
Hari ini Amy dan yang lainnya bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta, karena permintaan dari Shiro Yuki.
Dia tidak mau jika berlama-lama di villa, tanpa bisa bermesraan dengan Amy. Mengingat keadaan istrinya itu justru membuatnya sering naik darah, ditambah lagi dengan keberadaan Cresen diantara mereka.
Shiro Yuki beralasan jika ada banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan, sebelum rencana perjalanan bulan madunya.
Karena alasan ini juga, Cresentia dan Yuki Nagato menyetujui untuk pulang ke Jakarta. Sebab mereka berdua memang menginginkan anaknya itu untuk mengambil jadwal liburan, guna rencana honeymoon yang belum dilakukan anak dan menantunya.
Yuki Nagato dan Cresentia tidak pernah membatasi Shiro Yuki dalam kepentingan apapun, yang penting masih dalam batas wajar dan normal. Itulah sebabnya, mereka berdua juga tidak pernah melarang anaknya, yang dulunya menikah dengan Lay Sanespere. Padahal saudari awal mereka berdua tidak begitu menyukai mamanya Reo.
Apalagi dengan Amy ini, mereka langsung menyetujui tanpa melihat latar belakang Amy, yang penting anak dan cucunya memilih Amy karena kebahagiaan mereka.
Dari perlakuan kedua orang tuanya inilah, Shiro Yuki sendiri tidak pernah menuntut istrinya harus dari golongan yang sama seperti mereka, yaitu kalangan pengusaha atau orang-orang atas.
"Mama... Mama gak jadi naik kuda sama Papa?" tiba-tiba Reo bertanya.
Pertanyaan Reo ini justru membuat Shiro Yuki berpikir macam-macam, karena sedari semalam dia sudah tidak bisa menahan diri.
"Mama sedang beres-beres Sayang. Kita pulang ke rumah yang ada di Jakarta ya. Untuk naik kudanya bisa kapan-kapan lagi."
Tapi jawab yang diberikan oleh Amy untuk Reo, di salah artikan oleh Shiro Yuki. Dia tersenyum-senyum sendiri, dengan membayangkan bagaimana keadaan dirinya yang seharusnya bersama dengan istrinya.
"Papa..."
"Papa, Papa!"
Reo berkali-kali memanggil papanya, tapi Shiro Yuki seakan-akan tidak mendengar panggilan tersebut.
"Ma, Papa gak tidur kan Ma?" tanya Reo heran.
Amy jadi cepat menoleh ke arah suaminya, dan benar saja, dia mendapati bahwa Shiro Yuki dalam keadaan duduk dengan bersandar pada sandaran tempat tidur. Matanya juga dalam keadaan tertutup, tapi terus senyum-senyum sendiri.
"Mungkin Papa sedang mimpi. Coba Reo samperin gih!"
Reo mengangguk patuh, kemudian berjalan mendekat ke tempat tidur untuk membangunkan papanya.
__ADS_1
Puk puk puk
"Papa, Papa!"
Reo menepuk-nepuk punggung tangan papanya, sambil berteriak memanggil-manggil. Dia berharap supaya papanya bisa cepat bangun tidur dan sadar dari mimpinya.
"Eh, emhhh... ada apa Sayang?"
Shiro Yuki terkejut dan gagap karena panggilan dan tepukan tangan anaknya yang menyadarkannya dari lamunan. Padahal dia sedang asyik membayangkan bagaimana keadaan dirinya dengan Amy yang sedang...
"Pa, Papa nggak mau naik kuda sama Mama?" Reo masih bertanya lagi.
"Mau-mau."
Tapi sedetik kemudian Shiro Yuki menutup mulutnya sendiri, karena sadar jika saat ini keadaanya berbeda dengan yang ada dalam bayangannya yang tadi.
"Tapi kata Mama kita pulang ke Jakarta," ujar Reo tidak tahu kemana arah jawaban yang diberikan oleh papanya barusan.
"Emh... iya.. Kita harus pulang ke Jakarta. Papa ada banyak pekerjaan di kantor, sedangkan Kamu juga sudah mau masuk sekolah. Apa dipending untuk tahun depan saja?" Shiro Yuki mengalihkan pembicaraan, agar Reo tidak membahas tentang kuda lagi.
