Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Tidak Tahu


__ADS_3

"Gila! itu beneran Miss Amy?"


"Itu Miss Amy yang di pecat itu kan? yang ngajar kelas piano."


"Is this really like telenovela or Drakor storie. Ini bukan dunia novel atau Drakor-drakor kan?"


Pluk pluk!


Beberapa dari mereka justru menepuk pipinya sendiri, demi memastikan bahwa apa yang mereka lihat saat ini bukanlah di dunia mimpi atau hanya khayalan semata.


Ada juga dari mereka yang meminta pada teman lainnya untuk mencubit lengan atau pipi, memastikan bahwa semua ini bukan mimpi yang ada di depan mata..


"Eh eh coba deh, cubit pipiku! ini beneran mimpi apa nggak."


"Aku lengan aja coba cubit!"


Kepala sekolah dan beberapa teman Amy saling pandang, melihat keberadaan Amy yang sedang berada di panggung pelaminan bersama dengan Shiro Yuki. Orang yang mereka hormati dan patuhi selama ini, karena laki-laki itulah yang memiliki wewenang di yayasan sekolah musik, tempat mereka bekerja selama ini.


Mereka semua memang mendapatkan undangan untuk bisa hadir, dalam resepsi pernikahan pemilik yayasan. Tapi mereka tidak pernah mengira jika mempelai wanitanya adalah mantan bawahan dan teman mengajar mereka sendiri. Bahkan mempelai wanita tersebut juga dikeluarkan tanpa mendapatkan kejelasan atau alasan, kenapa dia harus dipecat dari pekerjaannya sebagai seorang guru musik piano.


Kini mereka semua, terutama kepala sekolah, tentunya merasa takut seandainya akan mendapatkan balasan, jika Amy Hendarto mengetahui bahwa sekolah musik tersebut adalah milik suaminya.


"Ini benar-benar diluar dugaan. Aku harus segera meminta maaf agar Amy tidak mencari masalah di kemudian hari nanti." Kepala sekolah bahkan sudah berencana untuk meminta maaf kepada Amy, pada saat memberikan selamat di atas panggung pelaminan nanti.


Ternyata yang mempunyai rencana seperti itu bukan hanya kepala sekolah saja, tapi semua teman-teman Amy, guru-guru musik di sekolah tersebut.


Mereka semua tentu tidak mau, seandainya akan mendapatkan balasan atas perbuatan atau sikap yang pernah mereka lakukan pada Amy Hendarto di waktu lampau.


"Kita harus minta maaf pada Amy nanti, sekalian waktu kasih selamat!"


"Iya nih! Gue gak mau jika harus mendapatkan surat pemecatan karena istri pemilik yayasan tidak menyukaiku!"

__ADS_1


"Iya ah, Aku juga mau sekalian minta maaf nanti pada saat kasih ucapan selamat."


"Aku juga!"


"He eh, Aku ikut!"


"Ok, we will apologize and give the best prayer for him. Semoga saja dia akan melupakan peristiwa yang telah lalu jadi kita akan tetap aman," ucap kepala sekolah dengan penuh harap.


Dulu, dia memecat Amy hanya karena masalah sepele. Yaitu Amy menolak untuk ikut serta dalam keanggotaan arisan dewan guru, yang diketuai oleh kepala sekolah tersebut. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal, tapi seperti itulah yang akhirnya terjadi.


Tapi kini kepala sekolah tersebut tentu ketakutan dengan nasib Amy, yang pada akhirnya justru menjadi istri orang nomor satu di yayasan sekolah tersebut.


Hal ini tentunya membuat kepala sekolah tidak tenang, takut jika Amy Hendarto akan mengadu pada Shiro Yuki, kemudian memecatnya.


Padahal Amy sendiri tidak pernah tahu, jika suaminya, Shiro Yuki adalah pemilik yayasan sekolah musik, tempat dia bekerja dulu.


Pada saat para tamu naik ke atas panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat, Amy juga merasa terkejut melihat rekan-rekan guru musik di sekolah datang. Bahkan kepala sekolahnya juga datang sambil tersenyum-senyum, pada saat melihatnya.


