Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Aku Bantu Gigit


__ADS_3

Hari sudah berganti malam, di saat mobil keluarga Nagato sampai di rumah. Reo bahkan sudah tertidur pulas, dipangkuan Amy. Sedangkan Shiro Yuki menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


Apa yang dilakukan oleh Shiro Yuki ini membuat Cresen cemberut sedari tadi, sebab dia menginginkan posisi Shiro Yuki yang seperti itu.


'Huh! Aku juga bisa. Awas saja nanti!'


Begitulah kira-kira tekad Cresen, yang menginginkan dirinya bisa lebih dekat lagi dengan Amy. Kakak iparnya sendiri, yang tentu saja itu dilarang untuk dia dekati secara khusus karena niatan buat merebut.


"Ayo turun!"


Cresentia membuka pintu mobil, dan meminta pada keponakannya itu untuk segera turun. Dia juga membantu Amy, saat menurunkan Reo yang masih dalam keadaan tertidur.


Shiro Yuki sudah membuka matanya, kemudian membantu istrinya untuk turun.


"Maaf, bahu Bee jadi capek. Nanti Aku bantu pijit ya," ucap Shiro Yuki sambil tersenyum senang. Sebab sepanjang perjalanan tadi dia bisa lebih dekat dengan istrinya, meskipun itu karena dia yang memang menempel dan tidak mau melepaskannya.


Dia tidak mau memberikan kesempatan pada sepupunya, Cresen, yang selalu mencari kesempatan untuk bisa mendapatkan perhatian khusus dari istrinya.


Jadi dia melakukan segala cara, agar Amy hanya fokus pada dirinya atau Reo, jika ada Cresen diantara mereka.


Akhirnya mereka sudah berada di dalam rumah, kemudian masing-masing dari mereka masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Sebelum nantinya makan malam bersama, karena saat ini baru saja pukul 07.00 malam.


"Mi, sini Reo nya!"


Shiro Yuki meminta anaknya yang masih berada dalam gendongan neneknya, agar dia bisa membawa Reo untuk beristirahat di dalam kamar.


"Tapi nanti dia justru bangun Shiro," ujar Cresentia, khawatir jika Reo jadi terbangun dari tidurnya dan tidak bisa tidur lagi.


"Gak apa-apa Mi. Reo malah bisa mandi dan ikut makan malam juga nanti."


Cesentia menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan dari anaknya. Setelahnya dia menyerahkan Reo pada Shiro Yuki, kemudian pergi menuju ke kamarnya sendiri. Dia juga mereka sangat lelah sehingga ingin beristirahat sebentar setelah selesai mandi, dan sebelum mereka makan malam pada jam 8 malam atau setengah sembilan.


"Semua sudah siap di meja makan Nyonya Besar." Asisten rumah tangga melapor kepada Cresentia tentang menu makanan yang sudah disiapkan.


"Ya tunggu sebentar. Kami mau membersihkan diri dulu."


ART tersebut membungkukkan badannya sedikit, kemudian berlalu dari hadapan Nyonya Besar-nya.

__ADS_1


Di kamar Shiro Yuki.


Amy sudah selesai membersihkan dirinya, kemudian menuju kamar Reo untuk melihat keadaan anaknya. Sebab tadi Shiro Yuki yang memintanya untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sedangkan dirinya sendiri yang mengurus Reo.


Ternyata Reo sudah bangun, bahkan sudah selesai mandi. Dia juga sudah berganti pakaian, dan semua itu dibantu papanya.


"Terima kasih Boo," ucap Amy.


"kenapa? Dia anakku, dan Aku juga sudah terbiasa melakukannya sejak dulu."


Shiro Yuki seakan-akan menegaskan, bahwa keberadaan Amy bukan hanya untuk mengurus Reo saja. Tapi sebagai pendamping hidupnya yang bisa membantunya mengurus anak-anaknya nanti.


"Jika Bee sudah punya anak nantinya, Boo juga makan membantu mengurus kok."


Amy tersenyum malu-malu, mendengar perkataan suaminya barusan, yang menyinggung soal anak.


"Reo suka gak, jika mama Amy punya adek?" tanya Shiro Yuki beralih pada Reo.


"Bisa Pa?"


"Mama bisa punya adek bayi?"


