Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Ada Yang Berbeda


__ADS_3

"Papa, Marcel ingin berbicara. Ini... ini tentang sesuatu yang penting."


Shiro Yuki yang sedang fokus pada laptop, hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan. Tapi dia tidak melihat bagaimana wajah Marcel yang tampak menunduk, entah apa yang dia rasakan saat ini. Yang pasti itu bukan sesuatu yang menyenangkan.


"Pa. Emhhh..."


"Apa itu, Marcel? Apakah ada masalah di kampus?" tanya Shiro Yuki, yang sudah melihat ke arah anaknya.


"Bukan. Bukan seperti itu. Sebenarnya, emhhh... Marcel ingin minta ijin untuk pindah kuliah ke luar kota." Marcel langsung menunduk setelah selesai mengatakan keinginannya.


"Oh, kenapa kamu mau pindah kuliah? Apakah ada alasan khusus?" Shiro Yuki mencoba untuk bertanya dengan nada pelan.


"Sebenarnya tidak ada, Pa. Marcel hanya ingin tahu, dan merasa perlu untuk menjauh dari situasi yang sulit di kampus."


Marcel memberi alasan yang sebenernya cukup sulit, karena papanya tidak mungkin diam saja dengan menerima permintaannya tadi, tanpa tahu kejelasan dari masalah anaknya.


"Situasi yang sulit? Apa maksudmu Marcel?" Shiro Yuki justru bertanya lagi, karena merasa curiga dengan alasan yang tidak jelas dari Marcel tadi.


"Marcel... emhhh, Marcel merasa tidak bisa mengatasi perasaan cintaku pada Elly, dan aku khawatir tentang masa depan hubungannya dengan kakak."


Dengan wajah menunduk pasrah, akhirnya Marcel mengakui perasaannya pada Elly. Tapi bukan pada Elly sendiri, melainkan pada papanya.


Deg


"Apa? bagaimana bisa?"


Shiro Yuki sangat terkejut dengan pengakuan anaknya. Dia tidak pernah menyangka akan ada pada situasi seperti ini.


"Marcel juga tidak tahu, Pa. Perasaan ini datang dengan sendirinya, dan karena alasan itulah Marcel berpikir untuk pindah kuliah ke luar kota saja, yang kemungkinan besar akan membantuku menjauh dari situasi sulit ini. Dan Marcel akan mencari cara untuk mengatasi perasaan ini juga di luar kota nantinya."


Deg deg deg


'Apa Marcel ada kelainan seperti Cresen?' tanya Shiro Yuki, ingat dengan kelainan adik sepupunya di Jerman.


"Hahhh... Papa akan mencoba untuk memahami keadaanmu. Tapi sebelum Papa memberikan persetujuan, Papa ingin tahu tentang rencana yang sudah kamu susun. Apa yang ingin kamu lakukan setelah pindah kuliah?" Shiro Yuki berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


"Entahlah Pa. Marcel hanya ingin menjauh saja dulu. Jika memungkinkan, bisa jadi Marcel akan mencari pekerjaan paruh waktu dan mencari tempat tinggal yang nyaman."


"Yang pasti, Marcel ingin fokus pada studi dengan mencoba memperbaiki nilai-nilai."


"Baiklah. Papa akan mendukung keputusanmu, tetapi Papa juga ingin memastikan bahwa kamu memiliki rencana yang baik dan realistis."


"Papa ingin kamu memikirkan semua aspek dari situasi ini dan membuat keputusan yang tepat." terang Shiro Yuki berusaha bijak.


"Terima kasih, Papa. Aku akan memikirkannya dengan baik dan berusaha membuat keputusan yang tepat."


"Apa kamu yakin, jika apa yang kamu rasakan itu cinta? bukan karena takut kehilangan seorang teman?" tanya Shiro Yuki, sebelum Marcel beranjak dari duduknya yang ada didepannya.


Shiro Yuki paham dengan apa yang terjadi pada Marcel, karena ketika seseorang menyimpan perasaan cinta kepada seseorang yang dekat dengannya, situasi tersebut dapat menjadi rumit dan menimbulkan banyak masalah dan kesulitan. Terutama jika orang yang dicintai adalah orang yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari, dan orang itu adalah seseorang yang sudah di klaim orang lain.


Marcel dan Elly telah saling mengenal selama bertahun-tahun, dan mereka telah menjadi teman dekat sejak awal, tentu akan memberikan perasaan yang berbeda.


