Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Mulai Menyelidiki


__ADS_3

"Apa ada hal lain yang kamu mau tau tentang saya?"


"Bapak bilang walaupun bapak sering minum-minum keras bapak ga pernah di temani perempuan mana pun"


"Memang kenyataannya begitu, saya bisa ajak kamu ke sana biar kamu tau. Tapi dengan catatan saat Dion ga ada di sana"


"Apa sih? kenapa juga jadi bawa kak Dion?"


"Walaupun sekarang kita belum ada status apapun, tapi saya takut ga bisa nahan rasa cemburu saya kalau kamu terlalu dekat sama Dion"


"Saya sudah ga ada hubungan apapun sama kak Dion pak"


"Terus apa yang tadi mau kamu tanya?"


"Apa sampai saat ini bapak ga pernah berhubungan intim dengan perempuan manapun"


Wajah Adit dalam sekejap berubah menjadi tegang


"Kamu perempuan itu, tapi maaf saya belum bisa jujur untuk saat ini. Saya akan bicara jujur saat kamu sudah sah menjadi milik saya, dengan cara itu kamu ga akan mudah untuk pergi meninggalkan saya"


Adit sedang berusaha menahan mulutnya untuk berbicara sedangkan Ara malah beranggapan bahwa Adit berencana untuk berbohong


"Kalau bapak ga mau bilang ga masalah kok pak"


Adit pun membuang napasnya dengan kasar lalu menatap serius ke arah Ara


"Saya akan jawab jujur pertanyaan kamu, tapi kamu juga harus janji satu hal sama saya"


"Janji apa pak?"


"Jangan tanya siapa dia atau apapun tentang itu"


"Kayaknya pak Adit mau melupakan kejadian itu"


"Kalau bapak keberatan ga usah di jawab pak" tersenyum canggung


"Gimana kamu mau percaya sama saya kalau saya ga mau jujur sama kamu, saya pernah sekali melakukan hubungan intim"


Ara pun menatap Adit dengan serius


"Dan saya berani bersumpah demi apapun saya hanya melakukan itu satu kali" dengan yakin


Ara benar-benar tak percaya Adit berani mengungkapkan bagian terdalam di dalam kehidupannya, dan akhirnya Ara pun menampilkan senyuman di bibirnya


"Kenapa?" mengerutkan keningnya


"Ga kok pak"


"Kamu ga percaya?"


"Yah kalau ingat pak Adit yang dulu sih saya pasti ga akan percaya"


"Kamu beneran ga percaya sama saya?"

__ADS_1


"Tapi saya yang sekarang percaya sama bapak"


"Kenapa?"


"Rahasia" tersenyum


"Karena kalau bapak beneran orang mesum, saya yakin bapak akan ambil kesempatan di saat saya mabuk"


"Kita balik ke kantor ya"


"Ya pak"


"Katanya kamu percaya sama saya, kenapa masih panggil saya bapak?"


"Oke saya ralat, iya kak" tersenyum


"Kamu memang si perempuan aneh, kamu benar-benar berhasil membuat saya jatuh hati"


Mereka pun kembali ke kantor dan saat mobil Adit baru saja berhenti di tempat parkir Ara langsung teringat akan hal yang akan dia tanyakan kepada Adit


"Oh ya kak, apa kamu minta pak Arman buat ga kasih saya tugas apapun?"


"Ya lah, masa dia berani kasih perempuan yang lagi di incar sama bos nya kerjaan" dengan entengnya


"Sesuai dugaan aku"


Ara pun membuang napasnya dengan kasar


"Berarti mulai besok saya sudah bisa mengundurkan diri ya kak"


"Kenapa?"


"Ya ga perlu sampai mengundurkan diri juga dong, nanti saya ga bisa lihat kamu seharian"


"Kalau gitu saya masih bisa mengerjakan sesuatu kan?"


"Ya udah terserah kamu aja"


Adit pun terpaksa mengalah dari pada dia harus seharian tak dapat melihat wajah Ara


"Walaupun kita punya hubungan tetap aja saat di kantor saya seorang pegawai"


Adit pun langsung membulatkan ke dua bola matanya dengan sempurna


"Kenapa kak?"


