
Adit kembali ke meja di mana Ara berada dengan membawa senyuman kemenangan, sedangkan Ara menatap Adit penuh rasa cemas
"Kamu ga apa kak?"
Adit membalas dengan senyuman hangat
"Kak...."
"Aku ga apa kok, aku udah jelasin ke Dion dan sepertinya dia bisa mengerti. Kamu udah pesan makanan belum?"
"Belum kak, aku tunggu kamu datang aja"
"Kenapa? hilang nafsu makan ya kalau ga ada aku"
Ara hanya membalas dengan tatapan mata malas sedangkan Adit tertawa geli melihat tingkah Ara
"Ya udah jangan gitu nanti cantik kamu hilang, kita pesan makanan dulu ya"
Adit mulai memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua
"Apa yang paling kamu suka?"
"Aku suka apa aja kok kak"
"Kamu ga tanya apa yang paling aku suka?"
Ara sudah menatap Adit dengan perasaan curiga karena dia merasa belakangan ini Adit bersikap seperti anak remaja yang baru jatuh cinta
"Tanya dong, masa ga mau tau apa yang di suka calon suaminya?"
"Apa yang kamu suka kak?"
"Kamu" tersenyum
"Ish.. Ini beneran kak Adit yang dulu mesum itu bukan sih?"
Hari-hari damai di lewat oleh Ara dan Adit, di sepanjang waktu Adit selalu memanjakan Ara dan buah hati mereka. Adit juga mulai menunjukkan satu persatu ucapan yang pernah dia ucapkan kepada Ara. Di mulai dari mamanya Vira yang mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit keluarga Adit
Setiap akhir pekan mereka akan di habiskan dengan Ara dan Daffa yang menyambangi kediaman keluarga Mahardika, bahkan Ara dan Daffa sudah mulai di perkenalkan kepada keluarga besar Mahardika
__ADS_1
Pada awalnya sudah pasti Ara merasa berkecil hati di hadapan keluarga besar Adit, tetapi sikap Adit dan orang tuanya membuat dirinya tak merasa di rendahkan di hadapan mereka semua. Bahkan orang tua Adit sudah memperkenalkan Daffa sebagai cucu pertama mereka
Ara merasa benar-benar bersyukur berada di tengah-tengah keluarga Adit, kehangatan sebuah keluarga yang belum pernah dia rasakan dapat dia rasakan di sana. Di beberapa kesempatan saat Adit harus hadir atas undangan teman-temannya Adit akan selalu membawa Ara ke sana, walaupun Dion juga akan berada di sana
Ara pun semakin yakin dengan kesungguhan hati Adit dan mulai mempercayai Adit sepenuhnya
Di saat Ara mendapatkan masa tenang di dalam hidupnya lain hal dengan Dion dan Nana, mereka berdua berada di masa terburuk di dalam hidup mereka. Di satu sisi ada Dion yang merasa semakin menyesal dan terpukul akan hubungan yang terjalin Ara dan Adit, dan ada Nana yang merasa bahwa Dion akan semakin sulit untuk di gapai
Dan malam itu Dion memutuskan untuk minum sendirian di tempat yang berbeda dengan tempat biasa dia berkumpul bersama yang lainnya, Dion yang saat itu sudah mulai mabuk mulai di dekati oleh seorang wanita yang sudah memperhatikan dirinya sedari tadi
"Sendirian?"
Dion hanya melirik sekilas dan mengabaikan wanita tersebut
"Sombong amat!! dia belum tau siapa gw?"
Wanita tersebut mendudukkan tubuhnya di samping Dion dan memesan segelas minuman untuk dirinya, dia pun hanya diam dan terus memperhatikan Dion
"Tampan juga, malam ini aku harus bisa dapatkan laki-laki ini" tersenyum
Dion tetap mengabaikan wanita yang berada di sampingnya dan terus meminum minuman yang berada di dalam gelasnya, hingga dia pun mulai bangkit dari duduknya dan akan pergi ke toilet. Wanita tersebut mulai tersenyum penuh arti
"Belum pernah ada yang berani menolak aku, kamu terlalu sombong sayang jadi aku kasih kamu sedikit pelajaran menarik ya"
"Minum terus sayang habiskan minuman itu, supaya malam ini kita bisa menikmati malam berdua"
Tak butuh waktu yang lama Dion sudah mulai merasakan ada yang tak beres dengan dirinya, dia pun segera menyelesaikan pembayaran minuman yang dia pesan dan hendak pergi dari tempat itu. Tetapi apa daya Dion yang baru bangkit dari duduknya hampir saja terjatuh karena merasakan kepalanya yang sangat pusing, wanita yang berada di sebelah Dion pun langsung berpura-pura dengan sigap menangkap tubuh Dion
"Kamu baik-baik aja?"
"Ya"
Dion berusaha memejamkan matanya agar dapat mengurangi rasa mabuknya, tetapi semua sia-sia dia merasa seluruh tubuhnya lemas dan tak berdaya
"Ayo saya bantu"
Dion hanya bisa pasrah dan di papah oleh wanita tersebut keluar dari tempat itu, tetapi baru saja mereka keluar dari pintu ada suara seorang wanita yang menghentikan mereka berdua
"Heh perempuan gatel!! mau kamu bawa ke mana suami saya?" dengan penuh penekanan
__ADS_1
"Siapa sih perempuan ini? ganggu kesenangan orang aja"
Wanita tersebut langsung menarik tubuh Dion
"Kamu siapa?"
"Kamu yang siapa?"
"Saya pacar cowo ini" dengan santai
"Pacar?? saya istrinya!!" dengan tegas
Dengan penuh amarah wanita tersebut meninggalkan Dion begitu saja
"Kamu siapa?" dengan suara yang pelan
"Anggap aja ini saya lagi bayar hutang saya ke kamu, di mana mobil kamu?"
Dion pun menunjuk ke arah di mana mobilnya terparkir, dan wanita tersebut pun memapah tubuh Dion ke arah mobilnya
"Mana kunci mobilnya?"
Dion yang sudah dalam keadaan tak berdaya hanya bisa menyerahkan kunci mobilnya dan wanita tersebut membantu Dion masuk ke dalam mobilnya, lalu dia pun mulai duduk di depan kemudi mobil tersebut
"Tolong antar saya ke apartemen...."
"Saya udah tau di mana apartemen kamu" menjawab dengan cepat
Wanita tersebut melajukan mobil Dion ke arah apartemen Dion dan membantu Dion masuk ke dalam apartemennya, dia pun merebahkan Dion di atas tempat tidur
"Saya harap dengan ini saya sudah bisa membayar hutang saya, gimana juga saya udah selamatkan kamu dari perempuan itu"
Baru saja wanita tersebut hendak pergi dari sana tiba-tiba saja Dion menarik tangan wanita tersebut dan jatuh ke dalam pelukannya
"Hei!!"
"Maafin aku ya Ara, aku banyak salah sama kamu" dengan lirih dan suara yang bergetar menahan air mata yang akan keluar
"Ara berarti perempuan yang waktu sama dia, aku pikir kalian akan berakhir bahagia. Kenapa dia bisa sampai seperti ini?"
__ADS_1
"Aku memang laki-laki bodoh, coba dulu aku tetap peluk kamu dengan erat pasti sekarang kamu sudah jadi milik aku sepenuhnya"
"Tapi aku ini bukan Ara kak dan selamanya mungkin aku ga akan pernah bisa menjadi seperti dia, dia terlalu sempurna untuk jadi seorang wanita"