Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Deal


__ADS_3

"Kesepakatan apa?"


"Mulai sekarang kamu harus belajar menjadi anak kecil dan anggap saya seperti papa kandung kamu sendiri, dan saya yang akan menggantikan posisi kamu untuk menjaga mama kamu dengan baik"


Daffa menatap ke arah Adit dengan serius


"Gimana kalau ternyata nanti malah om yang bikin mama sedih?"


"Kamu bisa lakuin apapun sama saya kalau itu sampai terjadi"


"Apa aku boleh pukul om sekuat tenaga aku?"


"Ya ampun nak masa kamu mau jadi anak durhaka sih"


"Boleh"


Daffa mengepalkan telapak tangan nya dan mendekatkan ke belakang punggung Adit, Adit hanya diam sambil memperhatikan tingkah laku anak itu


"Kalau aku minta bantuan papi untuk pukul boleh ga?"


"Kenapa harus papi kamu?"


"Tangan aku kan kecil, sekuat apapun aku pukul om pasti om ga akan ngerasa sakit"


"Astaga masa kamu mau suruh orang lain pukul orang tua kandung kamu sih"


"Takut ya om?"


Adit pun tersenyum hangat


"Deal" mengulurkan tangannya


Daffa menatap ke arah Adit dengan perasaan bingung, haruskah dia menerima kesepakatan tersebut


"Apa sekarang kamu yang takut?" tersenyum mengejek


"Aku ga takut kok, aku cuma khawatir om ga bisa jaga mama dengan baik" menundukkan kepalanya


Adit meletakkan tangannya di ujung kepala Daffa dengan lembut, Daffa pun langsung menoleh kembali ke arah Adit

__ADS_1


"Saya janji saya akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan mama kamu" tersenyum dengan hangat


"Om bisa janji ga akan pernah bikin mama nangis?"


"Saya janji saya akan berusaha bikin mama kamu bahagia, jadi mulai sekarang kamu juga harus jadi anak kecil. Kamu harus puas bermain seperti anak seumuran kamu"


Tiba-tiba saja Adit mencium ujung kepala Daffa dan Daffa pun membulatkan ke dua bola matanya dengan sempurna


"Kenapa om cium aku?"


"Kan kamu anak saya, masa saya ga boleh cium kamu sih?"


Daffa pun memasang wajah malas tetapi jauh di dalam lubuk hatinya anak kecil tersebut sedang merasakan perasaan yang belum pernah dia rasakan, sedangkan Ara yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan pun dapat bernapas dengan lega


"Kamu lebih cocok jadi seorang pencuri kak, dalam sekejap kamu sudah berhasil mencuri hati kami. Daffa selama ini selalu menjadi anak yang tertutup dengan orang yang baru dia kenal, tapi kamu dengan mudah menaklukkan dia" bergumam


Setelah puas bermain di sana Adit mengajak mereka berbelanja ini dan itu, dan posisinya kini Adit yang menggandeng tangan Daffa selama mereka berbelanja. Baru setelah itu mereka pun tiba di kediaman keluarga Mahardika


Kehadiran mereka di sambut dengan hangat di rumah mewah tersebut, bahkan Ara sampai merasa tak enak hati akan sambutan hangat dari keluarga tersebut. Daffa di perlakukan bagaikan seorang pangeran kecil di rumah mewah tersebut, dan sang nyonya besar pun membawa Ara ke masuk dalam kamarnya


"Duduk dulu sayang"


"Tante mau ucapin terima kasih sama kamu ya sayang" tersenyum hangat


"Terima kasih buat apa ya tante?"


"Terima kasih karena kamu sudah hadir di tengah keluarga kami, dan kamu sudah berhasil merubah hidup Adit"


Ara hanya bisa terdiam sambil menunjukkan wajah bingung dan mamanya Adit pun mulai menggenggam tangan Ara


"Kamu tau kan Adit itu bisa di bilang pengusaha yang sukses, tapi sampai sekarang dia selalu membuat tante khawatir. Dia sama sekali ga pernah mau menerima perempuan yang berusaha tante kenalkan ke dia, bahkan dia sampai rela berpura-pura selalu berganti pasangan"


"Jadi mamanya kak Adit tau juga tentang masalah itu"


"Tapi sekarang tante udah ga perlu khawatir lagi karena kamu udah berhasil menaklukkan Adit"


"Itu tante..."


"Apa kamu khawatir karena masalah Daffa?"

__ADS_1


Ara pun menundukkan kepalanya


"Bukan cuma tante bahkan om sudah tau semua kok, tapi kamu harus tau dan ingat ini ya. Bagi kami seluruh anggota keluarga Mahardika kehadiran kamu dan Daffa adalah kebahagiaan yang tidak akan bisa di beli dengan apapun" dengan lembut


Ara pun mulai berkaca-kaca mendapatkan pengakuan dari sang nyonya besar keluarga Mahardika


"Tolong kasih Adit kesempatan ya, kalau dia melakukan kesalahan kamu bisa bilang sama tante dan om biar kami yang menghukum dia. Tapi tolong jangan pernah tinggalin Adit, karena tante yakin Adit mencintai kamu dan Daffa melebihi nyawa dia sendiri"


"Apa aku benar-benar pantas menerima ini semua?"


"Tante mau kasih ini ke kamu"


"Ini apa ya tante?"


"Papanya Adit kasih itu saat melamar tante, dan tante udah janji akan berikan ini kepada perempuan yang akan menjadi istri nya Adit"


"Maaf tante kayak nya aku ga bisa terima ini"


"Apa kamu ga bersedia jadi menantu tante?"


Mamanya Adit mulai mengeluarkan jurus andalan yang dia punya


"Bukan begitu tante tapi aku baru dekat dengan kak Adit, kita sama sekali belum ada membahas ke arah sana"


"Astaga Adit kamu mau pendekatan sampai kapan? sampai anak kalian besar dulu atau sampai kamu jadi kakek-kakek"


"Anggap aja tante titip ini ke kamu, tapi tante yakin Adit ga akan pernah menikah kalau perempuan yang ada di samping dia bukan kamu" tersenyum hangat


"Aduh tante kenapa ngomong gitu? kita kan ga pernah tau apa yang akan terjadi nanti, bisa aja kak Adit jatuh cinta sama perempuan lain" tersenyum canggung


"Itu ga akan pernah mungkin terjadi karenaAdit sudah melakukan banyak hal untuk bisa menemukan kamu, apalagi sekarang sudah ada Daffa di antara kalian berdua"


"Tante yang melahirkan dan membesarkan Adit jadi tante yakin Adit ga akan pernah melakukan itu" dengan yakin


Ara sudah menggunakan seribu alasan untuk menolak barang yang akan di berikan oleh mamanya Adit, tapi apa daya karena mamanya Adit adalah orang yang sangat pandai untuk menaklukkan hati seseorang


Dengan berat hati Ara hanya bisa pasrah dan menerima barang pemberian mamanya Adit, pada malam itu Ara dan Daffa kembali ke kediaman keluarga Vira dengan membawa banyak sekali buah tangan. Selain barang-barang yang sudah di belikan oleh Adit masih harus di tambah lagi barang bawaan yang telah di sediakan mamanya Adit


Saat melihat Ara dan Daffa membawa begitu banyak barang seluruh orang yang berada di kediaman Vira hanya bisa menggelengkan kepala mereka, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya mereka bisa merasa sedikit tenang. Karena mereka menjadi yakin bahwa Adit memiliki niat yang baik terhadap Ara

__ADS_1


__ADS_2