Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Mulai Dari Hal Kecil


__ADS_3

Di dalam kamarnya Ara dan Adit sedang larut di dalam pikirannya masing-masing, Ara seakan masih tidak dapat percaya dengan semua perlakuan Adit pada malam itu. Sedangkan Adit sedang memikirkan seribu cara untuk mulai mendapatkan hati Ara, dan sudah pasti dengan status sebagai seorang Raditya Mahardika bukan sebagai pria di malam itu


Sedangkan di tempat yang berbeda Remon dan Brian telah sepakat untuk mengakhiri pertemuan mereka karena kondisi Dion yang sudah tak dapat di kendalikan lagi, akhirnya Remon memutuskan untuk mengantarkan Dion kembali ke apartemennya


Dengan bersusah payah akhirnya Remon pun berhasil membawa Dion ke dalam apartemennya, Remon pun membawa Dion masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan tubuh Dion ke atas tempat tidur


"Akh!! tumben banget ini anak nyusahin orang lain, biasanya kita udah khawatir dia tetap ga mau di antar pulang" bergumam


Saat Remon akan keluar dari dalam kamar Dion mata Remon tertuju ke arah sebuah foto yang cukup besar dan terpasang di dinding kamar Dion


"Gila!! ini kan perempuan yang tadi di bawa Adit, apa jangan-jangan perempuan itu tunangan Dion yang selama ini menghilang? astaga gw jadi takut pertemanan kami akan hancur saat Dion tau laki-laki pada malam itu adalah Adit"


Rasanya ingin sekali Remon berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan rasa khawatir di dalam hatinya, sebelum Remon keluar dari dalam kamar Dion dia sempat melihat keadaan Dion yang sudah mabuk berat dan terus memanggil nama Ara


"Gw ga tau harus berpihak ke siapa? tapi semua bisa terjadi karena gw yang ngerjain Adit. Gw cuma bisa berharap saat nanti anak ini tau tentang kebenarannya, dia bisa memaafkan gw sama Adit. Gimana juga gw tau seberapa sulit anak ini untuk move on"


Begitu sudah di dalam mobilnya Remon segera menghubungi Adit


"Halo"


"Keterlaluan lu Dit!!"


"Kenapa lu?" mengerutkan keningnya


"Perempuan itu tunangan Dion yang hilang itu kan!!"


"Ya" dengan santai


"Sakit lu"


"Ga, gw ngerasa gw benar kok. Ok malam itu kesalahan lu dan gw, tapi saat itu Dion yang lepas dia, Dion yang ga mau dengar penjelasan dari Ara"


"Gimana kalau Dion sampai tau kalau ternyata lu laki-laki malam itu?"


"Suatu saat nanti gw akan buka semuanya, tapi untuk saat ini gw harus membuat perempuan itu terima gw dulu. Baru gw akan jujur dan bertanggung jawab tentang malam itu" dengan yakin


"Harus nya lu jujur dari sekarang Dit, jangan sampai dia kecewa sama lu"


"Ga bisa Mon, gw udah tanya ke dia kalau seandainya dia ketemu sama laki-laki di malam itu. Dia bilang yang akan dia lakukan meminta laki-laki itu untuk pergi dari kehidupan dia sejauh mungkin"


"Akh sama kalian berdua sama-sama sakit!! masa ada perempuan yang milih begitu, seharusnya dia minta pertanggung jawaban dari lu"


"Itu yang membuat dia semakin spesial di mata gw Mon, dan lu ga akan pernah ngerti" tersenyum puas

__ADS_1


"Terserah kalian lah, yang pasti gw berharap semoga kejadian itu ga akan membuat lu dan Dion berselisih"


"Suatu saat nanti gw akan ngomong jujur sama dia, dan gw juga pasti minta maaf ke dia. Jadi lu tenang aja"


"Ya udah gw mau balik dulu"


