
Shiro Yuki akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Ryan Jamaludin. Teman sekaligus rekan bisnisnya, papa dari Elly.
"Bagaimana? apakah kamu gak apa-apa, jika Reo meminta untuk bertunangan terlebih dahulu?" tanya Shiro Yuki meminta pendapat pada Ryan Jamaludin.
"Apa rencana kita berhasil?"
Bukannya memberikan jawaban pada pertanyaan Shiro Yuki, Ryan Jamaludin justru balik bertanya.
"Ya. Gadis bule itu sudah sangat menikmati pekerjaannya, jadi dia tidak pernah mengganggu Reo lagi. Hhh... dia gak pernah tahu siapa Reo selama ini."
"Hahaha... untung saja dia tidak tahu. Coba jika bule itu tahu, siapa Reo selama ini. Maka bisa dipastikan cerita lama Kamu akan terulang lagi, dan jika Reo sudah menyesal kemudian menjadi duda, mengemis pun Elly tidak akan aku serahkan padanya."
Shiro Yuki hanya tersenyum sinis, mengingat sejarah perjalanan rumah tangganya yang pertama dulu. Karena terlalu bucin sama mamanya Reo, Lay, dia tidak mau mendengarkan nasehat dari teman-temannya. Jika Lay hanya menyukai hartanya saja, dengan mendompleng nama besar keluarga Nagato.
"Lalu kapan kamu melamar?" tanya Ryan Jamaludin memastikan.
"Ck, bukan aku yang melamar. Atau kamu mau Elly jadi istri muda ku? hahaha..."
"Hahhh sial! hahaha..."
Mereka berdua tertawa-tawa sambil saling ejek, masih sama seperti dulu sewaktu muda.
***
Setelah makan malam, Shiro Yuki mengajak semua anggota keluarganya untuk berkumpul. Dia ingin bicarakan tentang rencananya pergi melamar Elly minggu depan. Shiro mengungkapkan bahwa papanya Elly telah memberikan persetujuannya, dan bahwa urusan dengan Elly akan menjadi urusan papanya.
Mendengar berita ini, Reo merasa senang atas dukungan yang diberikan oleh papanya dan juga papanya Elly.
Amy, Marcel dan Alina, mengucapkan selamat pada Reo dengan bahasa yang ikut berbahagia.
"Selamatkan Sayang."
__ADS_1
"Wahhh... selamat kak! bentar lagi melepas lajang," ucap Marcel bercanda.
"Asyik... punya kakak ipar teman sendiri!" Alina juga berseru dengan senang.
Namun, Reo juga merasa sedikit khawatir karena merasa, Elly belum benar-benar bisa menerimanya. Reo tidak ingin membuat Elly merasa terpaksa, yang takut jika di kemudian hari hubungan mereka tidak berhasil. Karena itu, dia bertanya pada papanya, bagaimana dia bisa yakin bahwa Elly akan setuju.
"Tapi Pa, apa Papa yakin jika Elly tidak terpaksa?" Reo benar-benar merasa khawatir.
"Kamu tenang saja. Elly sudah berbicara pada papanya, dan dia juga yang meminta untuk kamu segera melamarnya."
"Selain itu, papanya Elly juga berpikir bahwa kamu akan bisa menjaga anaknya. Sama seperti papa dan juga mama, yang merasa bahwa Elly adalah sosok yang baik, sopan, dan mandiri."
Namun, Reo masih merasa khawatir dan bertanya-tanya apakah Elly benar-benar siap untuk memulai hubungan serius dengannya. Karena pertemuannya yang terakhir kemarin membuatnya sedikit ragu.
Puk
Shiro Yuki menepuk pundak Reo, kemudian berkata, "Kamu harus yakin bahwa dia sudah siap dan telah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Elly adalah gadis yang baik, jadi jangan sia-siakan kepercayaan Papa dan juga om Ryan."
"Pa, Ma. Apa Reo boleh meminta mama Lay untuk pulang? biar dia bisa melihat Reo bahagia melamar seorang gadis."
Reo melihat ke arah papa dan mama Amy, meminta izin untuk memberikan kabar ini pada mamanya yang ada di Paris. Meskipun sudah tidak pernah berhubungan secara langsung, tapi hubungan keduanya tetap baik melalui sosial media maupun panggilan video call. Jadi Reo dan Lay memiliki hubungan yang baik dan itu diketahui oleh Shiro Yuki maupun Amy sendiri.