Akhirnya Reo menganggukkan kepalanya, paham dengan maksud perkataan yang diucapkan oleh papanya.
Reo butuh berteman dengan anak-anak sebaya dengan dirinya.
"Kalau pergi ke sekolah Reo mau diantar Mama," punya Reo, memastikan jika dia bisa berangkat sekolah dengan diantar Amy.
"Iya-iya. Mama akan antar bersama Papa, tapi jika Papa tidak bisa bersama dengan pak Nico ya," ujar Shiro Yuki memberikan pengertian kepada Reo.
Pak Nico adalah supir yang selalu standby di rumah, sebab dia juga memiliki istri yang bekerja sebagai ART di rumah Nagato.
Amy tersenyum senang mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya pada Reo, karena dengan demikian dia bisa memberikan penjelasan pada anaknya itu, jika suatu hari nanti papanya itu tidak bisa ikut mengantar ke sekolah.
"Horeee... Reo mau sekolah!"
Sorak sorai Reo membuat suasana kamar menjadi lebih ceria, menghangatkan suasana hati Amy dan juga Shiro Yuki.
__ADS_1
"Reo mau kasih tahu nenek dan kakek ya Pa, Ma!" Reo segera berlari keluar kamar, setelah pamit untuk pergi ke kamar kakek dan neneknya.
Dia ingin memberitahu mereka berdua, jika dia akan segera masuk sekolah setibanya di Jakarta nanti. Reo tidak paham, jika waktu sekolahnya masih satu bulan lagi. Dia hanya fokus pada jawaban papanya, yang mengatakan bahwa dirinya akan segera masuk sekolah, sehingga kepulangan mereka ke Jakarta dipercepat.
Cresen yang baru saja keluar dari kamarnya, hampir terbentur dengan Reo yang sedang berlari-lari kecil.
"Om Cresen!" pekik Reo kaget.
"Reo! Ihsss, jangan lari-lari!" Cresen memperingatkan keponakan kecilnya.
"Hehehe... Reo mau sekolah dong Om Cresen. Kalau Om Cresen masih sekolah nggak?" tanya Reo polos.
Dia berpikir jika Cresen masih sekolah, karena tidak bekerja, sama seperti papanya yang kerja di kantor perusahaan Nagato.
"Eghhh..."
Cresen belum sempat menjawab pertanyaan dari Reo, di saat dia melihat Amy dan Shiro Yuki yang keluar dari kamar mereka.
Sorot mata Cresen terlihat aneh, di saat melihat kedatangan keduanya yang bersamaan. Ada rasa tidak senang yang tergambar pada raut wajahnya. Tapi hal itu diabaikan oleh Shiro Yuki, sebab tidak ingin merusak suasana terakhir mereka berada di villa ini.
"Ada apa?" tanya Shiro Yuki pada anaknya.
Reo melihat ke arah Cresen, sebelum menjawab pertanyaan papanya. Tapi Reo justru mengembangkan senyumnya, dengan tidak menjawab pertanyaan papanya.
Amy tersenyum tipis melihat ke arah Cresen, membuat pemuda tersebut jadi meleleh karena senang.
Hal ini membuat Shiro Yuki merasa tidak senang, sehingga cepat mengajak istri dan anaknya untuk segera pergi dari depan kamarnya Cresen.
"Ayok!"
Cresen tersenyum lebih lebar, melihat kakak sepupunya yang sedang cemburu karena istrinya tersenyum dengannya tadi.
"Ohhh Amy..."
Dengan cepat Cresen kembali masuk ke dalam kamarnya, karena membayangkan yang tidak-tidak tentang Amy. Sama seperti yang dia mimpikan semalam soal ciumannya dengan istri kakak sepupunya itu.
__ADS_1
'Aku benar-benar bisa menjadi gila di dekatnya Amy. Hanya dengan senyumnya saja Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya mencicipi bibir ranum tersebut.'
"Ohhh... Aku gila Amy..."