Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Tawaran


__ADS_3

Di kamar Alina.


Ketika seseorang memasuki masa-masa akhir masa SMA, muncul banyak pertanyaan mengenai masa depan mereka. Banyak remaja yang merasa kebingungan tentang langkah selanjutnya yang harus mereka ambil. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah ketidaksepakatan antara keinginan mereka dan orang tua mereka.


Hal ini juga yang sedang dialami oleh Alina, salah satu adiknya Reo, yang ingin menekuni dunia musik namun menghadapi sikap Papanya yang tidak setuju.


Shiro Yuki tidak menyetujui anaknya masuk dunia hiburan. Dia trauma dengan kejadian masa lalu, yang berkaitan dengan dunia hiburan Arsy keartisan.


Padahal usia muda, sebagian besar remaja belum memiliki pengalaman kerja yang signifikan dan keahlian khusus dalam suatu bidang. Oleh karena itu, mereka hanya memikirkan apa yang mereka sukai, tanpa memperhatikan bagaimana dengan keadaan ke belakangnya nanti. Yang pasti pilihan mereka hanya melihat dari minat pribadi, bakat, nilai, sumber daya keluarga, dan peluang karir. Meskipun faktor-faktor ini dapat membantu dalam menentukan pilihan, masih banyak remaja yang kesulitan menemukan jalan yang tepat.


Banyak remaja sering merasa terbebani oleh harapan dari orang tua mereka, karena orang tua seringkali memiliki pandangan yang berbeda tentang pilihan karir yang seharusnya diambil oleh anak mereka. Bahkan ada di antara mereka yang memaksakan kehendaknya, sama seperti yang terjadi pada Shiro Yuki.


"Jadi, om Shiro nggak setuju Kamu ambil sekolah musik?" tanya Elly, yang sedang berada di kamar Alina bersama dengan Marcel juga.


"Iya tuh, papa egois deh. Masa punya sekolah musik, tapi anaknya gak boleh mendalami musik." Alina tampak sedih dan terlihat seperti baru saja menangis.


"Kenapa Om Shiro melarang? pasti punya alasan kan?" Elly bertanya pada Alina.


"CK, papa itu aneh emang. Punya banyak bisnis di berbagai bidang, masa iya anaknya sendiri nggak boleh ada yang mencoba mendalami salah satu bidang dari bisnisnya juga." Marcel, yang selalu menjadi sok tua, berbicara dengan bijaksana mengkritik papanya yang tidak setuju dengan keinginan kembarannya.


"Alina tuh memiliki bakat yang luar biasa dan potensi besar untuk sukses di bidang musik, jadi nanti aku coba ikut bicara sama papa ya!"


Marcel mencoba untuk menghibur kembarannya, membantunya untuk berbicara dengan sang papa agar bisa bernegosiasi. Dia juga memberikan saran kepada Alina, supaya tidak boleh menyerah hanya karena ayahnya tidak setuju.


"CK, hihhh... Kamu kayak gak tahu papa!"

__ADS_1


"Bahkan papa udah atur keberangkatan kita kan ke Harvard university, sama seperti kak Reo. Ini karena papa ingin melihat kita-kita, anaknya ini, sama seperti dirinya yang juga lulusan sana."


Alina tampak sangat terbebani oleh harapan dari papanya. Dia mengatakan bahwa papanya itu selalu menganggap musik hanya sebagai hobi dan tidak pernah memberikan akses untuk menjadi pilihan utama. Papanya juga mengatakan bahwa lebih suka jika dia mengejar karir yang lebih stabil dan dianggap lebih bergengsi, seperti menjadi dokter atau insinyur, seandainya tidak mau menjadi pengusaha seperti dirinya.


"Berat banget sih jadi anak dari keluarga Nagato," keluh Alina dengan wajah masam.


"Hushhh! gak boleh gitu Lin," sahut Marcel cepat, yang diangguki juga oleh Elly.


"Banyak sekali orang di luaran sana, yang ingin menjadi bagian dari keluarga kita ini. Jadi, jangan asal ngomong!" Marcel memperingatkan saudara kembarnya, supaya berhati-hati jika berbicara.


