
Sore ini Reo menagih janji pada papanya untuk bisa berjalan-jalan di area kebun teh, dengan menggunakan kuda.
"Ayo Pa... sore ini gak ujan Pa!" rengek Reo manja, sebab apanya sudah memberikan janji, jika tidak hujan akan berkeliling menggunakan kuda sore ini.
Amy yang sedang duduk mengupas jagung, melihat ke arah suaminya yang tampak malas-malasan. Sedari pulang ke villa, wajah suaminya itu selalu ditekuk, tidak sama seperti jika sedang berada di luar villa. Entah apa yang membuat sikap suaminya itu tampak berubah.
"Tuan... ehhh, Boo kenapa sih itu? Sedari pulang dari pasar wajahnya tidak bersahabat?"
Amy yang udah membiasakan dirinya memanggil dengan sebutan Boo untuk Shiro Yuki, sebab dia tidak mau jika mendapatkan hukuman, merasa ada yang tidak beres dengan suaminya itu.
Tapi dia tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Shiro Yuki.
Sebenarnya dia ingin bertanya, tapi dia takut jika ternyata itu adalah hal yang serius, sehingga akan menyinggung perasaan suaminya sendiri.
Tapi permintaan dan rengekan-rengekan dari anaknya, membuat Amy tidak tahan kemudian bertanya, "Boo. Tadi pagi sudah janji lho, jika tidak hujan akan mengajak Reo dan Aku keliling perkebunan teh dengan menggunakan kuda."
Amy berusaha mengingatkan Shiro Yuki, karena melihat anaknya yang sedari tadi merengek-rengek terus.
"Hahhh..."
Bukannya memberikan sebuah jawaban, Shiro Yuki justru membuang nafas panjang. Dia menoleh ke arah sekeliling, dan akhirnya mengganggukan kepalanya setuju.
"Ayok!"
"Yeee... hore!"
Reo bersorak kegirangan, karena permintaannya disetujui oleh papanya. Dia akan berkeliling kebun teh menggunakan kuda seperti yang diinginkannya tadi pagi.
Tapi gelagat yang diberikan Shiro Yuki, membuat Amy merasa curiga, jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya. Dia akan bertanya nanti, jika ada waktu dan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.
Sekarang mereka bertiga pergi keluar villa, untuk menuju ke peternakan kuda. Peternakan kuda berada tidak jauh dari villa keluarga, jadi hanya perlu berjalan kaki saja.
Reo dengan senang berjalan dengan sesekali melompat riang khas anak-anak. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada papanya.
"Boo," panggil Amy pelan.
Shiro Yuki diam dan tidak menyahuti panggilan dari istrinya. Dia justru melamun dan tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, bahkan kerikil-kerikil yang dia injak kadang-kadang dia tendang sehingga berisik dan bertaburan ke depan dengan posisi lebih tinggi.
__ADS_1
Kriak kriek tag krekkk
Amy memicing melihat bagaimana suaminya itu berjalan. Kerikil-kerikil yang dia tendang dengan sengaja, justru hampir mengenai Reo yang berjalan di depan.
"Boo!"
Dengan cepat Amy memegang lengan Shiro Yuki untuk menyadarkannya.
Shiro Yuki terkesiap mendengar teriakan Amy dengan lengannya yang dipegangi istrinya itu. Dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
Reo juga kaget dan berhenti, kemudian memalingkan tubuhnya untuk melihat kedua orang tuanya. "Ada apa Mama Amy?" tanya Reo bingung.
Dia merasa lebih bingung lagi, ketika melihat papanya yang bengong dan seperti baru saja bangun tidur, sehingga baru sadar jika sedang berjalan kaki.
"Papa tidur ya Ma?" tanya Reo asal.
Pertanyaan Reo ini justru membuat Amy dan Shiro Yuki saling pandang, kemudian menoleh ke arahnya bingung.
"Kenapa melihatku?" tanya Reo heran.
"Eh, emhhh tidak apa-apa."
"Terima kasih Bee," bisik Shiro Yuki di dekat telinga Amy.
Amy hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti ucapan terima kasih dari suaminya. Dia sendiri merasa merinding sendiri, saat nafas Shiro Yuki mengenai pori-pori kulit sekitar telinganya.
