
Di belakang panggung pelaminan, Amy menyuapi Reo yang tadi minta makan. Padahal dia sendiri juga sebenarnya sudah merasakan lapar sejak tadi. Jadi sekarang mereka makan berdua, asyik dengan tidak menghiraukan keadaan pesta pernikahan.
"Ma, Mama Amy!"
"Ya Tuan Muda, ada apa? masih mau nambah lagi?" Amy langsung bertanya pada Reo, dengan memberikan beberapa tawaran.
Amy berpikir jika Reo masih merasa lapar, karena makanan yang tadi ikut dia makan, sehingga anaknya itu masih belum kenyang.
Tapi ternyata Reo menggelengkan kepalanya cepat, sebab dia memang sudah tidak merasa lapar lagi. Ada beberapa pertanyaan yang saat ini sedang diajukan oleh Reo, yang itu membuat Amy pusing dan tidak bisa memberikan jawaban dengan cepat.
Pertanyaan demi pertanyaan tersebut diajukan Reo, padahal saat ini pesta pernikahan Amy bersama dengan papanya masih berlangsung.
"Mama jangan panggil Tuan Muda lagi sama Reo, sebab kata nenek itu tidak boleh."
"Tapi Reo bingung, Mama mau panggil Reo apa? terus kenapa tidak boleh panggil Tuan Muda lagi? padahal kemarin-kemarin Reo sudah bilang kalau Mama jangan panggil Aku Tuan Muda, tapi Mama gak mau juga."
"Terus... terus itu, kata nenek sama kakek, kalau Mama sedang sama Papa Reo gak boleh gangguin. Memang Reo gangguin apa?"
"Reo kan gak anak nakal ya Ma? gak bakal gangguin kan Ma?"
Amy melongo mendengar semua pertanyaan dari Reo barusan. Dia juga berpikir jika kedua orang tua di rumah ini tidak tahu apa-apa tentang apapun, yang dilakukan oleh anaknya dengan adanya pernikahan ini.
"Mama-mama... kata nenek lagi, jika besok-besok Reo akan punya adek ya Ma, dari perutnya Mama. Bisa kan Ma?"
Pertanyaan yang terakhir ini membuat Amy terbelalak dan tidak mempercayai, bahwa neneknya Reo sudah mempengaruhi cucunya sendiri, dengan sesuatu yang tidak mungkin.
"Bagaimana bisa Aku punya bayi, jika pernikahan ini hanyalah bentuk pekerjaan yang Aku lakukan?"
"Nyonya Besar terlalu berharap banyak, padahal anaknya sendiri tidak ada niatan untuk menjadikan Aku sebagai seorang istri yang sebenarnya."
__ADS_1
"Ehhh... mikir apa Aku ini? kenapa Aku justru berharap yang tidak-tidak? sadar Amy...ini bukan pernikahan yang sesungguhnya. Woiii sadar woiii! Bangun Amy, semua hanya ada di dalam mimpimu."
Amy justru bergumam sendirian, dengan bicaranya yang tidak jelas. Apalagi satu tangannya yang sedang memegang piring, memukul mukul keningnya sendiri. Sama seperti orang yang sedang menyadarkan dirinya sendiri, supaya tidak banyak berpikir yang bukan-bukan.
"Ma, Mama bicara apa sih?" tanya Reo bingung, karena dia mendengar perkataan Amy yang tidak dia ketahui tentang arti dan maksudnya.
"Ehhh, eghhh... gak apa-apa kok. Yuk balik ke depan lagi! Tuan Muda sudah kenyang kan?" aji Amy, usaha untuk mengalihkan perhatian anak asuhnya, sekarang telah menjadi anak tirinya sendiri.
Reo dengan cepat menganggukkan kepalanya, mengiyakan ajakan mamanya. Sebab dia memang sudah merasa kenyang.
Sekarang mereka berdua kembali ke atas panggung pelaminan, bermaksud untuk menemani Shiro Yuki yang tadi mereka berdua tinggalkan sendirian.
Tapi ternyata di panggung pelaminan sudah tidak ada orang. Reo mencari-cari keberadaan papanya, pengen mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan gedung, yang digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan papanya.
Begitu juga Amy, yang mencari-cari sosok suaminya diantara banyaknya tamu undangan yang hadir. Dia kebingungan karena terlalu banyaknya undangan, sedangkan mereka ada yang berdiri dan juga ada yang duduk.
