Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Awalan


__ADS_3

"Tu... Tuan Muda..."


"Ehhh, maksudnya Reo Sayang, Mama boleh ikut ya ke villa?" bisik Amy di dekat Reo.


Dia masih berusaha supaya bisa diajak pergi ke villa, dengan membujuk Reo, supaya nanti Reo yang memintanya ikut serta. Jika Reo yang meminta sendiri, kakek dan neneknya pasti akan memperbolehkan Amy ikut ke villa. Begitu juga dengan papanya Reo, Shiro Yuki.


Mereka bertiga tidak mungkin menolak permintaan dari Reo, dan pastinya Amy juga akan diajak serta ke villa, meskipun Shiro Yuki nantinya juga akan ikut.


Tapi ternyata harapan Amy tidak terkabul, karena Reo menjawab tidak setelah melihat ke arah nenek dan kakeknya. "Mama Amy di rumah saja, nanti katanya akan ada adek bayi kok," ucap Reo polos, tanpa tahu maksud perkataan neneknya yang tadi.


Shiro Yuki tentu saja langsung menatap ke arah Amy, begitu juga dengan Cresentia dan Yuki Nagato, yang saling pandang sambil tersenyum-senyum tanpa bersuara.


Hal ini membuat Amy meringis canggung, tanpa berani melihat ke arah yang lain, karena dia ketahuan sedang membujuk Reo.


"Ya sudah, ayo sarapan dulu. Setelah itu kita bersiap-siap untuk berangkat ke villa. Nenek akan segera menghubungi pihak penjaga villa, agar mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan di sana nanti. Termasuk jagung juga."


Mendengar perkataan Maminya, Shiro Yuki akhirnya paham jika semuanya ini sebenarnya hanya rencana dadakan maminya. Bukan rencana lama, karena segala sesuatu yang diperlukan untuk liburan mereka di villa baru mau dipersiapkan.


Tapi Shiro Yuki tidak mau berkomentar. Dia bahkan tertawa dan bersorak dalam hati, karena mendapatkan kesempatan dari kedua orang tuanya untuk bisa bebas melakukan apa saja dengan istrinya di rumah.


Jika biasanya pasangan pengantin baru yang pergi berlibur atau bulan madu, mereka tentu memiliki pemikiran yang berbeda, sehingga kedua orang tuanya lah yang justru menyingkir dari rumah.


Hal ini karena keadaan Amy, yang sepertinya belum terbiasa dan belum bisa menerima sepenuh hati dengan Shiro Yuki sebagai suaminya.


"Terus nanti jika di rumah ini tidak ada orang, Saya mau ngerjain apa Nyo... emhhh, Mami?"


Amy bertanya dengan gugup, karena dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan tanpa adanya Reo di rumah besar ini.


"Bikin adek bayi!" celetuk Yuki Nagato cepat.


Mata Amy terbelalak kaget, sedangkan Shiro Yuki tersedak.


"Uhuk... uhuk!"


Dengan cepat Shiro Yuki menyambar gelas berisi air putih yang ada di depannya. Dia tidak pernah menyangka, jika papinya akan dengan gamblang mengatakan hal tersebut di depan Amy dan Reo juga.


Amy tertunduk makin dalam, tanpa berani melihat sekeliling. Sedangkan Reo justru bertepuk tangan sambil bersorak senang.

__ADS_1


Plok plok plok...


"Hore... Mama Amy mau buat adek bayi! Horeee..." Reo benar-benar merasa sangat senang, mendengar jika mama Amy nya bisa membuat adik bayi.


Pluk!


"Papi! ada Reo Pi..." Cresentia mengingatkan suaminya supaya memilah-milah kata, karena ada cucunya yang masih balita.


"Hehehe... gemes Papi Mi," kesah Yuki Nagato, yang sedari tadi melihat interaksi antara anak dan menantunya kaku, seperti orang yang tidak saling kenal.


"Itu semua cuma pencitraan Pi, beda jika di dalam kamar pastinya." Cresentia mengingatkan suaminya sambil berbisik-bisik.


Hal ini membuat suasana sarapan pagi mereka terasa canggung. Bahkan Amy tidak berani menyuap makanan ke mulutnya, hanya meladeni Reo saja. Dan ini tidak luput dari perhatian Shiro Yuki.


