
Di tempat yang berbeda ada Dion yang sedang menyaksikan siaran tersebut, dia hanya bisa tersenyum tipis. Dia benar-benar sudah bisa melepaskan Ara sepenuhnya
"Semoga kamu bahagia ya, aku yakin Adit bisa menjaga kamu dengan baik. Aku cuma bisa berharap suatu saat nanti akan ada wanita yang bisa mencintai aku setulus kamu dulu mencintai aku Ara"
Ternyata di kediaman Vira saat itu Daffa juga sedang menyaksikan siaran tersebut di temani oleh Merry yang kini sedang hamil muda, Merry pun langsung merasa cemas melihat Daffa yang tak mengeluarkan ekspresi apapun
"Kamu baik-baik aja sayang?" mengelus rambut Daffa
"Om Adit bohong ga sih mami?" menatap kosong ke arah Merry
"Apa mungkin Daffa belum siap terima kenyataan yang ada?"
"Apa kamu ga senang sayang?"
"Aku cuma takut om Adit bohong mami, om Adit bilang dia akan melakukan apapun supaya bisa menikah dengan mama tanpa ada masalah. Apa om Adit jadi bohong untuk itu?"
"Sebelum kamu pikirin yang lain kamu jawab dulu pertanyaan dari mami, seandainya itu ga bohong apa kamu senang?"
Daffa pun langsung menundukkan kepalanya
"Dari awal aku berharap om Adit itu memang papa kandung aku mami, om Adit baik banget sama aku tapi aku juga jadi takut mami"
"Takut apa sayang?"
"Selama ini om Adit ga pernah cari aku sama mama, apa suatu saat nanti om Adit akan buang aku lagi?" menatap sendu
Akhirnya Merry pun tersenyum tipis lalu dia pun mengelus rambut Daffa dengan lembut
"Pasti ada alasannya sendiri om Adit selama ini ga bisa cari kamu dan mama kamu sayang, yang terpenting sekarang kamu bahagia ga kalau ternyata papa kandung kamu itu om Adit?"
"Aku ga tau mami aku bingung" menundukkan kepalanya
Merry pun tertawa lepas sedangkan dua orang yang berada tak jauh dari sana sedang diam membeku, orang tersebut adalah Ara dan Adit yang sengaja menunggu jawaban dari Daffa
"Kalian udah denger sendiri kan? sekarang aku serahin urusan ini ke kalian ya"
Merry pun mulai bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka agar mereka bisa berbicara dari hati ke hari, Ara dan Adit pun mendudukkan tubuhnya di dekat Daffa sedangkan Daffa masih setia menundukkan kepalanya
__ADS_1
"Mama minta maaf sama kamu sayang"
Daffa hanya bisa terdiam dan mulai mengangkat wajahnya menatap ke arah Ara
"Dulu mama yang bawa kamu jauh dari papa kamu, bukan papa kamu yang ga cari kita"
"Apa om Adit beneran papa kandung aku?"
Ara menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Jadi aku boleh bilang ke semua orang kalau aku sekarang punya papa?"
Ara pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
"Kamu memang harus lakuin itu, biar semua orang tau kalau kamu itu anak saya" memegang ujung kepala Daffa
Daffa saat itu menepis tangan Adit dari kepalanya tetapi dapat terlihat dari jelas bahwa saat wajah Daffa menunjukkan perasaan bahagia, karena bagaimana pun sudah terlalu lama anak tersebut mendambakan sosok ayah kandungnya. Ara dan Adit pun dapat bernapas dengan lega karena buah hati mereka bisa menerima keadaan yang ada
Sedangkan di tempat yang berbeda ada mama Tania yang baru saja kembali ke kediaman mereka, dan langsung menuju ke arah kamar Nana yang sudah menjadi porak poranda. Mama Tania pun segera menghampiri Nana yang sedang berjongkok sambil terus mengeluarkan kata-kata kasar untuk Ara
"Sayang kamu kenapa?"
Mama tania pun menjadi tak tega melihat keadaan anaknya menjadi terpuruk seperti itu, mama Tania langsung memeluk tubuh Nana dengan erat
"Kamu ga boleh begini sayang, mama yakin suatu saat nanti kamu pasti akan dapatkan laki-laki yang seribu kali lebih baik dari Dion"
"Aku ga perduli lagi dengan kak Dion mah!! aku ga bisa terima kalau kak Ara bisa bahagia sedangkan nasib aku kayak gini mah!!"
"Ini semua karena Ara!! dia kan tau kalau Nana sedang terpukul, kenapa dia harus pamerkan kebahagian dia secara berlebihan?"
"Kamu tenang dulu ya sayang, kamu harus ingat kamu itu cantik bahkan kamu jauh lebih cantik dari Ara"
"Aku cantik mah?"
"Ya sayang kamu itu anak mama yang paling cantik"
"Ya kalau aku ga bahagia maka kak Ara juga ga boleh bahagia"
__ADS_1
"Mama pasti bantu aku kan?"
"Mama pasti akan bantu kamu sayang, mama akan lakukan apapun untuk kamu"
"Kalau dulu aku berhasil dapatkan kak Dion, maka sekarang aku juga harus berhasil dapatkan calon suami kak Ara. Setidaknya aku harus berhasil memisahkan mereka"
"Tapi kamu mau apa sayang?"
"Kalau hidup aku ga bahagia maka kak Ara juga harus merasakan hal sama mah, kak Ara ga berhak untuk bahagia mah"
"Maksud kamu apa sayang?" menatap dengan serius
"Aku ga perduli mah, aku akan lakukan apapun untuk merusak kebahagiaan kak Ara. Ini semua karena dia mah!!"
Nana pun menangis dengan hebatnya
"Seandainya dia ga pernah kembali ke sini pasti kak Dion udah jadi suami aku mah!! dia orang yang udah merusak kebahagiaan aku mah!!"
Mama Tania pun benar-benar tak tega melihat keadaan Nana dia pun menarik Nana jatuh ke dalam pelukannya
"Kamu tenang dulu sayang, kamu ga boleh begini"
"Aku harus balas kak Ara mah, kak Dion pasti lakuin itu semua karena kak Ara mah" dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
"Ya aku sudah cari tau, dan orang yang memberikan perintah untuk memutar video itu adalah Dion. Dan pasti semua itu dia lakukan untuk Ara, ini semua karena Ara!!"
Mama Tania melepaskan pelukannya dan menatap serius ke arah Nana
"Sekarang apa yang mau kamu lakukan?"
"Apapun mah, aku akan lakukan apapun untuk merusak kebahagiaan kak Ara"
"Nana kamu harus dengar apa kata mama, sekarang kamu tenang kan diri kamu dulu. Mama janji mama akan membantu kamu"
"Mama janji?"
"Ya mama pasti akan bantu kamu" bersungguh-sungguh
__ADS_1
"Anak pembawa sial itu ga berhak bahagia di atas penderitaan anak aku, dia juga harus merasakan sakit yang Nana rasakan"
Hari demi hari pun terus berlalu dan kini rencana pernikahan Adit dan Ara sudah berada di depan mata, mama Tania dan Nana mulai memainkan peran mereka sebagai anggota keluarga yang baik. Mereka seolah menunjukkan bahwa mereka benar-benar sudah berubah, Ara pun menyambut baik sikap mereka berdua dan sudah pasti Adit tetap tak bisa percaya sepenuhnya kepada mereka berdua