Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Dipaksa Berjuang


__ADS_3

Perjodohan sering kali menjadi topik yang sensitif dan kontroversial dalam budaya dan masyarakat Indonesia. Di satu sisi, banyak orang yang masih memandang perjodohan sebagai tradisi yang penting untuk menjaga keharmonisan keluarga dan hubungan sosial. Di sisi lain, ada juga yang merasa bahwa perjodohan bisa menyebabkan masalah dan ketidakbahagiaan dalam hidup.


Hal ini dihadapi oleh Reo sendiri, bahkan di bahas oleh Angella. Kekasih Reo, yang notabene adalah gadis kewarganegaraan Amerika Serikat.


Sayangnya sang kekasih justru mengolok-olok tradisi tersebut, bahkan seakan-akan mendorong Reo untuk mengikuti rencana yang sudah dibuat oleh papanya Reo yang ingin menjodoh-jodohkan dirinya dengan Elly.


Awalnya, Reo merasa sedikit ragu-ragu dengan perjodohan ini, namun setelah berpikir lebih jauh, dan mengerti maksud dari perkataan Angella, akhirnya dia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.


Sebagai seorang anak yang taat kepada orang tua, Reo tahu betul bahwa permintaan dari papanya bukanlah sesuatu yang bisa dia tolak begitu saja. Dia pun memutuskan untuk berbicara dengan papanya dan menyampaikan keinginannya untuk saling mengenal terlebih dahulu dengan Elly.


"Reo butuh waktu untuk lebih dekat dengan Elly terlebih dahulu Pa."


"Tidak masalah. Elly juga masih sekolah, jadi tidak perlu terburu-buru."


Shiro Yuki menanggapi permintaan Reo dengan tenang. Dia setuju dengan syarat, dan memberikan waktu yang cukup untuk Reo dan Elly untuk saling mengenal.


Reo merasa senang dan lega dengan kesepakatan ini. Dia merasa bahwa saling mengenal dengan calon pasangan hidupnya adalah hal yang penting, karena bisa memastikan bahwa Elly adalah gadis yang cocok dan bisa dipercaya untuk membantunya membangun kehidupan bersama.


Namun, seperti biasa dalam kisah cinta, ada beberapa rintangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah bahwa Elly sudah tidak lagi memiliki kekaguman yang lebih terhadap dirinya seperti dulu. Mungkin karena sedari awal Reo sudah memberikan sinyal penolakan, jadi Elly terkesan biasa saja pada saat diajak bicara dengan reo.


"Maaf Kak, Elly sudah dijemput supir."


Begitulah tanggapan Elly pada saat bertemu dengan Reo di depan sekolah, saat Reo sengaja datang untuk menjemput kedua adik kembarnya.


"El, tunggu!"


Sayangnya panggilan Reo tidak diindahkan oleh Elly, apalagi Elly teteh masuk ke dalam mobil dan meminta pada supir untuk segera pergi dari sekolah.


"Ayo Pak cepat! Elly udah capek," pinta Elly, dengan wajah masam.


"Baik Non," jawab supir dengan patuh.


Mobil melaju cepat meninggalkan Reo yang masih berteriak memanggil Elly, yang akhirnya hanya bisa membuang nafas kesal.


"Huhfff..."

__ADS_1


"Mungkin seperti ini juga perasaan Elly, sewaktu Aku ajak bicara kemarin itu." Reo bergumam sendiri, menyesali keputusannya yang terasa tergesa-gesa kemarin.


"Kak! kak Reo!"


"Brother!"


Alina dan Marcel berteriak memanggil Reo, karena kakaknya justru meninggalkan mobil dalam keadaan pintu terbuka.


"Kakak liat siapa sih?" tanya Alina heran.


Dia tidak biasa melihat kakaknya itu ceroboh, apalagi sampai meninggalkanmu punya dalam keadaan terbuka.


"Gak apa-apa. Ayok masuk!"


"Lo percaya?" tanya Alina pada Marcel.


"Lo percaya gak?" Marcel justru bertanya balik pada kembarannya.


Plak


"Sialan Lo! sakit tau!"


Tapi Alina tidak lagi merespon, melainkan membuang muka. Dia tidak mau perselisihan mereka berdua membuat kakak mereka jadi bad mood, kemudian meminta mereka berdua turun dan meninggalkan mereka sendiri. Dengan demikian, Reo tidak akan pernah mau menjemput mereka lagi untuk kedepannya.