Marcel baru menyadari, bahwa perasaannya terhadap Elly lebih dari sekedar teman. Dia merasa bahwa dia jatuh cinta pada Elly, dan itu membuatnya sangat khawatir tentang masa depan hubungan mereka.


Masalah utama Marcel adalah kakaknya, Reo, yang sudah menjadi tunangannya Elly, dan kemungkinan besar akan menikah di masa depan. Jika itu terjadi, Elly akan menjadi kakak iparnya Marcel, dan tentunya situasi itu dapat membuat Marcel merasa tidak nyaman.


Untuk itulah dia meminta izin kepada papanya, supaya memberinya izin pindah kuliah keluar kota. Ini karena Marcel ingin menjauhkan perasaannya, membuangnya agar tidak merusak hubungan kakaknya dengan Elly. Apalagi Marcel juga tahu, bagaimana keadaan Elly yang sangat mencintai kakaknya, Reo.


"Sebaiknya kamu mencoba merenungi lagi, jika perlu Papa antar ke spikiater saja. Mungkin setelah kamu berbincang dengan ahlinya, kamu bisa mengerti perasaan yang sebenarnya kamu rasakan itu."


"Iya Pa. Marcel akan mencobanya dulu."


Puk puk puk


Shiro Yuki menepuk pundak Marcel, kemudian memeluknya erat. Dia tidak mau jika anaknya ada yang menderita kelainan, sama seperti Cresen.


Kelainan itu akan merusak akal dan pikiran seseorang, dan yang lebih parahnya lagi, jika berhubungan dengan saudara. Tentunya hal tersebut akan merusak tali persaudaraan yang tadinya baik-baik saja.


***


"Apa Boo?" tanya Amy kaget.

__ADS_1


Sebelum tidur, Shiro Yuki membicarakan tentang apa yang dikatakan oleh Marcel padanya. Tentu saja Amy terkejut.


"Lalu, Boo setuju saja gitu?" Amy bertanya dengan tidak sabar.


"Hahhh... Papa mencoba untuk tidak marah Bee. Anak seperti Marcel, tidak bisa di keras. Dia harus mendapatkan perhatian lebih, dan kita harus berhati-hati dengan perasaannya."


Amy menganggukkan kepalanya, paham dengan maksud perkataan yang diucapkan oleh suaminya.


"Tapi... Marcel setuju untuk pergi ke spikiater dulu, kan Boo?" tanya Amy lagi, yang terlihat jelas jika sedang merasa khawatir.


"Iya. Dia mau."


"Apa Bee boleh ikut Boo? maksudnya, jika Boo sedang pergi mengantar Marcel ke spikiater."


Amy berharap mendapatkan izin dan kesempatan untuk bisa ikut bersama-sama dengan suaminya, di saat pergi mengantar Marcel yang sedang berkonsultasi ke spikiater.


"Bee. Boo tidak mau Marcel merasa dikhianati. Tidak ada yang tahu, tentang apa yang dia rasakan selain Boo. Jadi Bee harus bisa bersikap wajar, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu dengannya."


"Tapi Boo..."


"Hemmm..."


Amy terdiam dan tidak lagi melanjutkan kalimatnya, di saat mendengar helaan nafas panjang suaminya. Jika sudah seperti itu, tandanya Shiro Yuki tidak mau dibantah.


"Boo. Pastikan Marcel mendapatkan penanganan yang tepat untuk kesembuhannya. Jangan sampai keadaannya itu berlanjut dan terjadi lagi, karena jika tidak..."


"Bee. Doakan saja yang terbaik untuk anak-anak kita, terutama Marcel."


Dengan cepat Amy menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan Shiro Yuki. Dia juga tidak mau jika terjadi sesuatu pada anak-anaknya, apalagi jika ada sampai ada kejadian yang tidak bisa dia bayangkan.


"Bee hanya takut Boo."


Amy ingat dengan kejadian yang terjadi pada Cresen. Sepupunya Shiro Yuki yang datang dari Jerman dulu, yang pernah mengejar-ngejar dirinya.


Pada kenyataannya, Cresen frustasi dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang hingga over dosis. Meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit, di Bandung, tapi tiga hari kemudian Cresen menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


Shiro Yuki memeluk Amy, menenangkan istrinya. Karena dia tahu jika istrinya itu sedang membayangkan kejadian yang terjadi pada Cresen, seandainya itu harus terulang pada anaknya, Marcel.


"Semua akan baik-baik saja Bee."


__ADS_2