"Jadi mulai sekarang kamu sudah anggap kita punya hubungan?"


"Menurut kamu gimana kak?"


"Akh.. Jangan kasih jawaban yang ambigu gitu dong, saya udah hampir gila mikirin kamu. Jawab yang serius mulai sekarang kita punya hubungan apa ga?"


Ara hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan kepalanya, dan Adit pun langsung menarik tubuh Ara ke dalam pelukannya lalu mencium ujung kepala Ara dengan lembut

__ADS_1


"Terima kasih ya, saya janji saya berusaha untuk membahagiakan kamu dan Daffa"


Ara hanya bisa membenamkan wajahnya ke dada bidang Adit, sudah terlalu lama Ara merindukan sebuah pelukan hangat seperti itu. Mereka masuk ke dalam gedung itu dan Adit memegang tangan Ara saat mereka berada di dalam lift


"Pak kita lagi di kantor" berusaha menarik tangannya dan Adit semakin mengeratkan genggaman tangannya


"Sekarang kan ga ada orang, seandainya kamu kasih izin saya akan gandeng tangan kamu di mana pun. Supaya semua orang tau kalau Mutiara Sanjaya cuma milik Raditya Mahardika" tersenyum hangat


Blush... Wajah Ara pun menjadi merona, dia hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Saat pintu lift terbuka di lantai yang di tuju Ara segera menarik tangannya dengan kuat hingga terlepas dari genggaman Adit, dan mereka pun langsung ke tempat mereka masing-masing


Baru saja Adit mendudukkan dirinya di bangku kebesarannya ponselnya pun berdering, dan panggilan tersebut berasal dari Dion


"Halo"


"Dit ada kabar ga?"


"Tentang apa?"


"Kok tentang apa sih? kan gw minta tolong sama lu cari tau orang yang jebak Ara malam itu"


"Astaga gw sibuk ngejar Ara jadi lupa tentang itu"


"Masih di selidiki, kalau ada info terbaru pasti gw kasih kabar ke lu"


"Bisa ga lu minta orang itu buat selidiki Nana? gw curiga sama dia"


"Nana bukannya dia tunangan Dion yang sekarang ya, berarti kan dia adiknya Ara"


"Kenapa lu bisa curiga sama tunangan lu sendiri?"


"Kemarin waktu gw ketemu dia dan bilang Ara udah pulang dia keliatan agak aneh"


"Oke, gw akan minta orang itu selidiki tunangan lu juga"


"Makasih ya Dit"


"Oke" Adit pun memutuskan sambungan teleponnya


Adit pun terlihat mengeraskan rahangnya


"Saya ga perduli siapapun orang yang telah melakukan hal itu ke Ara akan mendapatkan pembalasan dari saya, sekali pun orang tersebut adalah papa nya Ara saya tetap akan membalas rasa sakit yang sudah di rasakan Ara dan anak saya selama ini"


Adit segera mengirimkan pesan kepada Arman untuk memberikan Ara sesuatu untuk di kerjakan, dan memberikan Arman perintah untuk menyelidiki orang yang telah menjebak Ara. Tak lupa juga untuk menyelidiki Nana sesuai arahan dari Dion


Hari itu Ara merasa bebas karena Adit sudah memberikan perintah kepada Arman untuk memberikan Ara tugas dengan catatan bukan tugas-tugas yang berat, setidaknya ada sesuatu yang bisa dia kerjakan dari pada tidak mengerjakan apapun


Saat pulang kantor tiba sudah pasti Adit langsung bergegas meninggalkan ruangannya, karena dia merasa harus mengantarkan Ara pulang ke rumah


"Saya antar pulang ya" tersenyum


Arman menatap dari meja kerjanya sambil tersenyum tipis membuat Ara jadi salah tingkah


"Biar saya pulang sendiri aja pak" dengan suara pelan

__ADS_1


"Ga boleh" menjawab dengan cepat dan penuh penekanan


Ara pun hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan sang bos besar yang kini telah menjalin hubungan dengan dirinya, dan Adit pun tersenyum puas karena Ara mengikuti keinginannya


__ADS_2