Malam Yang Menyakitkan

Malam Yang Menyakitkan
Kesempatan


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Brian benar-benar hanya diam membisu sedangkan Lian tak berani banyak berkata, dia hanya sesekali mencuri pandang ke arah suaminya dengan seribu tanda tanya


"Kamu sebenernya kenapa sih kak? dari tadi mulai di rumah Adit sikap kamu udah mulai aneh"


Sesampainya di kediaman mereka Brian langsung turun dari mobil dan melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah kamar mereka, dia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Sedangkan Lian memilih untuk sejenak melihat anaknya setelah itu dia pun kembali ke kamarnya dan saat itu Brian baru saja keluar dari dalam kamar mandi


"Mau aku siapin baju untuk pergi kak?"


Brian tak menjawab pertanyaan dari istrinya dan hanya menatap dengan tajam


"Masa kamu malah mau sediakan baju aku untuk keluar, apa selama ini benar-benar cuma karena terpaksa? jadi kamu bisa kapanpun pergi tinggalin aku kayak mantan istri Remon dong"


"Kak..."


"Ga usah aku ambil baju sendiri aja" dengan nada dingin


"Ya udah kalau gitu aku mandi dulu ya kak"


"Hem..."


Tanpa menundukkan waktu Lian pun masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, saat dia keluar dari dalam kamar mandi ternyata Brian sudah menggunakan pakaian rumah dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur


Lian pun mulai naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping suaminya


"Kamu sebenernya kenapa kak?"


"Udah malam ayo tidur" membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan


"Kalau kamu memang mau keluar ga apa kak, kalau kamu takut aku akan melakukan hal yang sama dengan mantan istri kak Remon. Kamu tenang aja aku ga akan lakuin itu"


Entah mengapa hati kecil Brian langsung terusik dia pun langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna sambil menatap tajam ke arah Lian


"Sebenernya kamu tau ga apa yang aku lakukan di luar sana kalau aku lagi keluar malam?"


"Kurang lebih aku tau kak"

__ADS_1


"Aku bukan cuma sekedar minum-minum aja, aku bahkan terkadang menjalin hubungan dengan seorang perempuan"


Lian pun ikut mendudukkan tubuhnya dan menatap serius ke arah Brian


"Aku tau kak, aku tau semua yang kamu lakuin di luar sana"


"Kamu tau ga hubungan yang aku maksud itu hubungan laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa"


"Aku tau kak"


"Apa yang kamu tau?"


"Aku udah bilang kurang lebih aku tau semua yang kamu lakukan di luar kak, aku sering cium parfum perempuan atau terkadang ada noda lipstik di baju kamu kak"


"Yang udah lakuin di luar bukan cuma sebatas duduk minum bareng perempuan aja" menatap dengan tajam


"Ya aku tau kak"


"Jangan cumajawab kamu tau aja, jawab sejauh apa kamu tau kelakuan aku di luar selama ini?"


Entah mengapa Brian semakin jengkel mendengar jawaban dari istrinya bahwa dia mengetahui semua perbuatan Brian di luar sana


"Terus maksud kamu apa?!!" menaikkan volume suaranya


Lian mulai menatap ke arah Brian dengan mata yang mulai berkaca-kaca


"Aku ga suruh kamu nangis, aku tanya kenapa kamu selama ini cuma diam aja?!!"


"Kamu tanya ke aku kenapa aku cuma diam aja dengan semua perbuatan kamu kak? kamu pikir aku ga punya perasaan? apa kamu pikir hati aku ini dari batu ga bisa ngerasain sakit?!!"


Entah datang dari mana keberanian Lian pada saat itu karena untuk pertama kalinya dia berani berteriak di hadapan Brian sambil menatap tajam


"Terus kenapa kamu masih ada di samping aku?"


Brian pun mulai menurunkan volume suaranya karena melihat mata Lian yang mulai menjatuhkan air matanya

__ADS_1


"Karena cuma di sini rumah aku dan cuma kamu yang aku punya kak" lirih


Entah mengapa saat itu hati Brian merasakan sakit mendengar ucapan istrinya


"Aku udah sering tanya ke kamu kak, apa kamu pisah dari aku? kalau kamu jawab iya aku pasti pergi dari kamu kak"


Air mata yang sedari tadi sudah Lian tahan pun kini sudah mengalir dengan derasnya, Brian tak bisa lagi menahan rasa sakit di dalam hatinya karena melihat istrinya menangis untuk pertama kalinya setelah mereka menikah. Dia pun langsung menarik tubuh Lian masuk ke dalam pelukannya


"Ternyata aku ga lebih dari manusia sampah, aku kira selama ini dia ga tau apapun dan aku bebas melakukan apapun di luar sana tanpa tau kalau dia selama ini tau semuanya"


"Maaf ya sayang aku pasti udah bikin banyak luka di hati kamu, selama kita menikah aku cuma selalu lihat kamu tersenyum. Ga pernah sekali pun aku lihat kamu menangis, jadi aku pikir semuanya baik-baik aja"


"Ternyata aku sudah gagal"


Brian mulai melepaskan pelukannya saat merasa istrinya sudah mulai tenang


"Aku minta maaf ya, aku mungkin ga pantas untuk di sebut sebagai seorang suami. Aku ga akan paksa kamu untuk tetap di samping aku, kamu boleh pergi dan cari kebahagiaan kamu sendiri"


"Jadi ini ya maksud kamu yang sebenarnya kak? sebenarnya kamu cuma mau aku pergi dari sini aja"


"Aku ngerti kak"


Lian pun mulai bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaian dan mengambil satu set pakaian untuk pergi, Brian hanya bisa terdiam dan melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian


"Apa sekarang artinya aku harus kehilangan dia? apa ini artinya selamanya aku ga akan lihat senyuman dia lagi? tapi apa aku bisa?"


Cukup lama Lian berada di dalam kamar mandi karena dia harus kembali menjatuhkan air matanya, rasa sakit yang dia rasakan di dalam hatinya jauh lebih sakit dari pada saat dia melihat foto suaminya sedang tertidur bersama wanita lain. Lian pun mencoba menguatkan hatinya dan membasuh wajahnya


"Cukup Lian dia sudah terlalu baik sama kamu selama ini, sekarang saatnya kamu pergi dari dia untuk selamanya. Aku cuma berharap semoga kamu akan selalu bahagia kak, maaf karena aku belum bisa membalas kebaikan kamu"


Lian pun mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi, saat itu Brian sudah berada di tepi tempat tidur dengan wajah yang murung. Lian pun mengumpulkan keberanian dan mulai mendekati Brian


"Aku pergi dulu ya kak, aku titip anak-anak dan jangan lupa jaga kesehatan kamu"


Brian pun langsung menggenggam tangan Lian dan menatap Lian dengan tatapan mata yang sendu

__ADS_1


"Apa kamu ga bisa kasih aku kesempatan kedua? kalau sekarang aku minta kamu tetap di sini bukan demi anak-anak. Tapi aku minta kamu tetap di sini demi aku"


__ADS_2