Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Belum Percaya


__ADS_3

"Apanya yang masih perawan?"


Shiro Yuki justru bertanya, seakan-akan dia tidak mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Amy padanya tadi. Dia ingin mengerjai istrinya yang sedang dalam keadaan gugup.


Amy yang masih menutup mulutnya sendiri, hanya bisa mengelengkan kepalanya beberapa kali. Tapi hal ini justru membuatnya terlihat semakin seksi di mata Shiro Yuki, di bawah temaram lampu kamar Reo.


Mereka berdua lupa, jika saat ini masih berada di kamarnya Reo, karena mereka semua memang baru pulang dari gedung resepsi.


Cresentia dan Yuki Nagato, mami dan papinya Shiro Yuki, sebenernya sudah mengusulkan pada mereka berdua, supaya menginap saja di hotel, dengan mempercayakan Reo pada mereka saja untuk diajak pulang.


Tapi Amy menolak, bahkan memprovokasi Reo supaya menolak dan tidak mengijinkan mama asuhnya itu ikut papanya menginap di hotel. Bukan karena apa-apa, Amy sudah merasa ngeri sendiri, di saat membayangkan bagaimana tidur di hotel hanya berdua saja dengan Shiro Yuki.


Amy memang tidak berpengalaman dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan percintaan, tapi dia juga tidak terlalu b0d0h jika tidak akan terjadi sesuatu, seandainya ada dua orang, laki-laki dan perempuan di dalam satu kamar. Apalagi sudah ada alasan bagi Shiro Yuki, bahwa Amy sekarang ini sudah menjadi istrinya yang sah.


Lagi-lagi Shiro Yuki mengumpat dalam hati karena merasakan aura yang berbeda melihat Amy di temaram lampu kamar anaknya. Apalagi dengan posisinya yang sedekat ini, sehingga dia dapat menghirup aroma wangi rambut dan keringat Amy yang memang udah mulai berkeringat dingin.


Melihat bagaimana Amy yang semakin resah dan tidak nyaman, membuat Shiro Yuki merasa kasihan juga. Tapi dia terlalu menyayangkan, jika harus mengakhiri keasyikannya untuk mempermainkan istrinya yang masih polos ini.


Sudut bibir Shiro Yuki berdenyut, menginginkan agar bisa menyentuh kembali bibir ranum di depannya. Tapi dia berusaha untuk tetap mempertahankan diri, supaya tidak langsung menyerang Amy lagi. Dia takut jika Amy akan kaget kemudian menjerit, karena hal tersebut bisa membangunkan anaknya yang baru saja tertidur.


Tangan kanan Shiro Yuki tidak lagi mengurung tubuh Amy, tapi justru mengelus pipi halus istrinya, yang kini terbelalak karena kaget dengan perlakuannya.


Untung saja lampu kamar menyala tidak terang, jadi wajah Amy yang tentunya sudah memerah tidak bisa dilihat oleh Shiro Yuki.


Mata Amy terpejam, menerima usapan lembut tangan Shiro Yuki pada wajahnya. Namun Shiro Yuki merasa belum puas jika hanya melakukan itu. Dia lalu berinisiatif mengusap lebih ke bawah lagi, mulai rahang, dagu kemudian leher jenjang Amy.


Larut dalam sentuhan lembut tangan Shiro Yuki, secara tidak sadar Amy justru mendongakkan kepalanya, memberikan akses pada tangan suaminya itu untuk mengelus leher dan tulang selangka.

__ADS_1


Senyum shiro Yuki terbit melihat Amy yang tampak pasrah, meskipun tetap saja tampak gelisah. Apalagi di saat usapan lembut tangannya yang ada pada leher naik turun.


Mata Amy terpejam menikmati sentuhan lembut tersebut. Dia tidak tahu, bagaimana caranya mengendalikan diri. Bahkan dia sendiri merasa yakin, bahwa saat ini sudah terlihat sangat memalukan di depan Tuan Besar-nya itu.


Diamnya Amy membuat Shiro Yuki mengambil kesempatan untuk mengelus lengan mulus Amy dengan satu tangannya yang lain. Gerakannya naik turun, tapi tetap terasa sangat lembut.