*****


Siang ini rumah besar keluarga Nagato sepi, karena Reo bersama dengan nenek dan kakeknya sudah berangkat ke villa, sepuluh menit yang lalu.


Cup!


Amy sangat terkejut, sebab tiba-tiba saja Shiro Yuki menarik tangannya, kemudian dengan cepat mengecup bibirnya tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Bee, Kamu ada hukuman satu, jadi harus Bee terima biar gak jadi hutang."


Mendengar perkataan Shiro Yuki, Amy mengerutkan keningnya bingung. "Hutang? Aku hutang apa? kok di hukum dengan ciuman? Tuan aneh-aneh saja!"


Amy justru membatin, dengan pertanyaan demi pertanyaan yang ada di benaknya. Dia lupa dengan aturan yang sudah dibuat oleh suaminya itu.


"Kamu lupa? Semalam sebelum tidur kita sudah membuat kesepakatan."


Mata Amy langsung membulat sempurna, mengingat aturan tersebut. Dia merasa jika aturan itu hanya menyudutkan dirinya saja, dengan memberikan keuntungan bagi Shiro Yuki. Dia ingin protes sekarang, mumpung tidak ada orang yang bisa mendengar.


"Tapi Tuan, ini..."


Cup!


"Terusin nyebut Tuan, biar Aku puas cium bibir Bee." Dengan tersenyum senang, Shiro Yuki menyuruh Amy untuk tetap menyebutnya dengan sebutan Tuan.

__ADS_1


"Tapi ini aturannya enak di Tu... Boo!" protes Amy. Tapi pada akhirnya dia patuh juga dengan menyebut Shiro Yuki mengunakan sebutan Boo.


"Mana ada enak, Aku juga capek!" gerutu Shiro Yuki dengan muka masam.


Kepala Amy miring untuk bisa melihat bagaimana ekspresi wajah suaminya, yang sepertinya kecewa dengan tuduhannya.


"Tu... Boo capek dari mana?" tanya Amy bingung, karena dia berpikir bahwa hanya sekedar mencium begitu saja capek. "Pasti Tuan berbohong. Dia cuma mencari alasan saja biar tidak Aku salahkan!"


"Kenapa? Kamu tidak percaya jika Aku capek?" tanya Shiro Yuki, melihat bagaimana reaksi dari istrinya yang seperti orang tidak percaya.


Tapi sebelum Amy sempat menjawab pertanyaan tersebut, tangan Shiro Yuki sudah memegangi kedua tangannya, sedangkan satu tangan yang lain menegang leher bagian belakang.


Kepala Amy jadi mendongak, dengan posisinya yang berdiri tepat di depan Shiro Yuki. Mereka berdua berdiri dalam jarak yang sangat dekat, sehingga membuat Amy merinding sendiri.


"Tuan mau apa ini? Ak... Aku..."


Amy tidak sempat lagi berpikir dan berbicara dalam hati, karena bibir Shiro Yuki kembali menempel pada bibirnya. Terasa kenyal dan aneh untuk Amy rasakan.


Ada ribuan kupu-kupu yang terbang dari perutnya, merasakan desiran aneh yang tiba-tiba datang. Tubuhnya seakan-akan lemas dan tidak mampu untuk memberontak.


Otak dan keinginannya jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh setiap inci pori-pori kulit Amy saat ini.


"Jangan membuatku capek lebih lama lagi Bee..." bisik Shiro Yuki dengan suara rendah.


Amy bahkan merinding sendiri, saat mendengar suara suaminya itu dari telinganya yang sedang dalam keadaan seperti sekarang ini.


Bibir Shiro Yuki kembali menempel pada bibir Amy, kemudian menekannya sedikit. Tapi belum sempat dia melakukan ciuman yang lebih dalam, dari arah pintu masuk utama, ada suara orang yang mau manggil-manggil namanya.


"Kak Shiro... kak Shiro..."


"Tante Cresentia... Aku datang!"


"Keponakanmu yang paling tampan datang ini! Mana sih kok gak ada yang menyambut kedatanganku?"


"Paman... paman Yuki Nagato..."


"Sial! Bocah tengil itu datang di saat yang tidak tepat!" umpat Shiro Yuki dalam hati, mendengar suara siapa yang memanggil-manggil namanya barusan.

__ADS_1


__ADS_2