
"Kenapa?" tanya Shiro Yuki, di saat melihat kepala Amy yang mengeleng beberapa kali.
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam kamar utama, kamarnya Shiro Yuki, yang tidak membiarkan Amy lolos dari rencannya untuk mengerjai dirinya lagi.
"Kamu tidak mau memanggilku dengan sebutan Boo atau Sayang?" tebak Shiro Yuki, mengartikan gelengan kepala istrinya.
"Emhhh... memang itu harus ya Tuan?"
Amy justru mengajukan pertanyaan yang membuat Shiro Yuki membuang nafas cepat. "Hhh...!"
Wajah Amy dihiasi senyuman canggung karena mendapati bahwa pertanyaannya yang tadi sudah membuat Shiro Yuki kesal. Amy jadi berpikir dalam hati, "mampus Aku! sudah gak patuh malah buat Tuan kesal. Bagaimana ini? padahal Aku ada di dalam kamarnya juga. Argh... boleh keluar dan tidur di kamar sendiri gak sih? Aku gak yakin bahwa bisa tidur dengan nyenyak di kamar besar ini."
Shiro Yuki memperhatikan bagaimana cara Amy melihatnya dengan senyumnya yang mirip senyuman kuda itu. Dia juga yakin jika saat ini istrinya itu sedang memikirkan sesuatu di dalam hatinya.
"Apa yang Kamu pikirkan? ayo tidur!" titah Shiro Yuki, membuat mata Amy membulat sempurna di saat mendengar perkataannya yang mirip sebuah perintah.
Tapi Amy tidak mau berdebat lagi dengan Shiro Yuki, sehingga dia langsung memposisikan dirinya untuk tidur.
"Apa Kamu selalu tidur tanpa mencuci tangan, kaki, dan mukamu terlebih dahulu?" Pertanyaan tersebut diajukan oleh Shiro Yuki, karena melihat istrinya langsung berbaring tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
"Ini... ini bersih Tuan..."
Cup!
Amy melotot lagi, pada saat Shiro Yuki mengecupnya singkat sambil berkata, "setiap Kamu menyebutku dengan sebutan Tuan, maka Aku akan memberimu hukuman!"
"Hukuman? hukuman apa Tuan?" tanya Amy panik. Apalagi rasa terkejutnya tadi belum hilang sempurna.
Cup!
"Ehhh..."
"Satu kali salah panggil, satu kecupan!"
Amy hampir saja mengeluarkan suara untuk protes, tapi cepat kembali menutup mulutnya dengan mengigit bibir bawahnya, karena Shiro Yuki mendekatkan wajahnya sambil berkata lagi, "Aku mau Kamu memanggilku dengan sebutan Boo. Begitu juga dengan Aku yang akan memanggilmu dengan sebutan Bee. Jika sampai salah sebut, hukuman yang diberikan adalah satu kecupan di bibir."
__ADS_1
"Jadi jika Kamu salah sebut, hitung saja sendiri, berapa kali kecupan yang harus Kamu terima. Begitu juga dengan Aku sendiri. Jika sampai Aku salah menyebutmu, Kamu harus memberikan Aku hukuman juga, sama seperti yang Kamu terima."
"Itu sih dia yang menang terus! ini hukuman gak ada yang lain apa ya?" batin Amy mempertanyakan hukuman yang harus dijadikan aturan.
"Kamu tidak bisa protes Bee. Jadi ayo kita tidur!" Shiro Yuki dengan entengnya menarik tangan Amy supaya berbaring bersama dengannya.
"Eh, emh... tapi Tu... Bo... o tidak bersih-bersih dulu?" tanya Amy gugup, mengingatkan pada Shiro Yuki untuk membersihkan kaki dan tangannya terlebih dahulu sebelum tidur, sama seperti yang tadi ditanyakan oleh Shiro Yuki padanya.
Mendengar Amy yang hampir salah menyebutnya, Shiro Yuki tersenyum di kulum. "Ternyata patuh juga dia, dan ini menyenangkan. Hahaha..." batin Shiro Yuki bersorak menang.
"Aku sudah selesai mandi tadi sebelum masuk ke kamarnya Reo. Jadi tidak usah banyak bicara, ayo tidur!"
