
Semakin hari hubungan Amy dengan Shiro Yuki semakin dekat. Amy juga sudah tidak sungkan lagi, dan bisa menunjukkan rasa sayangnya pada suaminya, Shiro Yuki.
Hal ini membuat mertuanya, Cresentia dan Yuki Nagato senang, karena anaknya bisa mendapatkan istri yang baik untuk pernikahannya yang kedua ini. Mereka berharap agar anaknya tidak mengalami kegagalan pernikahan untuk kedua kalinya.
Amy juga mulai nyaman dan sedikit demi sedikit bisa menunjukkan rasa sayangnya pada Shiro Yuki, sesuai dengan harapan kedua mertuanya.
"Untung Amy cepat bisa menyesuaikan diri ya Pi, dia bisa menyayangi cucu kita dan anak kita sekaligus."
Cesentia ingat betul bagaimana Amy pertama kali bertemu dengan Shiro Yuki. Ini dari cerita ART nya sendiri, yang dulu sempat mengasuh Reo dan menjadi saksi pertemuan mereka.
"Iya Mi. Papi juga senang dengan perubahan Amy. Semoga saja anak kita bisa membuat Amy merasa bahagia juga."
"Benar Pi. Mami juga sangat berharap supaya tidak lama lagi Reo akan memiliki adik." Cresentia ikut-ikutan menyatakan keinginannya.
"Kenapa tidak buat sendiri Mi untuk adiknya Shiro?" Papi Yuki Nagato justru menggoda istrinya, dengan pertanyaan yang dia balikan sama Cresentia.
"Ihssss si Papi..."
"Hahaha..."
Seperti yang diketahui, dulu Amy merasa tidak nyaman dan sungkan untuk menunjukkan perasaannya pada Shiro Yuki, meskipun Shiro Yuki sudah berusaha untuk memulai. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin dekat dan Amy mulai merasa lebih nyaman menunjukkan rasa sayangnya pada Shiro Yuki.
Hal ini menunjukkan bahwa waktu dan komunikasi yang baik dapat membantu mempererat hubungan antara pasangan, sama seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino.
"Lalu bagaimana dengan Cresen Mi?"
"Apa dia sudah menyerah?"
Tiba-tiba Yuki Nagato ingat dengan keponakan istrinya, saat ini berada di Bandung belum pulang ke Jerman. Padahal Cresen pamit hanya satu atau dua hari ada di Bandung, tapi ini sudah hampir seminggu lamanya Cresen ada di sana dan belum kembali ke Jakarta juga.
__ADS_1
"Gak tahu Pi. Mami juga sudah menghubungi dia, tapi katanya dia sedang survey lokasi yang akan digunakan untuk menanam saham. Tapi gak tahu itu mau buat usaha apa, Mami juga gak tahu rencana dia."
Yuki Nagato hanya menganggukkan kepala saja, karena dia juga tidak begitu tahu apa yang dilakukan oleh keponakannya di Bandung sana. Yang pasti dia sudah memberikan arahan dan nasehat, jika ada sesuatu yang terjadi atau butuh bantuan, agar segera menghubunginya saja.
"Mamanya itu Pi yang suka tanya-tanya, padahal bisa saja dia tanya langsung pada Cresen kan?" Cresentia justru mengeluhkan sikap adik sepupunya.
"Mungkin saja dia tidak mau menghubungi anaknya, karena jika mangkubumi Cresen secara langsung, anaknya itu justru tidak mau memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya."
Yuki Nagato sedikit banyak tahu, bagaimana kriteria orang seperti keponakannya itu. Cresen adalah tipe-tipe orang yang suka dicampuri urusannya, tapi dia yang lebih suka mencampuri urusan orang lain.
"Semoga saja dia tidak lagi kumat saja Pi."
Cresentia hanya tidak ingin keponakannya itu kumat lagi dengan penyakit kelainannya, sehingga menyusahkan orang lain.
Cresen ngapain lama-lama di Bandung gaesss? ada yang tahu gak nih?
*****
"Papa, Papa!
"Kata nenek Reo sebentar lagi punya adek bayi, kapan Ma, Pa?" tanya Reo, yang sudah tidak sabar untuk memiliki adik.
