
Pernahkah seorang laki-laki memendam rasa sebab mencintai seseorang karena malu mengungkapnya? atau sebaliknya juga untuk seorang gadis? pura-pura cuek kepada seseorang, padahal sebenarnya dia inginnya disapa dan diperhatikan.
Pernahkah kalian berjalan atau berkunjung ke rumah teman, hanya demi bisa melihat seseorang yang terasa spesial di hati, meskipun hanya sekilas saja saat melihatnya?
Pernahkah kalian ingin menulis semua yang kalian rasakan, meski di tengah ketikan demi ketikan hurufnya tidak bisa dilanjutkan, karena bingung dengan yang diinginkan dan dirasanya selanjutnya?
Kalian tidak pernah???
Orang yang sedang jatuh cinta, yang dengan segala perasaannya, dia mampu memendam rasa rindu dan cintanya. Tapi tidak mampu menahan cemburu meski hanya sekedar cemberut, atau membuang nafas panjang sebagai pelampiasannya.
Bagaimana mau protes, sedangkan seseorang itu bukanlah siapa-siapanya. Dia hanya seseorang yang kebetulan sekedar bisa dikagumi. Rasa kagum yang menjadi rindu, kemudian rindu yang mungkin bisa dikatakan mengarah kepada cinta.
Apakah benar perasaan itu cinta, yang katanya akan menimbulkan rasa ingin memiliki dan dimiliki?
Tapi...
Ahhh...
Bagaimana ingin memiiki, sedangkan seseorang itu terlalu tinggi untuk disentuh, terlalu jauh dan terasa ada yang tembok tinggi yang membatasi.
Meski begitu, hati rasanya tidak pernah bosan untuk berkhayal agar dia mau menyapa, meski dengan ucapan yang sekedarnya saja.
Kak, Mas, ehhh Den. Arghhh... terlalu lancang rasa hatiku ini!
Boleh gak sih maksain perasaan suka, atau cinta pada seseorang yang kita inginkan?
Nah kan... jadi ini memiliki kan!
Mana berani mengatakan kebenaran dalam hati. Sedangkan untuk mengapa saja tidak berani, padahal bisa bertemu setiap hari. Garing sekali rasanya, kebersamaan yang seperti tidak bersama.
Memang siapa Aku?
Takut, malu, atau mungkin kandang-kandang rasa cemburu itu datang. Lucu kan jadinya?
Mas, Aku cemburu!
Eh, siapa Kamu?
Sekali lagi harus ditegaskan, itu hanya dalam angan-angan saja. Tidak keluar dari mulut, tidak! apalagi dikatakan di depannya secara langsung. No, alias tidak!
Kalian pernah cemburu tidak, dengan foto-foto dia yang dia pajang dalam sosial media, dengan beberapa temannya mungkin, yang terlihat cantik dan menarik.
Arghhh...
Diam-diam terus mencari tahu siapa teman-temannya dengan meng-klik satu persatu teman yang ada di tag dalam foto tersebut. Dan ternyata, menang ada seseorang yang spesial untuknya.
Kalian tidak merasa cemburu jika akhirnya menemukan bahwa dia ternyata sudah tidak sendiri? kemudian kalian bertanya, apakah ada yang kurang denganku dibandingkan dengan dia?
__ADS_1
Cinta memang kadang-kadang memang lucu banget, tidak masuk akal itu, tidak ada hubungan, bukan siapa-siapanya tapi merasa tidak rela jika ada orang lain yang hadir dalam hidupnya. Bisa tersenyum bersama dengannya, sedekat itu dengan berbagai canda tawa mereka.
Apakah kalian tau rasanya? Sakit, sakit sekali. Bahkan sampai sekarang masih terasa nyeri dan nyut-nyutan di hati.
Seiring berjalannya sang waktu, rasa yang ada di dalam dada bukannya hilang, pergi, tapi malah semakin dalam dengan rasa yang terus menyesatkan, tapi entah kenapa tidak bisa dihilangkan.
Aneh kan?
Atau ini adalah kegilaan yang hakiki?
Entahlah, tapi kenyataannya ini semua adalah kenyataan yang ada.
Jika kalian bisa menjawabnya, tolong kasihlah beberapa solusi, nasehat, atau bisa juga tiket gratis untuk pergi piknik, agar bisa melupakan semua rasa yang tidak biasa ini.
Tapi siapa sangka, jika semakin kesini nyatanya hati ini justru semakin nekat dan berani. Diam-diam, tanpa sepengetahuannya, kenekatan itu datang. Buku bacaan yang ada di dalam kamarnya, kini sudah ada tulisan kata I LOVE U.
