Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
POV Shiro Yuki


__ADS_3

Pemandangan indah di perkampungan sekitar villa yang biasanya bisa Aku nikmati, sekarang ini justru tidak membuatku merasa tidak nyaman. Padahal hal inilah yang paling penting pada saat liburan di villa, yaitu menikmati keindahan alam pedesaan, pegunungan yang masih asri.


Hamparan perkebunan teh yang hijau yang biasanya menyegarkan mata, kini tidak lagi terasa. Rengekan-rengekan Reo yang meminta untuk mampir memetik teh, dengan ibu-ibu pemetik teh, juga tidak Aku hiraukan. Padahal biasanya Aku selalu mengiyakan permintaannya.


Entahlah, sejak kedatangan Cresen di rumah, yang ada Jakarta, Aku sudah merasa tidak senang dan tenang.


Bukannya Aku membenci adik sepupuku itu, bukan! tapi kelainan yang terjadi pada dirinya itu yang membuatku tidak bisa menerimanya dengan lapang dada. Apalagi sekarang ada Amy, istriku yang baru saja Aku nikahi beberapa hari kemarin.


Ini adalah sebuah ancaman yang besar untukku, sebab kelainan yang dimiliki Cresen adalah kebiasaannya yang tidak lazim. Yaitu kelainan yang menyimpang dengan segala petualangan yang dilakukannya untuk bisa menaklukkan seorang wanita, yang jelas-jelas sudah memiliki pasangan.


Ini memang tidak terlihat secara nyata, dan mungkin masih dibilang wajar jika berada di luar negeri, yang notabene menganut paham bebas, termasuk s3kk.


Tapi kelainan pada Cresen ini tugas sudah mendapatkan terapi beberapa kali di Jerman, sebab mamanya Cresen tidak mau jika anak tunggalnya itu terus menjalani kehidupan yang tidak wajar.


Dulu, terakhir kali dia datang ke indonesia pada saat Reo berumur 5 bulan. Jadi 2 bulan setelah Lay Sanespere pergi dan mengajukan tuntutan cerai, sehingga sedikit banyak Cresen mengetahui permasalahan keluarga kecilku.


Tapi berita terakhir yang Aku terima dari mamanya Cresen, setengah tahun yang lalu dia baru saja terlibat dalam hubungan yang tidak sehat lagi, karena berpacaran dengan istri dari pemilik toko yang berada tidak jauh dari rumahnya.


Dan sekarang dia datang ke Indonesia, pada saat Aku baru saja menikah.


Melihat gelagat Cresen yang aneh, tentu saja Aku harus waspada. Aku mendesak mami dan papi untuk meminta keponakannya itu, supaya segera pulang ke Jerman saja.


Aku bukannya takut tersaingi atau tidak percaya dengan Amy, tapi pesona Cresen sebagai seorang laki-laki yang sempurna memang melebihi apa yang aku miliki.


Selain wajahnya yang memang lebih ke bule, dia juga memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dibandingkan denganku. Dia juga terbiasa berbicara lembut, sebab di Jerman dia bekerja di perusahaan papanya, pada posisi lapangan yang lebih banyak bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang.


Jadi bisa dipastikan jika Cresen memiliki tehnik tersendiri agar lawan bicaranya bisa takluk, percaya dan nyaman pada saat berbincang-bincang dengannya.


Apalagi Aku sangat tahu bagaimana keadaan Amy yang masih polos, dan belum banyak mengenal kriteria laki-laki.

__ADS_1


Tentu saja Aku tidak mau jika sampai terjadi sesuatu yang tidak Aku inginkan. Aku tidak mau kehilangan Amy, sebab dia adalah istriku, yang bisa diartikan sebagai pilihan yang berikan Reo untukku.


Aku tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi dengan Amy, sebab Reo bisa mendapatkan dampaknya juga.


Apapun akan Aku lakukan untuk menjaga Amy dan Reo, meskipun harus melawan adik sepupuku sendiri. Aku harus mencari alasan yang tepat, supaya Cresen bisa segera kembali ke Jerman. Tapi tanpa harus menyinggung perasaan Cresen dan kedua orang tuanya di Jerman sana.