Amy membiarkan Shiro Yuki melakukan itu, karena berpikir jika apa yang dilakukan itu masih dalam tahap wajar. Tapi sekarang dia justru menggigit bibir bawahnya, karena merasakan desiran yang dia tidak ketahui sebelumnya.


"Gila! apa ini? Aku bisa gila jika ini tetap dibiarkan. Tapi... tapi Aku juga tidak mau ini berakhir. Bagaimana ini?" batin Amy bergejolak saat merasakan sensasi yang berbeda dari sentuhan lembut tangan suaminya. Dia bahkan tidak rela jika semua ini berakhir dengan cepat.


"Bagaimana rasanya?" tanya Shiro Yuki dengan berbisik di telinga istrinya.


"Ak... Sa... Saya..."


"Keluarkan saja yang ingin Kamu keluarkan, Aku pastikan Kamu menyukainya kan?" bisik Shiro Yuki lagi, yang membuat kepala Amy mengangguk, tanpa dia sadari.


Berbeda dengan Lay Sanespere, istri pertamanya dulu, yang sudah mahir dengan gerakan-gerakan bercinta. Selalu bisa menemukan titik terbaik untuk membuatnya mabuk kepayang. Tapi melakukannya dengan Amy, Shiro Yuki menemukan sensasi kepuasan sendiri. Meskipun dia belum melakukan apa-apa.


"Itu wajar, Amy. Kalau Kamu udah terbiasa sama sentuhan tanganku, rasanya pasti nggak bakalan aneh lagi." balas Shiro Yuki menahan kedutan pada bibirnya. Dia ingin sekali menyeringai, tapi saat ini Amy tengah menatapnya.


"Emnhh..."


Suara itu tiba-tiba keluar dari bibir Amy. Dia dengan cepat membungkam bibirnya dengan telapak tangannya lagi.


"Jangan ditahan, Sayang. Itu memang reaksi alami yang akan keluar setiap tubuh Kamu disentuh. Tapi tentu saja khusus Aku saja," bisik Shiro Yuki lembut, dengan sengaja meniup telinga Amy setelahnya. Membuat bulu kuduk Amy bergidik aneh, dengan semua yang dirasakannya sekarang ini.


Shiro Yuki kembali membelai pipi Amy dengan lembut. "Amy, Aku benar-benar mencintaimu."

__ADS_1


"Benarkah itu Tuan? Bukan demi reo?" cicit Amy tidak percaya. Dia masih berpikir bahwa semua ini hanya karena Reo saja.


"Jujur saja, pada awalnya Aku memang melakukannya seperti itu. Tapi, setelah insiden penculikan kemarin itu, Aku sadar, bahwa Aku benar-benar mencintaimu."


Deg


Jantung Ammy berdebar dengan kencang


Perlahan, wajah shiro semakin mendekat. Bibir mereka pun salin bersentuhan, membuat Amy menegang lagi.


"Damn! Dia benar-benar lugu. Bagaimana Aku bisa menahan diri lagi? tapi jika Aku paksakan, itu juga tidak baik bagi hubungan yang belum dia yakini sebagai kebenaran."


Shiro Yuki berusaha mati-matian untuk tetap menahan diri, supaya tidak langsung menerjang istrinya itu. Dia tidak mau membuat Amy kewalahan dengan segala kegiatan mereka yang tergesa-gesa.


"Sebaiknya Kamu berisitirahat. Kamu pasti sangat capek, tapi tidurlah di kamarku, jangan di kamarmu lagi mulai malam ini!"


Amy hanya mengangguk pasrah dengan perkataan Shiro Yuki. Dia belum bisa mencerna semua perkataan Tuan Besar-nya barusan.


Tapi di saat Amy mau masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil selimut, Shiro Yuki sudah menarik tangannya ke arah kamar utama. Kamarnya Shiro Yuki sendiri, yang bersebelahan dengan kamarnya Reo.


Kamar Amy memang tepat berada di depan kamarnya Shiro Yuki, sama-sama bersebelahan dengan kamarnya Reo.


"Tu... Tuan, Saya..."


"Mulai sekarang jangan panggil Tuan lagi! Panggil Sayang, Boo, atau pipi. Dan jangan menyebut dirimu sendiri dengan Saya, tapi Mimi, Bee atau Sayang!"


Amy tidak percaya dengan apa yang dia dengar kali ini. "Ini Aku mabuk gak sih?"

__ADS_1


__ADS_2