*****


Malam harinya, Reo datang ke ruang kerja papanya yang ada di rumah setelah makan malam. Dia ingin mengajak papanya bicara, meminta supaya diijinkan untuk bekerja di perusahaan agar ada kesibukan dan tidak hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting.


"Pa, ada kerjaan gak di kantor?" tanya Reo memulai pembicaraan.


"Kerjaan?"


Reo mengangguk mendengar pertanyaan papanya, kemudian dia memainkan spidol yang ada di meja kerja papanya.


Shiro Yuki menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada anaknya, "ada apa?"

__ADS_1


"Emhhh... sebenarnya ini..."


"Ada sesuatu yang ingin Reo bicarakan dengan Papa. Reo kan sudah berpikir matang dan setuju, tapi... Elly, sepertinya Elly enggan."


"Oh, begitu. Apakah Kamu yakin dengan sikap Elly? apa ini karena keputusanmu yang dulu?"


Wajah Reo pias. Dia tahu jika dia salah, karena dulu sempat menolak dan berbicara pada Elly, bahwa dia keberatan dengan rencana perjodohan mereka .


"Kenapa Kamu berubah pikiran? jika Kamu yang memulainya kemarin, Kamu juga yang harus memulai lagi untuk mengambil simpati Elly, Reo. Papa, Om Ryan, dan mama atau tante Mira, hanya bisa mendukung."


"Bahkan rencana perjodohan itu sebenarnya masih untuk jangka waktu yang panjang. Tapi ternyata Kamu memutuskannya secara terburu-buru, jadi kami juga sudah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan rencana perjodohan tersebut."


"Nah, jika sekarang ini Kamu mau dengan sendirinya, ya... sudah Kamu berusaha sendiri. Kami, pihak Papa atau om Ryan angka tangan. Semua tergantung dengan perjuangan yang Kamu lakukan untuk mendapatkan simpati Elly lagi."


"Tapi ingat, hati wanita itu ibarat kaca. Jadi Kamu harus sangat berhati-hati saat berbicara, berbuat sesuatu atau mengambil keputusan."


Reo terdiam mendengar semua perkataan dan nasehat yang diberikan oleh papanya. Dia sadar, jika dia terlalu terburu-buru pada saat mengajak Elly bicara tentang perjodohan orang tua mereka. Dia tidak memikirkan dalam jangka panjang, apa maksud dari rencana orang tuanya dan orang tuanya Elly.


"Reo sadar Pa, dan ini karena Reo juga bisa memastikan, bahwa Elly adalah gadis yang cocok untuk Reo. Saya ingin mengetahui sifat dan kebiasaannya, sehingga kami bisa saling memahami dan menjalin hubungan yang baik." Reo berusaha memberikan alasannya.


"Papa paham. Namun, bagaimanapun Elly itu masih remaja yang labil. Sama seperti adikmu, Alina atau Marcel."


"Lalu, jika tiba-tiba Kamu menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu bagaimana?"


Reo terdiam. Dia tidak bisa menemukan jawaban yang tepat dan cepat untuk pertanyaan papanya kali ini. Semua orang memang tidak ada yang sempurna, tapi setidaknya untuk Elly Jamaludin, keluarganya maupun dirinya sendiri tahu bagaimana keluarga dari Ryan Jamaludin. Papanya Elly itu, adalah sahabat papanya sejak masa kuliah. Dan saat ini juga hubungan bisnis yang baik dengan Nagato Group.


"Maaf Pa."


Akhirnya Reo hanya bisa mengucapkan permintaan maaf, karena menyadari kesalahannya yang mengambil keputusan dengan terburu-buru.


"Hemmm... pikirkan sendiri bagaimana caranya agar Elly bisa kembali lagi pada perasannya padamu. Bisa mengagumimu, menginginkanmu, atau setidaknya dia bisa bersikap baik jika bersama denganmu."


Shiro Yuki meminta supaya Reo berjuang sendiri untuk bisa mendapatkan perhatian khusus dari Elly, tanpa harus meminta bantuan pada orang lain.


Heee... kira-kira Reo bisa gak ya ini???

__ADS_1


__ADS_2