Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Aku Cuma Milik Kamu


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Ara dapat tertidur dengan sangat pulas di dalam pelukan hangat seorang Raditya Mahardika, seorang pria yang telah berhasil memiliki harta yang paling berharga di dalam dirinya. Tetapi siapa yang sangka bila takdir membuat pria tersebut pasangan hidupnya


Sedangkan di tempat yang berbeda semakin malam Dirga semakin asik dengan para wanita penghibur yang berada di sana, tanpa dia sadari bahwa sedari awal dia terus bahwa sedari awal dia berada di sana dia sudah di perhatikan oleh Remon dan Dion. Tetapi mereka berdua sepakat untuk tidak mencampuri urusan Dirga lebih jauh,


Entah mengapa malam itu Remon merasakan ada perasaan sedikit bersalah kepada Vira, dia membayangkan perasaan istrinya selama ini dengan perasaan Vira bila mengetahui bahwa darinya telah di tipu oleh orang yang dia percaya


"Sial!! kenapa gw jadi kepikiran sama cewe galak itu sih?"


Remon pun memerintahkan seseorang untuk mengambil foto dan video tentang kelakuan Dirga di tempat itu


Pagi yang indah pun mulai menyapa semua kehidupan di muka ini dan secara perlahan Ara mulai terjaga dari tidurnya, Ara membuka matanya dengan posisi Adit masih setia memeluk tubuh mungil nya


"Aku benar-benar ga sangka kalau sekarang kamu udah resmi jadi suami aku, kamu ga tau kak dulu aku anggap kamu benar-benar seorang pria mesum" tersenyum


Untuk pertama kalinya Ara memperhatikan wajah Adit secara seksama dari jarak yang sangat dekat


"Bulu mata kamu ternyata lentik ya kak bibir kamu juga merah, gimana bisa makhluk sempurna seperti kamu ga pernah menjalin hubungan yang serius dengan seseorang?"


Tanpa Ara sadari dia tak bisa mengendalikan tangannya untuk mengikuti semua lekukan wajah tampan suaminya, Ara pun mulai berhenti saat semua bagian wajah Adit sudah berhasil dia sentuh


"Udah puas belum sayang?"


Sontak saja Ara pun menjadi terkejut saat melihat Adit yang tiba-tiba saja membuka kedua bola matanya sambil tersenyum


"Kamu udah bangun kak?"


Wajah Ara pun menjadi merah merona karena perasaan malu, Adit bukannya menjawab pertanyaan dari Ara dia menarik tubuh Ara dan semakin erat memeluk tubuhnya


"Kalo belum puas kamu boleh lakuin apapun kok ke aku, sekarang aku cuma milik kamu sayang" mencium ujung kepala Ara


Ara pun hanya bisa terdiam sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang Adit, Adit mulai melepaskan pelukannya dan menatap jauh ke dalam mata Ara


"Terima kasih sudah bersedia menjadi istri aku seutuhnya" mencium kening Ara dengan lembut


"Kamu tau kak aku benar-benar bersyukur karena ternyata laki-laki di malam itu adalah kamu" tersenyum

__ADS_1


Adit seakan tak percaya mendengar ucapan Ara, dia pun menatap Ara dengan serius sambil mengerutkan keningnya


"Tapi waktu itu kamu bilang kalau kamu ketemu sama laki-laki malam itu, kamu akan minta dia pergi jauh dari kehidupan kamu. Kamu ga tau setakut apa aku waktu itu?"


