
Suasana makan malam di villa menjadi canggung, karena Shiro Yuki meninggalkan meja makan.
Dia merasa tidak nyaman pada saat papanya menyinggung soal honeymoon bersama Lay Sanespere, mantan istrinya yang dulu. Dan itu memang dilakukan dengan berkeliling Eropa.
Sebenarnya Shiro Yuki sudah memiliki rencana sendiri untuk mengajak Amy honeymoon. Dan itu adalah berkeliling Indonesia terlebih dahulu, baru kemudian keliling Asia. Sebab menyesuaikan jadwal perusahaan juga.
Amy juga belum memiliki visa dan paspor untuk bepergian ke luar negeri, sehingga membutuhkan proses untuk pembuatannya.
Meskipun dia bisa dengan mudah untuk mendapatkan proses pembuatan visa dan paspor untuk Amy, tapi pastinya ada waktu yang tepat nanti.
Shiro Yuki ingin mengajak istrinya itu untuk berkeliling, jika keadaan Amy sudah selesai datang bulannya. Dia tentu saja tidak mau hanya bisa melihat dan membayangkan istrinya saja, tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Maaf."
Yuki Nagato yang merasa bersalah dengan situasi ini, meminta maaf pada semuanya. Sedangkan Amy yang belum mengetahui kebenaran dari permasalahan ini, masih menyuapi Reo. Meskipun dia juga merasa ada yang tidak beres pada suaminya.
"Reo, sini nenek yang suapi!"
"Mama biar nyusul Papa dulu ke kamar ya," usul Cresentia pada cucunya.
Untungnya Reo seperti mengerti keadaan, sehingga dia mengganggu setuju. Dia membiarkan Amy menyerahkan piringnya pada sang nenek, dan tidak protes di saat mamanya itu pergi menyusul papanya.
"Tidak apa-apa merepotkan Mami?" Amy bertanya sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Cresentia mengangguk mengiyakan, dan meminta pada menantunya itu untuk pergi menyusul anaknya. "Pergilah dan bujuk dia ya!" sarannya pada Amy.
Amy mengangguk mengiyakan, kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kamar. Dia akan menyusul dan menenangkan hati dan pikiran suaminya, meskipun dia sendiri tidak pernah yakin jika bisa.
Setelah Amy pergi.
"Kekanak-kanakan sekali Kak Shiro," kritik Cresen, melihat reaksi Shiro Yuki tadi.
Tapi Cresen mengkritik Shiro setelah Amy pergi, sebab dia tidak mau jika Amy menilainya buruk, yang hanya bisa mengkritik saja.
"Sudah. Di sini yang salah itu Om, jadi tidak perlu mengkritik Shiro. Dia pasti tidak akan pernah mau menyamakan momen paling penting dari pernikahannya yang sekarang ini dengan yang dulu."
"Om yang tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Padahal sudah pasti Shiro memiliki rencana sendiri."
Yuki Nagato benar-benar merasa bersalah pada anaknya, karena pertanyaannya yang tadi soal honeymoon. Pertanyaannya itu tentu saja mengingatkan Shiro Yuki pada kenangan lama saat bersama dengan Lay Sanespere. Mantan istrinya yang telah memberikan luka terdalam di hati anaknya.
Cresentia memijit-mijit pelipisnya sendiri, memikirkan apa yang akan dilakukan Shiro nantinya.
"Hahhh..."
"Mi. Papi mau istirahat dulu."
Yuki Nagato justru pamit untuk pergi ke kamar terlebih dahulu. Dia mendadak jadi pusing dengan kejadian ini.
__ADS_1
"Tan," panggil Cresen di saat Reo sudah selesai makan, sehingga Cresentia tidak lagi sibuk.
"Reo. Sayang mau minum susu atau jus?" tanya Cresentia pada Reo, tanpa mempedulikan panggilan dari keponakannya.
Melihat Cresentia yang cuek dan tidak menjawab panggilannya, Cresen hanya bisa menghela nafas panjang kemudian membuangnya cepat.
"Hhhh... Hugh!"
"Reo mau susu saja, terus bobo."
Cresentia mengangguk saja, kemudian memberikan gelas berisi susu hangat untuk Reo. Sedangkan Gela jus buahnya dia sisihkan.
Tapi sebelum meminum susu, Reo melihat ke arah Cresen. "Om. Om Cresen tidak ada pekerjaan di Jakarta?" tanya Reo ingin tahu.