Amy menurut saja, berbaring di sampingnya Shiro Yuki. Tapi dia merasa aneh, karena harus tidur bersama dengan orang lain, dan itu adalah laki-laki dewasa. Tentu saja ini membuat Amy tidak bisa tertidur dengan nyaman. Matanya juga tidak bisa cepat terpejam, sehingga dia jadi gelisah.
Grep!
Cup!
"Tidurlah. Aku tidak akan ngapa-ngapain Bee untuk malam ini. Aku tahu Bee sedang capek, jadi begini lebih baik."
Tapi posisi tubuhnya yang sedang dipeluk suaminya itu membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk bernafas saja dia sangat hati-hati. Takut jika apa yang dia lakukan membuatnya Shiro Yuki terbangun.
"Cepatlah tidur Amy! Aku sudah berusaha untuk tetap diam dan tidak menerjang mu malam ini, karena Kamu pasti sangat capek. Aku juga sangat capek, jadi apapun yang kita lakukan tidak maksimal nantinya."
Dalam hati Shiro Yuki berharap agar istrinya itu cepat tertidur, karena saat ini dia masih terjaga. Merasakan pergerakan Amy yang gelisah dan belum juga memejamkan mata.
Sayangnya Shiro Yuki benar-benar merasa nyaman dengan posisinya yang sedang memeluk Amy. Dia tidak sadar sudah benar-benar masuk ke dunia mimpi. Sedangkan Amy sendiri belum bisa terpejam, meskipun dia sudah pura-pura memejamkan matanya sedari tadi.
Di saat mendengar suara nafas Shiro Yuki yang teratur, Amy mencoba untuk memberanikan diri menoleh ke arah suaminya yang telah terlelap.
"Aku tidak tahu jika pernikahan ini benar-benar ada, dan bukan karena Reo. Tapi... Aku masih belum berani bermimpi. Aku berharap agar apa yang tadi Kamu katakan benar adanya Tuan."
"Ups! Aku tidak boleh menyebutnya dengan sebutan Tuan. Dia bisa keenakan cium-cium terus, dan itu tadi aturan dari mana jika dia salah sebut juga Aku harus cium dia?"
"Bukankah itu dia yang menang terus? tapi... rasanya bibir Tuan juga aneh saat menyentuh bibirku."
__ADS_1
Amy masih berbicara dalam hati, saat tangannya terulur untuk menyentuh bibir suaminya yang sedang tertidur.
Awalnya dia ragu-ragu untuk menyentuh bibir Shiro Yuki, yang sudah membuat bibirnya tidak lagi perawan. Tapi membayangkan bagaimana rasanya tadi dicium bibir tersebut membuat Amy memberanikan diri.
Pada saat tangannya menyentuh bibir Shiro Yuki, Amy mengigit bibirnya sendiri. Takut jika suaminya itu akan terbangun.
"Emhhh..."
Dengan cepat Amy menarik tangannya dari bibir Shiro Yuki, di saat laki-laki tersebut merasa ada yang menggangu tidurnya. Matanya juga cepat terpejam, takut jika apa yang sedang dia lakukan ini ketahuan.
Amy pura-pura tidur menghilangkan jejak, bahkan akhirnya dia benar-benar tidak sadar jika tertidur, entah di pukul berapa bisa benar-benar terpejam. Yang pasti Shiro Yuki tidak terbangun dan terganggu dengan aktifitas Amy yang meraba bibirnya.
*****
"Selamat pagi Sayang!"
Cup!
Shiro Yuki mengucapkan selamat pagi pada Reo, kemudian mengecup pipi anaknya yang sudah siap di meja makan bersama dengan istrinya.
Cup!
"Pagi Bee."
Dia juga melakukannya pada Amy, yang membuat pipi isterinya merona merah. Setelah itu Shiro Yuki duduk di kursi yang biasanya, yang ada di dekat anaknya, Reo.
"Pagi pengantin baru..."
Cresentia datang bersama dengan Yuki Nagato, kemudian tersenyum senang dengan melirik ke arah suaminya.
"Pi, sepertinya tidak lama lagi rumah ini akan ada tangis bayi. Ahhh... Mami tidak sabar Pi!"
Yuki Nagato bingung dengan perkataan istrinya barusan, kemudian bertanya, "Mami sedang hamil?"
*****
__ADS_1
#Duh si Papi salah paham gak sih ini?