kamu sengaja lakuin ini kak? kamu mau tunjukkan ke aku kalau hidup kamu selalu lebih beruntung dari aku?"


Adit ternyata sedari tadi memperhatikan Nana yang selalu melirik sekilas ke arah Ara dengan tatapan sinis dan penuh kebencian, setelah semuanya selesai berbincang dan makan siang Nana pun berpamitan untuk kembali ke dalam kamarnya. Dan tiba-tiba saja Adit juga permisi untuk pergi ke kamar kecil, saat Adit mendahului langkah kaki Nana dia pun mengeluarkan suara dengan pelan


"Ini peringatan keras dari saya, Ara sekarang sudah menjadi calon istri saya jadi jangan pernah coba menyakiti dia seperti kesalahan di masa lalu kamu. Atau saya ga akan bersikap segan lagi dan membalas kamu dengan cara saya" penuh penekanan

__ADS_1


Adit pun meninggalkan Nana begitu saja seperti tak melakukan apapun, sedangkan Nana merasa seluruh tubuhnya bergetar karena perasaan marah dan takut yang bercampur menjadi satu


__ADS_2