"Tentu saja Sayang."
Amy memberikan jawaban terlebih dahulu sebelum suaminya menjawab. Doa tidak mau jika Reo merasa kecewa, karena Shiro Yuki menolak permintaan ijinnya.
Reo merasa senang dan terharu saat mendengar bahwa mamanya, Lay, diperbolehkan datang dari Paris untuk bergabung dalam acara lamarannya dengan Elly.
Lay memang memilih untuk pindah ke Paris setelah keluar dari penjara, dan tidak pernah kembali ke Indonesia. Reo tahu bahwa meminta Lay untuk kembali ke Indonesia mungkin tidak mudah, karena mamanya mengelola sebuah agensi model di sana.
Tetapi dia merasa ini adalah kesempatan yang sangat penting baginya, mengajak mamanya untuk ikut merasakan bahagia.
__ADS_1
Reo memutuskan untuk menghubungi Lay melalui panggilan video dan menjelaskan situasi yang sedang dihadapinya. Dia mengatakan bahwa dia akan melamar Elly, dan Lay diundang untuk datang ke Indonesia dan bergabung dalam acara tersebut. Reo juga menjelaskan betapa pentingnya kehadiran Lay dalam momen ini, terutama karena Lay adalah ibu kandungnya.
Untungnya Lay mendengarkan dengan hati-hati apa yang diucapkan Reo. Dia merasa senang bahwa anaknya ingin melibatkannya dalam acara-acara penting dalam hidupnya, tetapi juga sedikit khawatir akan pulang ke Indonesia. Takut jika merasa terabaikan, karena mantan suaminya sudah memiliki keluarga yang utuh dengan Amy dan anak-anaknya.
Reo menjelaskan seberapa pentingnya kehadiran Lay dalam acara lamarannya dengan Elly. Dia ingin Lay menjadi bagian dari keluarga mereka yang bahagia dan merayakan momen penting bersama-sama. Dia merasa pentingnya peran Lay sebagai ibu kandungnya dalam hidupnya dan berharap dapat membuat momen ini menjadi spesial bagi mereka berdua.
Akhirnya Lay setuju untuk datang ke Indonesia. Reo merasa sangat beruntung memiliki mama yang sangat peduli dan mau datang jauh-jauh untuk menjadi bagian dari momen penting dalam hidupnya. Dia berharap momen ini akan menjadi awal dari hubungan yang lebih dekat dengan mamanya.
***
Akhirnya, Lay tiba di Indonesia dan bergabung dalam acara lamaran Reo dan Elly. Dia merasa senang dan terharu melihat betapa bahagianya Reo bersama Amy dan keluarga mereka. Lay merasa bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat untuk datang ke Indonesia, dan ikut merasakan kebahagiaan anaknya.
Ryan Jamaludin yang sudah mengenal Lay, menyambutnya dengan hangat. Memperkenalkan Mira, istrinya dan juga Elly anaknya, akan menjadi calon menantunya Lay, sebab akan segera menikah dengan Reo.
"Ini istriku, Mira. Dan ini adalah Elly, calon menantu mu Lay. Hahaha..."
Lay tersenyum dan menjabat tangan kedua wanita yang perkenalkan Ryan Jamaludin sebagai istri dan anaknya, dengan hangat. Dia merasa senang karena Ryan Jamaludin tidak mempermasalahkan tentang masa lalunya.
"Apakah acaranya sudah boleh di mulai?" tanya Reo tidak sabar.
"Hahaha... tak sabar ya?"
"Apa perlu langsung panggil penghulu?"
"Helehhh... kemarin aja sok cuek," ejek Marcel, yang diiyakan oleh Alina.
"Iya tuh, dasar Kakak kulkas!"
"Sabar Sayang. Biarkan mereka beramah tamah sebentar. Mereka juga dulunya teman satu kampus, jadi..."
"Mama gak cemburu kan, ada mama Lay?" Reo memotong kalimat Amy, khawatir jika mama sambungnya itu merasa tidak nyaman dengan adanya Lay, mama kandungnya Reo.
__ADS_1