
Tujuh belas tahun kemudian.
Shiro Yuki bersama dengan Amy, sudah berada di dalam mobil menunggu dua anaknya yang lain, yang belum juga keluar dari rumah.
"Bee, mana ini si Alina dan Marcel?" tanya Shiro Yuki, menanyakan keberadaan anak kembarnya.
"Tadi mereka tinggal memakai sepatu saja Boo, sabar sebentar ya." Amy berusaha menenangkan suaminya, yang tidak sabar menunggu anak kembarnya.
Alina dan Marcel memang suka membuat papanya itu naik darah, karena tidak tepat waktu dan sesuka hatinya sendiri jika memiliki janji. Padahal saat ini mereka sedang bersiap untuk menuju ke bandara, untuk menjemput Reo, anak pertamanya yang pulang dari Amerika Serikat.
Reo memang menimba ilmu di Harvard university, sama seperti kampus yang digunakan papanya untuk menempuh pendidikannya setelah memiliki gelar sarjana di Universitas Indonesia.
Tapi Reo kuliah di sana sejak lulus SMA, jadi tidak sama seperti yang dilakukan oleh papanya dulu.
"Alina, Marcel!"
Shiro Yuki berteriak memanggil kedua anak kembarnya, yang belum juga menampakkan diri. Dia sudah tidak sabar menunggu mereka.
Reo memang berencana pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan kuliahnya di Harvard University di Amerika Serikat, dan hal ini tentu saja merupakan momen yang sangat dinanti-nanti oleh keluarganya. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional, Reo akhirnya bisa kembali ke rumahnya di Jakarta dan berkumpul dengan keluarganya.
Meskipun sebenarnya kedua orang tuanya dan kedua adiknya juga sering mengunjunginya di Amerika sana, tapi kepulangan ini tentu saja merupakan hal yang istimewa. Itulah sebabnya Shiro Yuki tidak sabar untuk segera tiba di bandara, supaya anaknya tidak lama menunggu.
"Sabar ah Pa..."
Akhirnya Alina muncul bersama dengan Marcel, dengan berlari-lari kecil. Bahkan Alina tampak seperti sedang di kejar-kejar Marcel. Entah apa yang tadi mereka ributkan, sebab mereka berdua sudah biasa seperti itu.
Setelah kedua anaknya masuk ke dalam mobil, Shiro Yuki meminta kepada supir untuk segera berangkat ke bandara.
"Kita berangkat sekarang Pak."
"Baik Tuan Besar."
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam lamanya, akhirnya mobil keluarga Shiro Yuki tiba di bandara internasional Soekarno Hatta. Mereka semua menuju ke ruang tunggu, di mana mereka akan bertemu dengan Reo.
"Kakak lama?" tanya Alina tidak sabar.
__ADS_1
"CK, baru juga lima menit!" Marcel menyahut kesal dengan sikap kakak perempuannya.
"Hiiii... lima menit itu lama tau!"
"Tapi..."
"Stop! Kalian berdua bisa gak anteng sebentar saja? ini tuh di tempat umum Sayang." Amy memberi nasehat pada kedua anaknya.
Tak lama kemudian pesawat yang ditumpangi Reo mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Dia langsung mencari keberadaan keluarganya, dan berjalan cepat begitu melihat wajah papa dan mamanya yang tersenyum bahagia di sana. Tak jauh dari mereka, dua adik kembarnya yang sudah beranjak remaja juga ikut hadir untuk menyambutnya kembali ke Jakarta.
"Reo..." Amy menyambut kedatangan Reo dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk anak pertamanya itu.
"Mama..."
"Papa..."
Reo memeluk kedua orang tuanya bersamaan, baru setelah itu dia memeluk Amy sendirian dalam waktu lama.
Amy dan Reo memang sudah dekat sedari dulu, jadi tidak akan pernah ada yang mengira bahwa sebenarnya mereka hanyalah anak dan ibu tiri saja.