Aku sudah mendiskusikan permasalahan ini bersama dengan mami dan papi. Tapi mereka berdua juga tidak tahu, apa yang harus mereka lakukan agar keponakannya itu mau pulang dengan kesadarannya sendiri.


Mereka berdua tidak ingin membuat adik dan adik iparnya di Jerman berasa tersinggung, karena Cresen di usir dari Indonesia. Tapi Aku tetap memaksa mereka tidak ingin melihat keutuhan rumah tanggaku bersama dengan Amy. Apalagi ini adalah pernikahanku yang kedua kalinya.


Tidak mungkin mereka mau melihat anaknya gagal untuk kedua kalinya, dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Sebagai orang tua, mami dan papi pasti menginginkan yang terbaik untukku. Jadi mereka setuju dengan rencana yang akan Aku lakukan nanti.


"Aku duluan ya!"


Aku mengerutkan kening, di saat mendengar suara Cresen yang pamit untuk pulang dan berjalan lebih cepat mendahului kami, yaitu Aku, Amy dan Reo.


Aku masih menenangkan anakku yang ingin memetik teh, karena Aku sedang tidak mood.


"Ya sudah ayo, tapi jangan lama-lama ya!"


Amy justru merasa tidak enak, karena Aku membawa banyak plastik kresek belanjaan yang tadi di beli di pasar.


"Boo, apa sebaiknya Bee pulang terlebih dahulu membawa plastik-plastik itu ke villa?" tanya Amy meminta persetujuan.


Plastik-plastik yang berisik kue-kue dan jagung untuk di bakar, memang Aku yang membawanya, sehingga dia merasa kasihan juga pada saat Reo mengajakku memetik teh.


"Tidak usah Bee biar saja. Sini Kamu juga ikut!"


Aku tidak membiarkan Amy untuk pulang terlebih dahulu ke villa, karena jika sampai Amy pulang, hal itu justru memberikan kesempatan kepada Cresen agar bisa mendekati istriku ini.

__ADS_1


Tidak-tidak! Hal ini tidak boleh terjadi.


Untungnya Amy bukan tipe wanita pembangkang dan tidak banyak bertanya, atau bisa jadi karena dia masih merasa sungkan dekat-dekat denganku.


Untuk hal ini Aku sudah mempunyai rencana untuk membawanya bulan madu ke Bali atau Singapore. Tapi tentunya setelah dia tidak berhalangan lagi.


Oh ya, kalian semua pasti masih ingatkan, jika istriku itu baru saja mendapatkan tamu bulanan sebelum kami berangkat ke villa kemarin?


Hal ini juga yang membuatku kesal dan marah. Tapi mau bagaimana lagi, keadaannya memang seperti itu, dan Aku memaklumi gejala normal pada umumnya setiap wanita yang sehat.


Sekarang kami bertiga justru menyusuri perkebunan teh yang hijau dan menyegarkan mata, karena sejauh mata memandang, yang ada hanya hamparan teh yang hijau dan berbau harum.


"Pa, papa! nanti sore jadi kan pergi berkuda?"


Reo tiba-tiba bertanya, mengingatkan Aku akan permintaannya yang tadi, sewaktu berada di pasar.


Aku hampir saja mengatakan tidak, tapi di saat melihat ke arah Amy yang juga tampak antusias dengan ajakan Reo, mau tidak mau Aku menganggukkan kepalanya. Menyetujui untuk berkeliling perkebunan teh dengan menggunakan kuda.


"Bagaimana jika besok saja? Sepertinya sore ini mau hujan."


Aku bukan hanya memberikan alasan, tapi melihat cuaca dan warna langit yang tidak begitu cerah, memungkinkan akan turunnya hujan sore atau mungkin malam harinya.


Mendengar perkataan dan alasan yang Aku berikan, membuat Amy mendongakkan kepalanya untuk melihat ke langit. Begitu juga dengan Reo, yang langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Reo maunya nanti sore Pa. Jika memang turun hujan, ya gak jadi."


Amy justru tersenyum simpul mendengar perkataan Reo yang ngeyel! Dan Aku menyukai senyum itu.


"Ok."

__ADS_1


Akhirnya Aku menyetujui permintaan Reo, demi bisa melihat senyum Amy juga.


__ADS_2