"Maaf ya kak, waktu itu aku jawab begitu karena aku takut kalau laki-laki itu akan ambil Daffa dari aku"


Adit pun tersenyum dengan hangat dan kembali memeluk tubuh mungil Ara


"Maaf ya seharusnya dari awal aku berusaha lebih keras lagi menemukan kamu dan anak kita, seharusnya aku dari awal tau kalau kamu perempuan malam itu"


Ara pun tertawa membuat Adit melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Ara dengan bingung


"Gimana kamu bisa tau kak kalau pertemuan kita dulu kan ga berjalan baik"


Adit pun ikut tertawa terbayang akan dirinya mendapatkan bonus sebuah tamparan dari Ara


"Ya kamu dulu galak banget loh sayang, kamu orang pertama yang berani tampar aku" tertawa


"Ya wajar dong kak aku tampar kamu, apa coba maksud kamu kayak gitu ke aku?" menatap tajam


"Ya maaf, tapi waktu itu aku sendiri ga tau kenapa aku bisa berbuat sejauh itu ke kamu. Padahal niat awalnya aku cuma mau ngerjain kamu aja"


Adit pun tersenyum lalu mencubit hidung mancung Ara


"Aku ga mungkin bohong sama kamu sayang, kamu memang orang pertama yang berhasil ngebuat aku bertindak sejauh itu. Kamu tau?"


Ara menjawab dengan menggelengkan kepalanya


"Kamu orang pertama yang berani tampar aku, kamu orang pertama yang berhasil bikin aku seperti orang bodoh karena mencari kamu. Dan kamu orang pertama yang berhasil mencium bibir aku, jadi selamanya kamu akan selalu jadi orang pertama yang terpenting di dalam hidup aku" tersenyum dengan tulus


"Makasih ya kak"


"Ya udah kamu mandi duluan ya kak, aku biar bangunin Fafa dulu"


Baru saja Ara akan bangkit dari tidurnya Adit pun segera bangkit dan mendahului dirinya

__ADS_1


"Kamu mandi duluan aja, biar aku aja yang bangunin anak kita"


Adit pun segera melangkahkan kakinya ke arah pintu dan menuju ke kamar Daffa, Ara hanya bisa tersenyum melihat Adit dari belakang


"Terima kasih ya kak"


Untuk pertama kalinya mereka bertiga menyantap sarapan mereka di meja yang sama sebagai sebuah keluarga yang utuh, dan Adit pun meminta Ara agar tak perlu lagi bekerja agar dia bisa fokus mengurus keluaran kecil mereka. Hanya ada kata kebahagiaan di antara mereka bertiga, bahkan Daffa pun benar-benar merasa bahagia karena Adit benar-benar papa kandung nya


Sedangkan di tempat yang berbeda Vira sedang merasakan perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, karena semua pesan yang dia kirimkan ke Dirga tak ada satu pun yang mendapatkan balasan. Dirga tak bisa di hubungi setelah dia mengantarkan Vira kembali ke kediamannya, dan ucapan Remon yang sempat terdengar oleh Vira terus terngiang di dalam benaknya


"Dasar cowo ga sopan berani banget dia jelekin kak Dirga kayak dia udah sempurna aja jadi cowo, tapi kenapa sampe sekarang kak Dirga masih belum aktif ya handphone nya?"


Vira pun membuang jauh semua pikiran yang ada di dalam benaknya dan segera merapikan diri untuk pergi ke kantor, tetapi hati kecilnya tak dapat berdusta bahwa dia sudah lama menaruh rasa curiga kepada Dirga


Dan hari itu tiba-tiba saja Nana pun menghubungi Ara


"Halo kak ini aku Nana"


"Ya"


"Gimana nih kabar pengantin baru?"


"Kamu jangan ledekin aku dong, aku masih malu kalau ingat semalam"


"Harusnya ya pamer kebahagian kamu sama aku kak? kamu tunggu aja kak. Kalau dulu aku bisa pisahin kamu sama kak Dion, sekarang aku juga pasti bisa pisahin kamu sama suami kamu"


"Kak Ara boleh ya aku main ke rumah baru kakak?"


"Boleh dong, aku kirim alamatnya ke kamu ya. Ajak mama juga kalau mama ga sibuk"


"Oke kak"


"Oke, aku tunggu ya"


"Oke kak"

__ADS_1


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Ara mengirimkan alamat rumah yang kini dia huni tanpa ada perasaan curiga sama sekali


"Rasanya kebahagiaan aku sekarang jadi sempurna, kak Adit bisa jadi suami aku dan sekarang sikap mama sama Nana juga udah berubah ke aku"


__ADS_2