
Elly terkejut saat Reo memintanya untuk menerima rencana agar perjodohan mereka dipercepat. Dia merasa tidak siap dan kewalahan dengan permintaan tersebut karena dia baru saja menikmati perannya sebagai mahasiswi baru. Namun, Elly merasa kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Reo karena dia khawatir melukai perasaan kakaknya Alina itu.
Elly dan Reo telah diatur untuk menikah sejak setahun lalu. Keluarga mereka adalah teman dekat, dan mereka telah merencanakan untuk menjodohkan anak mereka sejak lama. Namun, Elly yang awalnya senang dengan gagasan tersebut, nyatanya merasa kecewa karena penolakan Reo.
Jadi sekarang dia berpikir bahwa dia harus memiliki hak untuk memilih pasangannya sendiri, bukan hanya ditentukan oleh keluarganya. Sama seperti yang dipikirkan Reo juga sebelumnya.
Setelah lulus SMA, Elly merasa senang karena dia sibuk dengan kuliahnya. Dia melihat ini sebagai kesempatan untuk mengambil kendali atas hidupnya sendiri dan mengejar mimpi-mimpinya. Dia senang dengan kebebasan yang diberikan kepadanya dan bahagia menjalani hidupnya sendiri tanpa terbebani oleh harapan keluarga. Karena papa dan mamanya tidak lagi membahas rencana berjudul hanya dengan Reo.
Namun, tiba-tiba semua rencana itu terasa hancur saat Reo mengajukan permintaan untuk mempercepat perjodohan mereka. Elly merasa sedih karena dia tidak siap untuk menikah, dan dia merasa bahwa dia tidak siap mengorbankan kebebasannya dan mimpi-mimpinya. Namun, dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya pada Reo tanpa melukai hatinya.
Elly akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Reo. Dia memberitahu, bahwa dia tidak siap untuk menikah dalam waktu dekat ini, dan dia ingin mengejar mimpi-mimpinya terlebih dahulu.
"Tapi El, Kakak ingin membicarakan rencana kita untuk lamaran. Kakak pikir sudah waktunya untuk mempercepat perjodohan kita." Reo kembali mengatakan rencananya.
"Maaf, Kak, tapi Aku belum siap sekarang. Aku ingin mengejar mimpi-mimpiku dan fokus pada pendidikan dulu." Elly berusaha memberikan alasan yang masuk akal.
"Tapi kita sudah direncanakan untuk berjodoh. Keluarga kita telah membuat persiapan untuk rencana ini. Kakak juga sudah memikirkannya masak-masak."
Elly tersenyum tipis mendengar perkataan Reo yang sedang meyakinkan dirinya. Tapi untuk saat ini, dia sudah memiliki pandangan yang sendiri.
"Aku tahu Kak. Tapi Aku ingin memiliki hak untuk memilih pasangan hidup sendiri. Aku tidak ingin dijodohkan dengan seseorang yang tidak Aku cintai. Dan Aku pikir, jika kita menikah sekarang, Aku tidak akan bisa mengejar mimpi-mimpiku."
Helaan nafas panjang Reo terlihat jelas jika sedang gundah. "Tapi, Elly, Aku sudah mulai mencintaimu. Aku ingin membangun masa depan bersama denganmu. Aku mengerti bahwa Kamu ingin mengejar mimpi-mimpi Kamu, tapi Aku pikir kita bisa menikah dan membangun masa depan kita bersama-sama."
"Maaf untuk sikapku yang di awal dulu,"
Penyesalan Reo ini mungkin memang sedikit terlambat, karena perasaan Elly seakan-akan sudah tawar, tidak sama seperti dulu.
__ADS_1
"Elly tahu Kak. Tapi ini tentang hidup Elly dan kebahagiaan Elly juga. Aku berharap Kakak bisa memahami dan menghargai keputusan yang Elly ambil saat ini."
"Hhhh..."
"Tentu saja Aku menghargai keputusanmu, Elly. Tapi Aku merasa bahwa orang tua kita telah merencanakan untuk perjodohan ini adalah yang terbaik. Ini juga menjadi harapan dari keluarga kita, dan Kakak tidak ingin mengecewakan mereka lagi."
Sebenarnya Elly juga tidak ingin mengecewakan keluarganya. Tapi dia berharap bisa menemukan jalan keluar yang baik untuk semua orang.
"Hemmm... bagaimana jika menunggu Elly lulus?" tanya Elly pada akhirnya.