Reo adalah seorang anak yang cerdas dan energik. Selama ini dia adalah anak tunggal, bahkan cucu tunggal dalam keluarga ini, jadi pada saat mendengar kata adik, nama seperti yang dikatakan oleh neneknya, dia jadi tidak sabar menunggu. Apalagi dia telah lama menginginkan adik kecil, yang sering dilihatnya di TV atau rumah saudara, jika ada yang sedang memiliki bayi.
Ketika mama kandungnya pergi beberapa tahun yang lalu, Shiro Yuki, Papanya, merasa tidak siap untuk memikirkan tentang memiliki anak lagi. Apalagi dia juga tidak pernah memiliki ketertarikan dengan wanita-wanita yang ada disekitarnya.
Rasa sakit hati dan perasaannya sangat mendalam, sehingga dia seperti trauma untuk memulai sebuah hubungan.
Namun, setelah bertemu Amy, semuanya berubah. Apalagi Amy dan Reo sangat dekat, bahkan Reo merasa bahwa dia sudah memiliki seorang mama yang dia cintai dan banggakan. Reo juga tidak mengenal Lay Sanespere sebagai mamanya, sehingga pada saat pertama kali bertemu kemarin itu, Reo tidak mempedulikan mama kandungnya.
__ADS_1
Dia merasa bahagia dengan kehadiran Amy dalam hidupnya, dan mengabaikan keberadaan Lay Sanespere sebagai mamanya yang sebenarnya.
Reo juga sangat menyukai Amy dan merasa seperti dia sudah memiliki mama yang baik, jadi tidak memerlukan Lay Sanespere lagi. Dia juga menginginkan adik dari mamanya yang sekarang ini.
Dia sering merengek-rengek minta adik dengan cepat, sehingga sering mengajukan pertanyaan kepada mama dan papanya, tentang kapan akan memiliki adik, atau jika Amy akan melahirkan seorang anak dalam waktu dekat.
"Emhhh..."
Sayangnya Amy tidak bisa menjawab dan menjelaskan secara detail, bagaimana situasi yang ada pada mereka saat ini. Tidak mungkin bisa melahirkan bayi dalam waktu yang sangat singkat.
"Reo yang sabar, dan doakan supaya mama segera ada adik di sini!"
Shiro Yuki menunjuk pada perut Amy, membuat Reo ikut-ikutan melihat dan kini justru mulai memegangi perut mamanya.
Shiro Yuki juga berusaha menjelaskan kepada Reo bahwa memiliki adik bukanlah hal yang mudah, dan bahwa hal itu membutuhkan waktu. Shiro Yuki mencoba mempersiapkan Reo dengan cara menjelaskan bahwa, memiliki adik juga berarti harus mau berbagi perhatian dan cinta dengan anak lain. Dia juga menjelaskan bahwa membesarkan anak bukanlah hal yang mudah, dan bahwa membutuhkan pengorbanan dan tanggung jawab yang besar.
"Kapan adiknya ada di sini Pa?"
"Kok gak kelihatan Pa, Ma?"
"Adek, Kamu ada di dalam perut mama Amy?"
Reo justru semakin banyak mengajukan pertanyaan, yang membuat Amy meringis canggung. Begitu juga dengan Shiro Yuki sendiri, yang mulai pusing memberikan penjelasan kepada anaknya.
Reo tetap merengek-rengek dan sering mengajukan pertanyaan tentang adik. Dia merasa kesepian dan ingin memiliki saudara yang bisa dia ajak bermain dan berbagi waktu bersama. Meskipun Shiro Yuki berusaha menjelaskan bahwa adik bukanlah hal yang mudah, Reo tetap meminta adik dengan keras.
"Pokoknya Reo mau cepat Pa! Adiknya Reo mana Pa, Ma?"
"Iya-iya, nanti Papa sama Mama buat adik ya untuk Reo... Tapi, emhhh sabar ya! Dan Reo tidur dulu ya!"
__ADS_1
Sepertinya Shiro Yuki sudah mulai kewalahan dan tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa atas semua pertanyaan dan permintaan anaknya, karena Reo bersikeras untuk mengetahui jawabannya secepatnya.
Amy hanya bisa meringis sambil tersenyum sendiri, melihat bagaimana suaminya yang kewalahan menghadapi Reo.