Saat dalam perjalanan menuju rumah, Reo bercerita tentang pengalaman hidupnya selama berkuliah di Harvard University. Dia bercerita tentang teman-teman barunya, kegiatan akademiknya, serta segala sesuatu yang telah dia pelajari di sana. Keluarganya pun mendengarkan dengan penuh perhatian dan bangga akan tuntutan yang telah diraih oleh Reo.
"Tuh Alina, Marcel, dengar kata kakakmu. Apa kalian tidak ingin mengikuti jejaknya kuliah di sana?" tanya Shiro Yuki menyindir kedua anak kembarnya, yang sepertinya tidak begitu berminat untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.
"Di Jakarta juga banyak universitas yang bagus Pa," sahut Alina malas.
Marcel ikut-ikutan mengganggukan kepalanya, mendengar suara kembarannya yang menyahuti perkataan papanya tadi.
Amy hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan mereka, sambil mengusap-usap lengan Reo yang duduk di sebelahnya.
Tuuttt... tutttt...
Yuki Nagato membunyikan terompet, di saat mobil yang membawa Reo tiba di depan rumah. Kakek dan neneknya menyambut dengan dekorasi yang indah, dengan bunga-bunga dan ucapan selamat datang. Ada juga banyak hidangan makanan kesukaan Reo, yang sudah tersedia di meja makan.
Mereka merayakan kepulangan Reo dengan mengadakan acara kecil-kecilan di rumah. Reo sangat senang bisa berkumpul kembali dengan keluarganya, serta merasakan hidangan khas Indonesia yang sudah sangat dirindukannya.
__ADS_1
Reo mengucapkan banyak terima kasih kepada kakek dan neneknya, sambil memeluk dan menciumi pipi mereka berdua.
"Terima kasih kek, Nek."
"Reo merasa sangat bahagia sudah berada di rumah lagi."
Mereka semua melanjutkan acara penyambutan Reo dengan makan-makan dan berbincang-bincang dengan santai, membicarakan banyak hal yang bisa membuat suasana ramai.
Selama beberapa hari ke depan, Reo menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah. Mereka melakukan berbagai kegiatan bersama, seperti nonton film, memasak bersama, dan jalan-jalan ke tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh keluarga mereka.
Reo merasa sangat senang bisa melakukan kegiatan-kegiatan ini bersama keluarganya, karena selama berkuliah di Universitas Harvard, dia sering merasa kesepian dan terpisah dari orang-orang yang dicintainya.
Meskipun begitu, Reo juga merasa sedikit cemas dan khawatir dengan masa depannya. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Harvard University, dia belum menentukan arah yang jelas untuk perbaikan. Dia masih bimbang antara melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau langsung bekerja di perusahaan papanya, yang sebenarnya sudah menantikan kepulangannya juga.
Untungnya keluarganya mendukung apa pun keputusan yang akan diambil oleh Reo. Mereka selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada Reo agar bisa mencapai apa yang diinginkannya. Papa dan mamanya juga berpesan agar Reo tetap berusaha dan berdoa, serta selalu mengingat tujuan hidupnya.
"Papa tidak memaksamu untuk langsung bekerja di perusahaan jika Kamu masih ingin melanjutkan pendidikan lagi Reo. Yang pasti apapun yang akan Kamu putuskan, papa akan mendukungnya."
"Terima kasih Pa. Reo akan memikirkannya nanti," sahut Reo sambil tersenyum tipis, melihat ke arah mamanya yang duduk di sebelah papanya.
"Kuliah pasca sarjana di Jakarta saja Kak, gak usah jauh-jauh!" Alina menyampaikan pendapatnya.
"CK, pindah yang jauh lagi kak Reo! Biar kita bisa ikut liburan ke sana kalau pas libur. Hehehe..." Marcel ikut menimpali dengan pendapat yang berbeda.
Puk
"Eh, itu sih mau Lo ya!"
Alina memukul pundak Marcel sambil melotot tidak suka dengan usulan kembarannya itu.
Reo hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali, melihat dan mendengar kedua adiknya yang sedang berselisih paham.
****
Yee... akhirnya Reo udah dewasa nih. Kira-kira dia punya cewek gak ya???
__ADS_1