"Hahhh! Apa yang Aku rasakan ini?" tanya Amy dalam hati.
"Bodoh! Kenapa Aku melamun dan hampir mencelakai anakku sendiri!" runtuk Shiro Yuki dalam hati dengan penuh penyesalan.
Dia berjanji dalam hati untuk lebih berkonsentrasi dan tidak lagi melamun. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Reo maupun Amy.
Tak lama kemudian mereka bertiga tiba di peternakan kuda. Reo langsung mencari kandang kuda, dengan jenis kuda poni yang memiliki ukuran sedang. Jadi dia sudah terbiasa menggunakan kuda jenis ini, sehingga tahu di mana letaknya.
"Papa, Papa! Reo maunya yang itu!"
Reo menunjuk pada seekor kuda poni dengan warna putih ke abu-abuan. Padahal biasanya dia akan memilih kuda yang warnanya putih.
__ADS_1
"Biasanya Reo suka yang warna putih?" tanya Shiro Yuki heran. Dia mengingatkan pada anaknya, tentang warna kuda kesukaannya yang dulu.
Tapi ternyata Reo menggeleng dengan cepat.
"Reo mau yang itu saja! Yang putih sudah tampak lebih besar dibandingkan yang itu," ujar Reo memberikan penilaian dan alasannya, kenapa dia memilih warna yang lainnya. Bukan lagi yang berwarna putih.
"Reo saja bisa memberikan penilaian pada waktu tertentu, dengan keadaan yang berbeda. Meskipun dia suka warna putih, tapi dalam keadaan yang lain dia menilainya sesuai dengan keperluannya."
Shiro Yuki mengagumi keahlian anaknya dalam menilai sesuatu. Sama seperti saat Reo memilih Amy sebagai mama asuhnya.
Anaknya itu seperti memiliki kelebihan dalam keadaan tertentu, dan ini dibenarkan oleh papinya sendiri, yaitu Yuki Nagato.
"Bee mau kuda yang mana?" tanya Shiro Yuki beralih kepada istrinya.
Amy bukannya menjawab pertanyaan tersebut, dia justru mengelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak mau menaiki kuda, sebab belum pernah melakukannya.
Dia takut jika jatuh atau tidak bisa mengendalikan kendali kuda, sehingga salah dan mengakibatkan kuda tersebut mengamuk dengan berlari kencang. Sama seperti yang kadang-kadang dia lihat dalam beberapa video di akun sosial.
"Mama bisa berkuda dengan Papa!"
Shiro Yuki dan Amy langsung membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Reo barusan.
"Reo dengan siapa?" tanya Shiro Yuki, setelah berpikir sejenak.
Biasanya Reo akan naik kuda bersama dengannya, dengan Reo yang ada di depan, ketentuan dia mengendalikan tali kendali.
"Reo bisa sendiri," ucap Reo cepat dengan percaya diri.
Shiro Yuki menatap anaknya sendiri dan meyakinkan dirinya, sebab selama ini Reo belum pernah menaiki kuda tanpa dirinya.
"Reo sayang, dengan Papa ya! Mama tidak setuju jika Kamu naik kuda sendirian. Mama takut Sayang, jika nanti terjadi sesuatu pada kudanya." Amy mengkhawatirkan keadaan Reo, dan mengatakannya secara langsung supaya anaknya itu mengerti.
Mendengar alasan Amy, Reo akhirnya mengangguk setuju. "Tapi Mama dengan siapa?" tanya Reo penasaran.
Dia berpikir bahwa mamanya akan ditinggal sendiri dan tidak bisa ikut naik ke atas kuda jika dia akan naik bersama dengan papanya.
"Mama tunggu di peternakan ini saja. Mama akan berkeliling dan mengenal kuda-kuda di sini," jawan Amy beralasan.
__ADS_1
Shiro Yuki melihat ke arah istrinya, mencari kebenaran tentang alasan yang tadi diucapkan oleh Amy pada Reo. Dia tidak mau jika nanti ada Cresen yang tiba-tiba datang, menyusul mereka ke peternakan kuda ini.