Hahaha...
Puas, senang tapi ada ketakutan juga dengan kenekatan tersebut. Seberani itu karena dorongan rasa yang sangat dalam.
Sebenarnya kalau demi cinta, bisa jadi tangan ini melakukan lebih nekat dan lebih gila dari sekedar membuat coretan di buku bacaan itu.
Tapi kewarasan masih bisa menyadarkan diri dan hati. Dan itu jangan sampai melampaui batas, karena harus tetap berfikir jangan jadi orang bodoh hanya karena cinta.
Mungkin hingga suatu hari, jika sudah jodoh siapa yang tahu juga kan?
Jadi, apakah ini menang sudah gila?
Ya kasihan sekali rasa ini.
SEBUAH CATATAN TAK BERMAKNA
*****
Vina merapatkan badannya pada Marcel. Temannya Alina ini mengunci pergerakannya, hingga Marcel tidak bisa kemana-mana lagi.
Vina memang menyukai kembaran temannya, Alina, tapi sikap Marcel yang selalu acuh membuatnya gregetan. Jadi kali ini, saat ada kesempatan, Vina tidak membuang-buang waktu untuk bisa mendapatkan Marcel.
Dengan nekat Vina mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. Bersamaan dengan dadanya yang berdegup kencang, Vina juga memejamkan kedua matanya sambil bergerak maju.
"Dasar otak mesum!" bisik Marcel dengan menjewer telinganya Vina.
"Ough..."
Sambil meringis sakit, refleks Vina membuka matanya. Dia melihat Marcel justru tersenyum mencibir, padahal Vina sudah berusaha menahan malu setengah mati dengan kenekatannya itu.
Marcel menyentuh Vina, "coba bercermin, mungkin Kamu bisa melihat jika Kamu cantik, tapi percantik juga otakmu!"
__ADS_1
Seluruh tubuh Vina seolah membeku, mulutnya juga tidak mampu mengeluarkan suara. Padahal dia sendiri yang membuat keadaan canggung seperti ini.
"Kamu lucu juga, hahaha..." Marcel pergi meninggalkan Vina yang berdiri mematung.
"Gila banget, nanti dia kira gue cowok apaan," gerutu Marcel sambil berjalan menuju ke arah kelasnya sendiri, dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali, mengingat kejadian yang baru saja dia alami.
Vina sendiri masih berdiri di tempatnya. Dia merasa sangat malu, karena kenekatannya ini memiliki konsekuensi, yang justru membuatnya tidak bisa memperlihatkan wajahnya di depan marcel lagi.
Puk
"Woiii.."
"Bengong aja Neng, kesambet lho!"
Juna dan Adam menepuk pundak Vina, menegurnya juga, karena melihat temannya itu bengong tanpa sebab yang mereka ketahui.
"Ehh, apa sih!"
Vina mengusir tangan mereka berdua, yang masih betah bertengger di pundaknya.
"Ada apa Lo bengong di sini? biasanya Srikandi langsung ngacir ke kantin, nongkrong lama di sana sampai semua jajanan di kantin habis Lo makan!"
Adam mengolok-ngolok kebiasaan Vina yang doyan makan, tapi badannya gak gemuk-gemuk juga.
"Mungkin dia sedang diet," sahut Juna asal.
"Diet, gak salah? kena angin aja kabur, malah diet. Mau jadi kipas kertas. Hahaha..."
"Hahaha... mungkin."
Adam dan Juna masih terus mengolok-ngolok Vina, tanpa melihat bagaimana perubahan wajah Vina yang sudah berubah merah sekarang.
Vina merasa kesal dengan perkataan mereka berdua, karena perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Berbeda dengan hari-hari biasa, mereka memang terbiasa untuk saling membully. Tapi itu banyak sebatas candaan saja, bukan yang sebenarnya.
"Dahlah!"
Vina mencoba untuk meredam emosi, dengan meninggalkan mereka berdua. Dia berjalan cepat menuju ke kelasnya sendiri.
Hal ini membuat Juna dan Adam saling pandang, kemudian menoleh ke arah Vina yang sudah menjauh dari tempat mereka.
"Dia kenapa?" tanya Adam bingung dengan sikap Vina yang dirasa aneh.
"PMS mungkin," sahut Juna asal.
"PMS apaan dah? PNS Gue tahu," tanya Adam tidak mengerti maksud dari jawaban Juna.
"Ck, tanya sama simbah mu sana!"
__ADS_1
Juna menjawab pertanyaan Adam dengan kesal, kemudian berjalan meninggalkan temannya yang masih merasa bingung dengan arti singkatan dari PMS tadi.