Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Otaknya Polos


__ADS_3

"Ihhh Kakak! kan... darah itu ihsss, Kakak sih main kasar!" tanpa sadar Alina meninggikan suaranya.


Suara Alina mengejutkan empat orang yang masih setia berada di depan ruangan UKS. Mereka saling pandang mendengar teriakan Alina, bahkan Juna sampai menelan ludahnya sendiri, membayangkan apa yang terjadi di dalam sana.


"Gila! ngapain mereka? nggak tau tempat. Masa iya ihik-ihik di UKS sih?!" ceplos Juna yang mulai gerah.


"Ihik-ihik apaan?" tanya Elly tidak paham.


"Itu loh, anu-anu..." sahut Adam memberi penjelasan kepada Elly, namun Elly tampak semakin bingung dengan bahasa yang digunakan Adam untuk memberikan penjelasan.


"Berkembang biak, buat anak!" celetuk Vina, yang memang sefrekuensi dengan Adam dan Juna. Mendengar perkataan Vina, barulah Elly mengerti.


"Eh, kita kan masih pelajar. Memang boleh ya berkembang biak?" tanya Elly bingung, secara mereka saat ini masih duduk di bangku kelas 2 SMA.


"Om Shiro sama Tante Amy bisa marah-marah sama Alina!" Elly berkata bingung.


Tidak mungkin Alina berkembang biak saat masih sekolah. Mungkin seperti itu pikiran Elly saat ini.


"Ihsss... Dre apaan sih? Bukannya dilap malah digituin?! Sakit tau!" terdengar suara lagi suara Alina yang meninggi.


"Wah ini sih bener-bener gak punya otak sih mereka berdua, ayok kita lapor guru! kasian kan si Alina sampai teriak-teriak kesakitan gitu. Emang gak pakai forrr play, pemanasan dulu apa gimana?" Adam justru menggerutu sendiri dengan kesal.


"Emang kalau gituan sakit ya? bisa berdarah-darah gitu? kok katanya ada yang kasih istilah enak-enak?" tanya Elly lagi dengan polosnya.


"Ya bisalah El, namanya juga masih perawan. Terus itunya sobek, ya berdarah atuh!" Juna memberikan penjelasan pada Elly yang super kuper untuk masalah seperti ini.


Elly adalah anak dari keluarga Jamaludin, yang selalu dijaga ketat oleh keluarganya. Dia tidak pernah bergaul dengan anak-anak biasa, bahkan mungkin jajan cilok saja dia tidak tahu bagaimana rasanya.


"Kenapa juga harus disobek? Bukannya dimasukin ya?" Elly kembali mengajukan pertanyaan polosnya, yang membuat ketiga temannya menepuk jidatnya sendiri secara bersamaan.


Puk puk puk


"Halah, udah deh mending Lo praktek sendiri ma Gue yuk! Capek Gue jelasin ke Lo El," sahut Juna jengkel.


"Mau Lo di dor sama papanya Elly?" tanya Vina sambil mencibir.

__ADS_1


"Mau sih, tapi udah kelar ihik-ihik. Hahaha... ups!" Juna menutup mulutnya sendiri, ketika dia lupa dan tertawa terbahak-bahak.


"Pacar aja gak punya, mau nikah sama siapa? Mau nyoba praktek sama siapa? ihik-ihik sama siapa?" keluh Adam tanpa sadar.


"Sama kodok tuh, di pinggir kali banyak. Kesel nih Gue lama-lama ma Lo Lo pada!" sungut Juna jengkel karena ke-tiga temannya tidak ada yang beres, padahal sama seperti dia juga sebenarnya.


"Emang katak punya itu ya? Kok nggak kelihatan?" tanya Adam tanpa rasa bersalah.


Benar-benar ya ini si Adam mulai reseh, membuat Juna dan Vina mulai jengkel. Jangankan Juna dan Vina, readers juga ikutan jengkel nih. Polosnya si Elly, ternyata menular ke Adam, huhfff...


"Astaga Adam... pakai kaca pembesar biar kelihatan! Udahlah gak usah bahas itunya kodok! Kita balik aja yok!! Masak iya kita nungguin Alina sama Andre?" Juna mengajak ketiga temannya untuk kembali ke dalam kelas.


"Eh, kasian Alina ditinggal sendiri." Elly tidak mau meninggalkan temannya.


