
"Halo"
"Ini bukan suara kak Adit"
Ara pun sempat memeriksa nomor yang dia hubungi
"Halo...."
"Ya, maaf kak Adit nya mana ya?"
"Adit udah mabuk" dengan entengnya
"Maaf tapi kamu siapa ya?"
"Gw Remon temannya Adit, lu ceweknya Adit kan?"
"Ya"
"Mending lu ke sini deh jemput dia pulang"
"Tapi aku..."
"Ya udah terserah lu aja mau datang apa ga? yang jelas sebentar lagi gw mau cabut. Yah paling Adit gw tinggal tidur di sini sampai dia bangun"
"Astaga teman apa yang kayak gitu?"
"Kalian di mana? aku ke sana sekarang!!"
"Berhasil" tersenyum puas
Remon pun mengatakan posisi mereka berada di mana
"Oke, jangan pergi sebelum aku datang"
"Oke" Remon memutuskan sambungan teleponnya
Remon kembali ke meja mereka dengan senyuman kemenangan, dan langsung mendudukkan dirinya di samping Brian lalu meletakkan kembali ponsel Adit ke atas meja
"Lu abis ngapain Mon? jangan aneh-aneh, lu inget kan terakhir lu kerjain Adit"
"Tenang aja, kalau sekali ini gw lagi bantu temen kita yang bodoh ini"
Remon menceritakan apa yang baru saja dia lakukan dan siapa Ara sebenarnya di mata Adit dan Dion
"Lu pasti bercanda kan sama gw?"
"Sejak kapan kita bertiga bisa bohong?"
"Tapi ini sih namanya gila Mon, kenapa bisa begitu?"
"Apa lu ga liat tuh?" menunjuk ke arah Adit yang sudah tertidur
__ADS_1
Brian menatap Adit dengan seksama
"Ya juga sih gw belum pernah liat Adit kayak gitu"
"Ya pasti sekarang dia tertekan dia kan anak baik-baik ga kayak kita berdua, walaupun udah nikah masih aja begini" tertawa lepas
"Gw ga bisa bayangin perasaan dia, perempuan pertama yang bikin dia penasaran setengah mati adalah perempuan pertama yang berhasil menaklukkan hati dia"
"Lu tau tadi dia bilang apa sama gw?"
Brian hanya terdiam dan menatap serius ke arah Remon
"Dia bilang dia takut, dia takut perempuan itu tinggalin dia saat tau semuanya"
Brian tertawa lepas mendengar ucapan dari Remon
"Apa iya ada perempuan yang bisa nolak Adit?"
"Apa lu lupa? perempuan itu tinggalin Adit setelah mereka melakukan itu"
Tawa Brian pun langsung terhenti
"Ya juga sih, di saat perempuan lain akan minta pertanggung jawaban dari pihak laki-laki. Dia malah tinggalin Adit gitu aja"
"Udah sekarang mending kita suruh dulu cewe-cewe ini pergi, gimana juga kita harus hargai dia"
Brian pun setuju dengan ucapan Remon mereka meminta para wanita yang menemani mereka untuk meninggalkan meja mereka terlebih dahulu, sedangkan Ara setelah membangunkan Vira untuk menemani Daffa segera pergi ke tempat itu. Tak butuh waktu yang lama Ara pun tiba di sana
"Ini kan tempat yang waktu itu, berarti mereka suka kumpul di sini ya"
"Halo..."
"Aku sudah di depan, kalian ada di mana?"
"Oke tunggu sebentar"
Remon segera keluar dari tempat itu dan sudah pasti dia bisa mengetahui Ara dengan mudah, sedangkan Ara sudah melupakan tentang Remon yang pernah berusaha menggoda dirinya
"Ayo masuk"
"Ya kak"
"Kayaknya dia lupa sama gw, bagus deh dari pada gw jadi canggung sama dia"
Remon pun melangkahkan kakinya menuju ke meja mereka dan Ara mengekor dari belakang, sesampainya di meja mereka Brian memperkenalkan dirinya kepada Ara. Sedangkan mata Ara hanya tertuju kepada Adit yang sudah tertidur dengan menyenderkan tubuhnya di senderan sofa
Entah mengapa Ara merasa sedikit kesal melihat keadaan Adit yang seperti itu tetapi dia juga merasa tak tega, Ara pun mendudukkan tubuhnya di samping Adit
"Kak..."
