Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Jangan


__ADS_3

"Sepertinya dia gugup," batin Shiro Yuki, yang memperhatikan gerak-gerik dari Amy, pengasuh anaknya, yang sekarang ini sudah menjadi istrinya.


Tapi ternyata apa yang dipikirkan Shiro Yuki saat ini salah. Karena pada kenyataannya Amy justru cuek-cuek saja, dengan tidak menegurnya atau memperhatikan keberadaannya. Bahkan melewatinya tanpa menyapa, pada saat keluar dari dalam kamar Reo, bermaksud untuk ke kamarnya sendiri.


Padahal yang sebenarnya terjadi pada Amy sendiri, sangat jauh berbeda dengan apa yang dilihat oleh Shiro Yuki.


Amy Hendarto adalah seorang gadis yang belum tersentuh. Tentu saja ini membuatnya sangat gugup, meskipun dia berusaha untuk bisa tetap terlihat tenang dan sewajarnya, sama seperti biasanya jika berhadapan dengan Tuan Besar-nya, yang sekarang ini telah menjadi suaminya.


Berbeda dengan Amy Hendarto, Shiro Yuki adalah seorang pria matang dengan status duda. Setidaknya dia tahu, bagaimana harus memperlakukan seorang istri. Tapi Shiro Yuki berpikir bahwa Amy ini tidak menyadari, jika pernikahan mereka berdua sudah syah dan bukan hanya sekedar untuk pekerjaan dan permintaan Reo saja, jadi Amy terlihat cuek.


Shiro Yuki menelan ludahnya kasar, melihat Amy yang seenaknya saja melewati dirinya untuk pergi ke kamarnya sendiri. Dia memejamkan matanya menghirup aroma minyak wangi pada tubuh gadis yang sedang melenggang pergi untuk masuk ke dalam kamar, meninggalkannya sendirian.


"Amy, tunggu!"


Deg deg deg...


Amy menghentikan langkah kakinya dengan detak jantung yang berdegup kencang, begitu mendengar namanya dipanggil oleh Shiro Yuki. Dia seperti seorang pencuri yang ketahuan sedang melakukan aksi pencurian.


"Kamu mau ke mana?"


"Ma... mau ke kamar Tuan. Ini sudah sangat larut, jadi bukankah sebaiknya kita segera beristirahat?"


Amy menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan, yang sebenarnya tidak perlu untuk dijawab, karena malam emang sudah sangat larut. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


Saat ini Amy sudah memakai baju rumahan, bukan lagi gaun pengantin. Tapi warna bajunya yang gelap, menjadi sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.


Rambutnya juga hanya di kuncir satu dengan asal, sehingga ada banyak anak rambut yang berantakan di are lehernya. Namun hal ini justru tersebut membuatnya terlihat sangat berbeda di mata Shiro Yuki. Amy jadi terlihat lebih seksi dimatanya.


Shiro Yuki menghela napas gusar, adik kecilnya mulai tidak bisa diam, karena terus terpantik dengan pemandangan indah yang memanjakan matanya itu. Bahkan dia sendiri sudah menelan ludahnya dengan susah payah sedari tadi.


"Kamu... Kamu sudah jadi istriku, kenapa mau ke kamarmu sendiri?" tanya Shiro Yuki, mencoba untuk mencari tahu bagaimana jawaban yang akan diberikan oleh Amy.


"Ng-nggak, nanti saja," jawab Amy gugup.

__ADS_1


"Nanti? maksudmu nanti..."


"Saya hanya ambil selimut," potong Amy cepat, dengan jawaban yang asal.


Tapi sedetik kemudian dia sadar, jika jawaban itu sangatlah ngawur. Di kamar Shiro Yuki tentu saja ada banyak selimut, jadi buat apa dia mengambil selimut di kamarnya sendiri.


"Kamu tidak sedang mencari alasan kan?"


Deg deg deg...


Degup jantung Amy bertambah kencang pada saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu. Dia berusaha berpikir lebih keras lagi, supaya bisa mendapatkan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut.


Akhirnya Amy nyenggir kuda, kemudian menjawab, "hehehe... selimut Saya itu selimut kesayangan. Jadi, Saya tidak bisa tidur jika tidak menggunakan selimut itu."