"Ok" Adit pun memutuskan sambungan teleponnya


"Maaf ya Dion gw ga bermaksud berbohong sama lu karena gw juga baru tau semuanya, tapi lu juga ga bisa salahin gw sepenuhnya. Karena lu yang melepas dia saat itu, sedangkan gw masih terus berusaha mencari dia sampai saat ini. Hingga takdir berkata bahwa wanita yang membuat hati gw tertarik dan wanita pada malam itu adalah orang yang sama"


Saat pagi menyapa Ara sudah terjaga dari tidurnya dia pun segera bangkit dari tempat tidur dan akan menuju ke kamar mandi, tetapi tiba-tiba saja pintu kamarnya di ketuk


"Siapa ya? jangan-jangan pak Adit"


Ara tetap diam di tempat tanpa mengeluarkan suara sama sekali, karena bayangan tentang Adit sosok yang mesum belum bisa hilang dari ingatan Ara


"Selamat pagi mbak, saya di minta pak Adit mengantarkan pakaian ganti untuk mbak" sambil terus mengetuk pintu kamar


Ara merasa malu karena telah berprasangka buruk terhadap Adit, dia pun segera membukakan pintu kamar


"Selamat pagi mbak" tersenyum ramah


"Pagi"


"Terima kasih ya"


"Kata pak Adit kalau mbak sudah selesai di tunggu di ruang makan untuk sarapan"


"Ya"


"Kalau begitu saya permisi dulu mbak" tersenyum ramah


Ara pun hanya membalas dengan senyuman dan pelayan tersebut meninggalkan Ara, Ara pun segera ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai Ara segera menuju ke lantai bawah dan sempat berpapasan dengan beberapa pelayan yang bersikap dengan sangat ramah kepada dirinya


Saat Ara tiba di ruang makan Adit pun tersenyum dengan puas melihat penampilan Ara yang sangat berbeda dengan biasanya, sedangkan Ara merasa sedikit canggung dengan pakaian yang dia gunakan


"Selamat pagi pak"


"Pagi, ayo duduk kita sarapan dulu baru pergi ke kantor" tersenyum


Ara pun mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang tersedia


"Kamu cantik hari ini" dengan lembut

__ADS_1


Blush... Ara pun langsung merona mendengar ucapan dari Adit


"Maaf pak apa nanti saya bisa izin dulu pulang ke rumah?"


"Ya sudah nanti sebelum kita ke kantor kita mampir ke rumah kamu, apa ada yang mau kamu ambil?"


"Sepertinya saya mau ganti baju dulu pak"


Adit langsung menatap serius ke arah Ara


"Kenapa?"


"Saya cuma karyawan biasa pak, saya rasa saya kurang pantas pakai pakaian seperti ini"


"Siapa yang bilang kamu karyawan biasa?"


"Saya memang cuma karyawan biasa pak, tapi baju ini kelihatan terlalu mahal"


"Mulai sekarang kamu cuma boleh datang ke kantor dengan pakaian seperti itu, karena status bukan cuma sebagai seorang pekerja"


"Kalau aku harus beli baju kayak gini, aku harus beli pakai apa? gaji aku satu bulan pun mungkin cuma dapat satu baju aja"


Adit menyadari bila wajah Ara menunjukkan sedang bingung


"Kenapa lagi?"


"Saya ga bisa pak"


"Ya kenapa?"


Ara hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya, Adit pun tersenyum dan memegang ujung kepala dengan lembut


"Ga usah pikirin sesuatu yang ga penting"


"Enak aja dia bilang ga penting, kalau aku harus pakai baju kayak gini tiap hari buat apa aku kerja? kalau cuma buat beli baju"


"Pakaian yang akan kamu pakai sudah di kirim ke alamat rumah kamu"


"Tolong pak saya ga bisa terima barang mewah seperti ini secara berlebihan" dengan cepat


"Saya kan cuma mau belajar untuk mulai bertanggung jawab kamu, dan saya akan mulai dari hal yang kecil"


"Selama ini ga pernah ada satu orang pun yang mengucapkan kata-kata seperti itu ke aku dan Daffa, kami hanya selalu bergantung dengan keluarga besar Vira" berkaca-kaca

__ADS_1


__ADS_2