"Oh, tadi Saya melihatnya berada di sebelah sana Nona!" Amy mengarahkan pandangan matanya, ke tempat yang ditunjuk oleh mas-mas tersebut.
Ternyata Shiro Yuki sedang berbincang dengan college bisnisnya, tak jauh dari meja prasmanan. Hal ini membuatnya tersenyum, kemudian memberitahu pada Reo, di mana papanya sekarang berada.
"Tuan Muda, ternyata papanya di sana tuh!"
Hari telunjuk Amy memberikan petunjuk pada Reo, sehingga arah pandang mata Reo juga terarah pada ujung jari telunjuk Amy.
"Oh iya itu papa!"
Hampir saja Amy melarang anaknya itu untuk berlari ke tempat papanya berada, Katena dia tidak ingin membuat Shiro Yuki terusik dengan kehadiran anaknya. Padahal bisa jadi suaminya itu sedang berbincang-bincang mengenai urusan kantor.
Tapi niatannya untuk menghentikan Reo urung, di saat dua melihat senyum Shiro yang terlihat lepas, pada saat berbincang-bincang dengan beberapa orang di sana. Di tambah lagi dengan adanya dua orang wanita muda yang sama cantiknya, tidak ubahnya seperti Lay Sanespere.
__ADS_1
Aku yakin jika dua wanita tersebut adalah orang-orang berkelas, yang mampu melakukan perawatan dengan satu kali perawatan 2 bulan gajinya mengasuh Reo.
"*Aku... Aku kenapa merasa ada yang nyeri, di saat melihat Tuan Besar berbincang-bincang dengan wanita-wanita tersebut."
"Padahal belum tentu juga mereka punya hubungan. Dan... dan ini semua hanya karena pekerjaanku kan*?"
Amy terus membatin, hingga dua akhirnya memilih untuk duduk di sebuah kursi, kemudian meminta kepada salah satu pelayan yang membawa kue-kue untuk memberikannya dari puding.
"Satu pudingnya Mas!"
Setelah mendapatkan puding yang diinginkan, Amy langsung melahapnya, tanpa memikirkan keberadaan banyak tamu yang ada di sekitarnya. Dia juga tidak peduli dengan Shiro Yuki, yang nantinya akan terganggu dengan kedatangan anaknya sendiri yang tadi menyusulnya.
"Mama..."
Amy mengalihkan perhatiannya cepat, dari puding ke arah suara, yang tentunya itu adalah suaranya Reo, sebab hanya anak asuhnya itu yang memanggilnya "Mama" dan tidak mau menyebutnya dengan sebutan lain.
Ternyata ada Shiro Yuki juga, yang sedang menggendong anaknya. "Hemmm... enak sekali Kamu menikmati pesta ini, dan membiarkan Reo berkeliaran sendiri!" sindir Shiro Yuki, dengan menatap puding yang ada di atas meja, yang tadinya sedang dinikmati oleh Amy.
"Ini orang benar-benar merasa terganggu dengan kedatangan Reo? padahal tuan Muda Reo adalah anaknya sendiri," batin Amy kesal.
"Sudah. Kita pulang sekarang! biarkan pihak WO yang membereskan pesta ini!" Shiro menarik tangan Amy untuk diajaknya pulang, karena Reo memang sudah terlihat menguap.
*****
Shiro Yuki adalah seorang pria matang, yang justru sudah berstatus duda. Dia tentunya juga normal, dengan bukti adanya Reo yang telah lahir dari rahim istrinya yang pertama dulu, Lay Sanespere.
Meskipun sebelumnya dia tidak ada ketertarikan dengan Amy, yang merupakan pengasuh anaknya, tapi lama kelamaan rasa itu ada, setelah beberapa kejadian yang membuatnya semakin dekat dengan pengasuh tersebut. Apalagi kemauan anaknya, yang menginginkan seorang mama, dan itu hanya pada Amy, tidak bisa dihiraukan begitu saja oleh Shiro Yuki.
Amy sudah selesai menidurkan Reo di kamarnya, dan kebingungan dengan kamar yang harus dia masuki nantinya. Apalagi Shiro Yuki yang sekarang ini sudah menjadi suaminya, ada di depan pintu kamarnya Reo, seakan-akan sedang menunggunya.
__ADS_1