Alina adalah anaknya Shiro Yuki dengan Amy Hendarto, teman dari papa dan mamanya Elly. Jadi mereka sudah kenal sejak kecil, dan Elly tidak percaya begitu saja dengan perkataan teman-temannya tentang Alina, yang katanya sedang berkembang biak bersama Andre.


Andre adalah ketua OSIS, yang katanya bercita-cita menjadi dokter. Itulah sebabnya jika jam istirahat atau jam-jam tertentu, dia pembantu dokter jaga di UKS. Apalagi hari ini dokter sedang ijin tidak berangkat tugas.


Alina tadi jatuh saat mau ke kantin, sehingga keempat temannya membawa Alina ke UKS bersama-sama. Tapi mereka diminta menunggu di luar, supaya Andre bisa mengobati Alina dengan tenang tanpa suara-suara temannya yang berisik.


"Ada gitu kambing congek? jenis makanan apa itu? yang Aku tahu cuma kambing guling, sate kambing, care kambing..."


"Elly...."


Ketiganya sudah kesal dengan kepolosan Elly tentang bahasa-bahasa gaul dan pergaulan ala anak-anak muda diluaran sana.


"Sesekali Lo ikut Gue deh, biar gak kayak putri baru keluar dari kastil!" Vina memprotes cara hidup Elly yang terlihat kuno, bagi anak-anak seperti mereka.


Tapi Elly hanya nyengir kuda, mendengar protes temannya itu. Ini sudah biasa terjadi sehingga dia tidak merasa tersinggung, toh setelah itu mereka akan kembali baik-baik saja. Jadi Elly tidak perlu merasa tersinggung.


Elly dan Vina, dulu juga sekolah SMP yang sama seperti Alina. Sedangkan Juna dan Adam, baru menjadi teman mereka pada saat masuk SMA.


"Aku mau ngomong sama Marcel ah, biar akibat di urus sama kembarannya saja."


Elly sudah hampir mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, ketika Alina keluar bersama dengan Andre.

__ADS_1


"Huhfff... sakit tahu gaesss!"


Semua mata tertuju pada Alina, yang mengeluh tentang rasa sakitnya. Juna, Adam dan Vina melihat dengan teliti, mengarahkan pandangan mata dan memperhatikan mereka seluruh tubuh Alina. Sedang Elly fokus pada kedua lutut Alina, yang sudah ditutup dengan perban. Tampak cairan Betadine masih basah dan merebes dari perban tersebut.


"Sakit ya Alina?" tanya Elly, sambil menunjuk ke arah lutut Alina.


Ketiga temennya yang lain melongo, melihat Alina yang masih meringis kesakitan sambil berjalan tidak normal.


"Sakit lah, masa enggak!"


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Alina, Elly justru kembali bertanya dengan polosnya, "memang robek, berdarah-darah?"


Juna, Adam dan Vina, melotot mendengar pertanyaan Elly yang tanpa saringan. Padahal ada Andre yang masih memapah Alina, supaya tidak jatuh saat berjalan.


"Ya, ini udah diobati sama kak Andre kok."


Kini ketiga temannya yang berotak konslet justru saling pandang dan meringis menahan geli sendiri, karena pikiran mereka sudah kemana-mana. Tidak fokus pada luka Alina yang tadi.


"Tapi kata Juna dan Vina, Kamu enak-enak, berkembang biak. Apa gak takut di marahi om Shiro sama Tante Amy?" tanya Elly lagi, mempertanyakan dugaan ketiga temannya yang tadi.


Alina melotot melihat ke arah ketiga temannya dengan kesal, sedangkan ketika temannya itu meringis sambil mengangkat kedua jari tangan membentuk huruf V.


Andre sendiri mengerutkan keningnya bingung, menghadapi ketiga teman Alina yang sudah dia kenal dengan kelakuan mereka yang rada-rada aneh. Sebab sudah terkontaminasi dengan pergaulan mereka di luar sana.


"Aku telpon kak Marcel ya, biar dia datang ke sini?" Elly memberikan usulan untuk memanggil kembaran Alina.


"Gak usah El. Aku udah telepon Kak Reo buat datang jemput kok," cegah Aluna cepat.


"Kak Reo di rumah?" tanya Elly surprise.


"Iya. Baru datang dua hari yang lalu."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh akibat, Elly tersenyum senyum sendiri. Membuat ketiga temannya yang tadi mengerutkan keningnya curiga.


Hayooo... apa yang mereka pikirkan ya???

__ADS_1


__ADS_2