"Hem..."


Amy masih tersenyum canggung di saat Shiro Yuki bergumam tidak jelas.


"Kamu tidak sedang menghindar kan? Ingat ya, kita itu sudah menikah. Apa kata mami dan papi, jika sampai tahu ternyata Kamu tidur di kamarmu sendiri?"


"Lalu jika Reo juga tahu, bagaimana Kamu akan memberikan alasan padanya?" Shiro Yuki memberikan sebuah pertanyaan, yang sebenarnya untuk menyerang sisi keibuannya Amy. Sebab dia tahu, bahwa Amy sangat menyayangi anaknya, bukan hanya karena dia adalah pengasuhnya saja.


Amy terlihat bingung dengan pertanyaan ini. Dia memang tidak tahu harus memberi jawaban, seandainya pertanyaan tersebut memang diajukan oleh Reo.


Susah payah Shiro Yuki menahan diri, supaya tidak langsung menarik Amy ke dalam kamarnya. Dia tidak mau terburu-buru, sehingga Amy akan ketakutan dengan perlakuannya.


Kebingungan Amy ini dimanfaatkan oleh Shiro Yuki untuk mendekat dan memegang tangan istrinya, sehingga Amy mendongakkan wajahnya dan menatap ke arah wajah yang biasanya dingin, tapi kini terlihat lembut dan tatapan matanya juga meredup.


Tapi Amy justru mundur satu langkah, dengan kembali menunjukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah suaminya dalam jangka waktu yang lama, takut jika dia akan terpengaruh dan tidak bisa menegaskan pada dirinya sendiri. Jika semua ini hanya sebuah pekerjaan semata.


Sepertinya Shiro Yuki tidak terima dengan penolakan Amy. Sehingga dia memutuskan untuk membawa Amy menepi ke dinding dan mengurung tubuh kecil istrinya itu dengan kedua tangannya, sehingga Amy tidak bisa bergerak.


Melihat Amy yang terlihat semakin gugup dan cemas, Shiro Yuki bersorak dalam hati. "Aku ingin bermain-main sebentar dengannya."

__ADS_1


Dengan menundukkan wajahnya lebih rendah, dia bisa mengusap wajah Amy dengan hembusan nafasnya yang sudah mulai tidak normal, meskipun Shiro Yuki tetap berusaha untuk bisa menahan dirinya sendiri.


"Ap... apa yang mau Tuan Shiro lakukan?" tanya Amy gelagapan. Dia mulai tidak tenang mendapat perlakuan seperti ini.


Shiro Yuki hanya menggeleng, tapi masih berada dalam posisinya yang tadi. Yaitu mengurung tubuh Amy, sehingga Amy tidak bisa bergerak dan mengelak darinya.


Shiro Yuki mulai berani membelai pipi Ammy dengan lembut, pada saat Amy tidak lagi bergerak dan bertanya-tanya "Ammy, aku benar-benar mencintaimu."


Amy menatap wajah Shiro dengan kening berkerut. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


"Tuan... Tuan bicara apa?"


"Aku mencintaimu."


Cup!


Amy kaget saat mendengar perkataan suaminya sendiri, yang tidak pernah dia sangka-sangka. Apalagi kini dia merasakan bibir kenyal dan sedikit kasar yang tadi mengucapkan kata cinta menyentuh bibirnya singkat.


Amy mematung, merasakan degup jantungnya yang seakan-akan tidak ada.


Tangan Amy meraba dadanya sendiri, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa jantungnya masih bisa kembali bekerja dan berdetak sebagaimana yang seharusnya.


Cup!


"Hahhh..."


Amy kembali kaget dengan mata melotot, di saat bibir Shiro Yuki kembali mengecupnya singkat.


"Tu... an, jangan cium-cium terus," ucap Amy terbata-bata.


"Kenapa?" tanya Shiro dengan tatapan menantang.


"Ini... bibirku ini masih perawan."

__ADS_1


Amy langsung menutup mulutnya sendiri, saat sadar apa yang dia katakan. Sedangkan Shiro Yuki hanya tersenyum tipis, padahal sebenarnya di dalam hatinya bersorak kegirangan.


__ADS_2