"Aku tidak pernah memberikan undangan pada mereka, kenapa mereka semua datang ke sini?" tanya Amy dalam hati.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Amy, melihat keberadaan kepala sekolah juga. Ini karena Amy tidak pernah merasa mengundang siapapun, yang mengenalnya.


"Selamat menempuh hidup baru Tuan Shiro. Semoga berbahagia bersama dengan keluarga."


Kepala sekolah, mengucapkan selamat kepada Shiro Yuki, karena dia harus bersikap sok manis-manis di depan pemilik yayasan sekolah. Kemudian bergerak maju untuk menyalami mempelai wanitanya, yaitu Amy Hendarto.


"Miss Amy, emhhh... maaf. Maaf Saya... Saya harus memanggil apa ini?" tanya kepala sekolah dengan wajah canggung.


Amy sendiri bingung dengan situasi seperti ini, sehingga dia menoleh ke arah Shiro Yuki, yang kebetulan sedang menatapnya juga, dengan sama bingungnya.


Akhirnya Amy hanya nyengir kuda, sambil menerima uluran tangan kepala sekolah, yang sedang memberikan ucapan selamat kepadanya. "Selamat Miss Amy. Maaf, Saya minta tolong supaya Miss Amy melupakan peristiwa yang kemarin-kemarin. Saya benar-benar tidak tahu, jika Miss Amy adalah calon istrinya Tuan Shiro."

__ADS_1


Kepala sekolah yang berbicara banyak dengan Amy, membuat antrian para tamu yang ingin memberikan ucapan selamat mengantri hingga mengular. Mereka banyak yang menggerutu, sehingga pihak Wedding Organizer menertibkan antrian di panggung.


Shiro Yuki juga tidak nyaman, pada saat kepala sekolah menyalami tangan istrinya dengan jangka waktu yang lama. Tatapan matanya tajam, dengan memberikan isyarat, sehingga Amy mengangguk samar sambil tersenyum canggung.


"Huhhh! Gitu aja marah, gimana jika yang kasih ucapan selamat masih muda?" batin Amy justru seperti tertantang.


Hal ini justru membuat Amy mempunyai rencana iseng, untuk mengerjai Shiro Yuki.


"Awas saja nanti, jika ada tamu cowok yang lebih mudah dari kepala sekolah. Aku akan lama menjabat tangannya, jika bisa akan mengajaknya berbincang terlebih dahulu. Aku mau lihat, bagaimana reaksinya."


Reo yang ikut berdiri di tengah-tengah mereka, dengan bantuan kursi pelaminan, sehingga bisa sejajar dengan Amy, menarik-narik lengan Mama asuhnya, yang sekarang ini telah menjadi mamanya.


"Ma, Mama!"


Mendengar panggilan Reo, Amy dengan cepat menoleh ke arah anaknya itu. "Ya Sayang, ada apa?" tanya Amy.


"Rei capek Ma."


Reo mengeluh karena kakinya yang terasa capek, karena sedari tadi menemani mama dan papanya berada di atas panggung pelaminan. Menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang datang.


"Ohhh, Tuan Muda duduk saja Sayang."


Aku yang masih terbiasa dengan panggilan "Tuan Muda" untuk Reo, justru melihat wajah anaknya itu cemberut.


Mendengar perbincangan mereka berdua, Shiro Yuki memanggil penanggung jawab WO untuk menghentikan para tamu yang ingin naik ke atas panggung pelaminan.


Shiro Yuki tahu jika yang merasa capek bukan hanya anaknya, tapi juga Amy.


Istrinya itu tidak mau beristirahat sejak kemarin-kemarin, bahkan menemani rayo sama seperti biasanya pada saat masih menjadi pengasuh.


"Amy masih merasa bahwa dia adalah pengasuhnya Reo, apa Aku harus mengambil pengasuh lagi? tapi apakah Reo mau dengan pengasuh lain?"

__ADS_1


"Apa dia pikir ini pernikahan karena pekerjaannya, sebab Reo ingin menjadikannya mama?"


Sekarang Shiro Yuki justru mempertanyakan perasaan Amy, yang kemarin-kemarin tidak dihiraukan, karena dia berpikir bahwa Amy juga memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.


__ADS_2