Ara berusaha membangunkan Adit sambil terus menggoyangkan lengan Adit
__ADS_1
"Kalau bisa jangan di bangunin, Adit suka marah kalau lagi mabuk di bangunin"
Brian hanya teringat kenangan mereka di masa lalu saat Adit mengamuk mereka membangunkan Adit dalam keadaan mabuk
"Kalau saya ga bangunin dia, gimana saya bawa dia pulang?" menatap tajam
"Gila!! kenapa Dion sama Adit bisa suka sama cewe ini sih?"
Adit tetap tertidur dengan cara membangunkan dirinya, entah dari mana datangnya keberanian Ara pada saat itu dia yang mulai jengkel pun menggigit tangan Adit sekuat tenaga. Adit yang merasakan sakit terpaksa membuka matanya dan menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas
Adit sudah akan berteriak karena ada yang berani mengganggu dirinya, tetapi mulutnya langsung tertutup rapat saat sadar siapa yang berada di sampingnya
"Kamu kok ada di sini?"
"Kamu berharap siapa yang ada di samping kamu kak?"
Adit langsung melepaskan tatapan membunuh ke arah dua orang sahabatnya, dan dia sangat yakin bila itu adalah ulah Remon karena Brian langsung menoleh ke arah Remon. Sedangkan Remon tetap menunjukkan sikap santai
"Kenapa? kamu ga suka aku ada di sini. Ya udah yang penting kamu usah sadar kak, aku mau pulang sekarang"
Ara sudah mulai bangkit dari duduknya dan dengan cepat Adit segera memegang tangan Ara
"Aku antar kamu pulang"
Dengan wajah yang masam Ara pun mendudukkan kembali tubuhnya
"Tunggu sebentar ya, aku cuci muka dulu ke kamar mandi"
"Iya" tanpa menoleh ke arah Adit
Adit dengan langkah yang sudah goyang melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dan segera membasuh wajahnya, dia hanya berusaha mendapatkan kembali kesadarannya
"Gila si Remon!! kenapa panggil Ara ke sini sih? untung aja ga ada Dion di sini, kalau sampai Ara marah karena ini gw ga akan lepasin lu Mon"
Setelah merasa lebih baik Adit pun segera kembali ke meja mereka dan melihat Ara sedang meminum sesuatu, dengan cepat Adit langsung menarik gelas yang berada di tangan Ara
"Kamu ngapain?" menatap tajam
"Kenapa? apa aku ga boleh minum?"
"Ga" dengan tegas
"Masa aku ga boleh minum kalau haus, itu kan cuma cola kak"
Adit yang masih merasa tak percaya mencoba mencium aroma minuman yang berada di gelas Ara, dan benar saja tak tercium aroma alkohol dari gelas Ara
"Maaf aku kira kamu minum alkohol" menyerahkan gelas tersebut kepada Ara
"Ga usah kak udah hilang haus nya"
Adit yang merasa sedikit bersalah pun langsung mendudukkan tubuhnya di samping Ara
__ADS_1
"Ya maaf aku kan cuma khawatir aja, ya udah aku antar pulang sekarang ya. Kasian Daffa kamu tinggal"
Akhirnya Adit dan Ara pun meninggalkan tempat itu dan meninggalkan sebuah hiburan yang sangat menarik bagi Remon dan Brian, mereka tak henti-hentinya tertawa melihat sosok Adit yang biasanya selalu menang atas segala hal harus mengalah di hadapan seorang wanita