Elly memahami perasaan Alina, karena dia juga pernah mengalami hal yang sama. Papanya ingin dia mengejar mata pelajaran exact, supaya bisa sebagai dokter atau pengusaha, sama seperti papanya juga. Mirip dengan Alina ini. Tapi Elly tahu, bahwa dia memiliki minat yang besar di bidang sastra dan bahasa. Dia mengambil keputusan untuk mengikuti minatnya, jadi besoknya dia akan ambil jurusan bahasa dan sastra, meskipun itu berarti harus menghadapi tekanan dari papanya juga.


"Kita harus yakin dengan apa yang kita inginkan untuk masa depan kita sendiri. Tanpa harus menyakiti perasaan orang tua kita juga, tapi... ya memang sedikit sulit."


Elly mengatakan pada Alina perlu untuk memperjuangkan apa yang dia inginkan, karena itu termasuk kebahagiaan untuk diri sendiri juga.


"Apa Pa?"


Reo kaget saat papanya membicarakan tentang Elly, anaknya Ryan Jamaludin. Rekan bisnis dan sahabatnya sedari masih berada di bangku kuliah.


"Kenapa Pa?" tanya Reo meminta alasan pada papanya, mengenai rencana tersebut.


Shiro Yuki tampak menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Reo padanya.


Sebenarnya Shiro Yuki dan Ryan Jamaludin sendiri tidak memaksa atau membebaskan anak-anak untuk menolak atau menerima tawaran perjodohan mereka, karena kedua orang tuanya sadar, jika perjodohan akan membawa dampak besar untuk kehidupan keluarga mereka.

__ADS_1


Ada sisi positif dan negatif dari perjodohan mereka, sama seperti kebanyakan dari keluarga hasil perjodohan.


"Kami tidak memaksa, terserah Kamu juga Reo. Tapi... Papa lihat Elly suka sama Kamu."


Puk puk puk


"Papa berharap Kamu memikirkannya lagi."


Shiro Yuki keluar dari kamar Reo, setelah menepuk-nepuk pundak anaknya itu, memintanya untuk berpikir-pikir lagi


Reo kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, terlentang menatap langit-langit kamar. Perlahan-lahan dia pun berhasil pergi berkelana ke alam mimpi, memimpinkan segala sesuatu yang menjadi angan-angannya.


Di kamar Shiro Yuki, ada Amy yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia melihat suaminya yang masih serius menatap ke layar ponsel, setelah masuk kamar.


"Boo sudah bicara dengan Reo?" tanya Amy mendekat ke tempat duduknya Shiro.


Shiro mengangguk kan kepalanya mengiyakan, tapi belum menjawab dengan bersuara. Dia masih fokus membalas pesan dari beberapa orang, yang menjadi kepercayaannya memegang beberapa anak cabang bisnisnya.


"Tapi Papa gak minta dia buat kasih keputusan sekarang. Biar dia pikir-pikir juga."


Amy menganggukkan kepalanya paham, dengan apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Mereka berdua tidak pernah memasakkan diri pada anak-anaknya, untuk mengenai teman, pasangan, misalnya pacar atau kekasih, apalagi pasangan hidup.


Shiro Yuki sendiri diberikan kebebasan oleh Yuki Nagato, memilih pasangan hidupnya sendiri sehingga pernah gagal. Mungkin hal ini juga yang menjadi pertimbangannya, sehingga membuat usulan pada Ryan Jamaludin, supaya menjodohkan anak mereka berdua.


"Tapi jika Reo menolaknya, Boo gak marah kan?" tanya Amy khawatir.

__ADS_1


Amy tidak ingin melihat Reo merasa tertekan, dengan semua penawaran yang diberikan oleh papanya sendiri. Meskipun Amy juga melihat bagaimana kepribadian Elly yang lembut dan tidak banyak tingkah, sama seperti gadis-gadis di media sosial yang justru over acting.


Dirinya mengenal Elly sedari kecil, karena umur Elly juga kebaya dengan anak kembarnya. Apalagi kedekatan antara suaminya dengan papanya Elly, membuat keluarga mereka jadi akrab dan sering bertemu meskipun tidak ada acara resmi dari pihak perusahaan. Tapi mereka bertemu karena saling mempererat tali silaturahmi.


__ADS_2