Tapi Amy sendiri justru mengigit bibirnya sendiri, tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang diajukan oleh anaknya barusan. Dia sendiri belum merasa yakin, jika dia sudah berstatus sebagai istri dari Shiro Yuki. Duda kaya raya yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


"Mama pasti bisa buat adek bayi. Tapi dibantu Papa, gak bisa sendirian."


Perkataan Shiro Yuki yang terakhir ini, membuat Amy membelalakkan matanya kaget. Dia tidak pernah menyangka, jika suaminya itu bisa berbicara sejelas itu di depannya Reo.


"Ya udah sana Papa bantuin mama buat adek bayi," pinta Reo cepat. Dia tidak paham dengan maksud perkataan papanya.


Amy hanya bisa meringis saja, mendengar perkataan suaminya yang tidak difilter.


"Ehhh, gak bisa sembarangan Sayang. Harus ada waktunya yang pas. Sama seperti Reo juga, yang tidak bisa sembarangan masuk sekolah. Benar kan Ma?"


Sekarang Shiro Yuki justru memberikan pertanyaan tersebut kepada Amy, padahal istrinya itu sudah tidak tahu harus bersikap seperti apa dalam keadaan seperti ini.


Amy benar-benar merasa canggung dengan tema obrolan mereka kali ini. Meskipun sebenarnya Reo tidak paham dengan maksud perkataan papanya, yang sedang menyindir mamanya soal adek bayi dan waktu yang pas.

__ADS_1


"Reo..."


Untungnya Cresentia datang di waktu yang tepat, memanggil cucunya untuk diajaknya makan malam.


"Wah... Nenek pikir Reo justru masih tidur, ternyata sudah rapi. Ayo kita makan dulu!"


Reo dengan cepat menganggukkan kepalanya, mengikuti ajakan neneknya. Dia memang sudah merasa lapar, meskipun tidur dalam perjalanan.


"Ayo Ma, Pa!"


Saat melewati pintu kamarnya, Reo menoleh untuk mengajak papa dan mamanya juga. Tapi neneknya tidak juga berhenti, sehingga Reo terus mengikuti neneknya dan tidak menunggu papa dan mamanya.


"Bee, emhhh..."


"Boo... mandi dulu ya," pinta Amy pada Shiro Yuki, karena dia berpikir bahwa suaminya itu belum mandi.


"Lho, Aku sudah mandi Bee. Tapi jika Bee mau memandikan, Boo mau kok mandi lagi!" sahut Shiro Yuki cepat, sebab dia sudah mandi bersama Reo tadi.


Kening Amy mengerut untuk memperhatikan bagaimana keadaan suaminya, dan ternyata benar, jika pakaian yang dikenakan oleh Shiro Yuki tidak sama seperti yang dikenakan pada saat pulang dari villa. Shiro Yuki sudah berganti pakaian, dan Amy tidak memperhatikannya tadi.


"Kamu ya, tidak memperhatikan suaminya sendiri. Jadi harus dihukum!"


Amy belum sempat menjawab atau mengelak, tapi tangan Shiro Yuki dengan cepat menangkap tubuhnya, kemudian merapatkannya dengan tubuhnya sendiri.


Shiro Yuki memeluk tubuh Amy dengan erat, kemudian berkata kepada dirinya, memberi nasehat dan peringatan.


"Bee, jangan pernah merasa Kamu adalah pengasuhnya Reo. Tapi Kamu adalah mamanya Reo, karena Kamu adalah istriku Bee!" Shiro Yuki menekankan pada Amy, tentang posisinya sekarang ini.


Amy mengigit bibirnya sendiri, dengan keadaan dirinya yang dipeluk oleh Shiro Yuki. Dadanya sudah bergemuruh tidak karuan, dalam keadaan seperti ini.


Dia juga bisa mendengar detak jantung suaminya, yang sama kencangnya. Dia tidak berani bergerak, dan membiarkan Shiro Yuki yang mendominasi dirinya.


Shiro Yuki jadi gregetan sendiri, karena Amy hanya diam sedari tadi. Bahkan menggigit bibirnya sendiri supaya tidak berbicara.


Cup


Shiro Yuki mencium bibir isterinya dengan cepat, supaya kaget dan tidak lagi mengigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Jangan digigit sendiri. Aku mau kok bantu menggigitnya."


Ehhh...


__ADS_2