"Kakak pikir itu mungkin bisa menjadi solusi yang baik. Kakak siap menunggu sampai Kamu siap untuk menikah. Tapi setidaknya kita bertunangan terlebih dahulu."
Elly terdiam mendengar perkataan Reo, yang memintanya untuk bertunangan dalam waktu dekat. Padahal dia sendiri masih ingin mendapatkan kebebasan.
"Terserah Kakak sajalah. Tapi Aku tidak mau Kakak terlalu mengaturku, jika Aku sedang kuliah." Elly mengajukan persyaratan.
Sepertinya Reo sudah mulai menunjukkan sikap over protective pada Elly, yang hanya bisa menghela nafas panjang saat mendengar perkataannya.
*****
Di rumah, situasi yang dihadapi oleh Reo yang ingin menyampaikan keinginannya untuk mempercepat perjodohan dengan Elly pada papanya adalah situasi yang cukup rumit dan menegangkan. Reo merasa sudah waktunya untuk menegaskan kelanjutan perjodohannya dengan Elly.
Dia tahu jika Elly merasa belum siap menikah sekarang dan ingin fokus pada pendidikannya dan mengejar mimpi-mimpinya. Tapi Reo ingin memiliki Elly, yang ternyata sudah menempati hatinya.
Oleh karena itu, Reo merasa perlu membicarakan dengan papanya tentang keinginannya untuk mempercepat lamarannya dengan Elly. Reo ingin memastikan bahwa papanya memahami keinginannya dan juga ingin mendapatkan dukungan dari papanya untuk mempercepat perjodohan mereka.
Namun, Reo juga menyadari bahwa dia harus berbicara dengan bijak dan sopan, karena dia tidak ingin membuat papanya marah atau kecewa dengan keputusannya. Reo juga harus mempertimbangkan bagaimana caranya agar papanya tidak merasa bahwa Reo tidak memperhatikan keinginannya Elly.
__ADS_1
"Pa."
"Hemmm..."
Reo ragu, disaat tanggapan papanya terasa dingin. Dia tidak bisa menyampaikan keinginannya disaat papanya tidak dalam keadaan santai.
Karena anaknya dalam keadaan diam, Shiro Yuki akhirnya mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel ke arah Reo.
"Ada apa?" tanya Shiro Yuki, berpikir jika ada hal penting yang ingin disampaikan anaknya.
"Emhhh... itu Pa. Tadi, Reo berbicara pada Elly tentang kelanjutan rencana perjodohan kami." Reo diam sebentar, menunggu reaksi dari papanya. Tapi nyatanya papanya itu hanya diam, menunggu kelanjutan ceritanya.
"Elly setuju jika kami bertunangan terlebih dahulu," lanjut Reo memberitahu.
"Ini Elly yang setuju, atau Kamu yang mendesak?" tanya Shiro Yuki menebak.
Mendapat pertanyaan tersebut, Reo terdiam dan menunjukkan kepalanya. Apa yang ditanyakan oleh papanya memang benar adanya. Dia yang mendesak Elly, supaya menerima keinginannya.
"Maaf Pa. Tapi Reo tidak bisa melihat Elly dekat dengan cowok lain. Reo gak mau Elly ada hubungan khusus dengan cowok lainnya juga," terang Reo memberitahu perasannya pada papanya.
Shiro Yuki tersenyum tipis mendengar jawaban anaknya. Dia tahu, bahwa sebenarnya Reo itu memiliki perasaan lu khusus pada Elly sejak dulu. Tapi karena Reo merasa jika Elly sama seperti adiknya sendiri, sehingga Reo menepis perasaannya. Apalagi sejak pergi kuliah ke Amerika, kemudian dekat dengan cewek di sana, Reo seakan-akan menipu perasaannya sendiri.
Sebagai seorang papa yang sudah berpengalaman, Shiro Yuki sangat tahu betul bagaimana keadaan Reo yang menjalani kuliah di luar negeri. Dia juga memantau kegiatan dan pergaulan anaknya di sana.
Shiro Yuki juga tahu, siapa cewek bule yang dekat dengan Reo, Angella, yang nyatanya tidak pernah mengetahui latar belakang Reo sebagai anak dari pemilik Nagato Group.
Tapi itu juga yang membuat Shiro Yuki merasa senang. Karena Angella tidak memahami situasi yang bisa diambil sebagai keuntungan, dari hubungannya dengan Reo. Sama seperti yang dilakukan oleh Lay Sanespere, mantan istrinya.
__ADS_1