Mendengar pertanyaan Reo, Cresen mengerutkan keningnya bingung. "Pekerjaan apa?" tanya Cresen setelah tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh keponakan kecilnya.
"Om Cresen ke Jakarta ngapain?"
"Terus ikut papa dan mama ke villa ngapain?"
Pertanyaan Reo yang banyak membuat Cresen melirik ke arah Cresentia, tantenya. Dia meminta bantuan agar menjawab pertanyaan dari cucunya.
Tapi ternyata Cresentia pura-pura tidak melihat dan memperhatikan mereka berdua, dengan kesibukannya yang sedang makan.
cesentia memang belum sempat makan malam sendiri, sebab baru saja menuang nasi ke piring, Shiro Yuki keburu pergi karena marah dengan Papinya.
Mengingat kejadian ini, Cresentia jadi teringat dengan Shiro Yuki dan Amy. Mereka berdua juga belum sempat makan malam, karena tadi baru saja mulai untuk makan.
Reo juga melihat ke arah piring mamanya, sehingga dia berkata, "Reo panggil mama dan papa ya Nek!"
Tapi sebelum Cresentia sempat menjawab, Reo sudah lebih dulu turun dari tempat duduknya Kemudian berlari menuju ke arah kamar papa dan mamanya.
"Cresen. Sebaiknya Kamu segera selesaikan makannya, kemudian kembali ke kamar!"
Cresen ingin membatah, tapi melihat ekspresi wajah tantenya yang tampak serius dan bukan hanya bercanda, akhirnya hanya menurut.
"Huhfff... apa salahku? padahal Aku juga ingin menikmati wajah Amy."
Puk!
"Aduh, apa sih Tante?!"
"Jaga mulutmu! Ayo sana!"
Pundak Cresen menjadi sasaran empuk pukulan Cresentia, yang geram karena mendengar perkataannya yang tadi.
Tapi Cresen tidak menyadari bahwa, apa yang dua katakan tadi menjadi pemicu kemarahan Tantenya.
__ADS_1
"Ingat Cresen! Kamu lebih baik diam dan pergi ke dalam kamarmu sana!"
Cresen hanya mengangkat kedua bahunya, karena merasa jika permasalahan sepupunya itu membuat orang-orang menjauhi dirinya. Dia tidak sadar jika semua ini terjadi karena adanya dirinya juga.
*****
Tok tok tok
"Ma... Mama!"
"Papa!"
Reo mengetuk-mengetuk pintu kamar papanya, dengan memanggil-manggil mamanya juga.
Di dalam kamar, Amy sedang membujuk Shiro Yuki, supaya mau keluar dari kamar. Sebab suaminya itu belum menyelesaikan makan malamnya. Bahkan dia sendiri juga belum sempat makan apapun juga.
"Boo. Ayo keluar, kasian Reo."
"Apa Boo tega melihat Reo memanggil terus di luar? Bee juga lapar ini." Amy berusaha melunakkan hati suaminya, dengan memberikan alasan supaya suaminya itu memikirkan keadaan anaknya dan juga dirinya yang sedang lapar.
"Hemmm..."
Shiro Yuki tampak malas-malasan, menanggapi permintaan istrinya. Tapi sedetik kemudian...
Kruyukkk...
Suara perut Shiro Yuki tidak bisa menyembunyikan suatu di dalam perutnya, yang membuatnya merasa malu juga, karena tidak bisa menahan cacing-cacing perutnya untuk berdemo.
Akhirnya dengan berat hati dan menahan rasa malu, dia mengangguk setuju. Tapi dengan syarat...
"Cium dulu!"
Amy mengerutkan keningnya mendengar permintaan dari suaminya.
"Ini... Bee gak salah sebut lho tadi," keluh Amy memprotes permintaan Shiro, sebab dia memang sangat berhati-hati untuk memangil Shiro Yuki,agar tidak mendapat hukuman.
"Pokoknya cium dulu!"
Shiro tetap kekeh dengan persyaratan yang diajukannya, karena sejak Amy mengatakan jika sedang datang bulan, dia belum lagi mencium bibir isterinya.
Tok tok tok
"Mama... Papa!"
Dari luar kamar terdengar suara Reo yang kembali memanggil mereka berdua.
Cup cup cup
__ADS_1
"Ayok!"
Amy melongo melihat bagaimana kelakuan suaminya, yang mencuri ciuman di bibirnya, pada saat dia sedang menoleh ke arah pintu karena Reo kembali mengetuk pintu.