Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Lamaran


__ADS_3

Reo dan Elly sudah lama dijodohkan, dan meskipun keluarga mereka dekat, keputusan menerima atau menolak perjodohan tersebut tetap berada di tangan keduanya.


Reo dan Elly memang ada sedikit ketegangan di awal-awal, dan tidak ada moment romantis-romamtis di antara mereka. Baru-baru ini Reo akhirnya mengumpulkan keberanian untuk meminta Elly segera bertunangan, dan Elly akhirnya bersedia.


Elly mengiyakan permintaan Reo, setelah merasa yakin jika Reo memang bersungguh-sungguh dalam menjalani hubungan mereka.


Elly selalu memiliki perasaan terhadap Reo, tetapi dia tidak pernah menindaklanjutinya karena dia tidak ingin membahayakan hubungan keluarga mereka yang sudah terjalin sangat lama.


Ketika Reo akhirnya bergerak, dia sangat senang. Dia selalu membayangkan dirinya bersama Reo, tapi dia tidak ingin memaksakan diri karena sadar jika hati memang tidak bisa dipaksakan.


Elly menatap cermin dengan perasaan gugup. Dia sama sekali tak menyangka, jika Reo benar-benar akan melamarnya setelah beberapa hari kemarin mereka bersitegang. Ada rasa bahagia tapi juga takut yang berkecamuk di dalam hati Elly.


Entah kenapa hatinya merasa akan ada sesuatu yang terjadi, namun Elly tetap berusaha berpikir positif.


"Ya ampyun, Elly... cinta... Kamu cantik banget. Sampai pangling aku tuh!"


"Baru lamaran saja seperti ini, apalagi saat menikah," kata MUA yang mendandani Elly, cantik tapi tampan, dan rada-rada gemulai.


"Ah, Miss bisa saja. Aku jadi malu, kan ini." Elly tersipu malu-malu.


"Jangan terlalu memuji Miss. Lihat tuh, mukanya sudah merah banget seperti kepiting rebus. Nanti dikira sedang sakit sama keluarga Nagato bagaimana, kamu mau bertanggung jawab?" ucap seorang lelaki dari balik pintu. Itu adalah Ryan Jamaludin, papanya Elly.


Seketika Elly menoleh kebelakang, bersamaan dengan sang MUA. Setelah mengetahui papanya yang berkata dan menegur, Elly langsung menggerutu. "Ihhh... Papa! Kebiasaan deh, godain Elly!" serunya tak dapat menahan rasa malu, sampai Elly menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa di tepuk-tepuk, Sayang? Nanti riasannya hilang, Reo gak bisa ngenalin kamu gimana nantinya." Ryan Jamaludin menurunkan tangan anaknya agar tidak menutupi wajah.


"Papa sih!"


Elly semakin cemberut dengan manjanya. Dia adalah anak satu-satunya Ryan Jamaludin dengan istrinya, Mira.


"Hahaha... anak papa akan selalu cantik. Percayalah, dan tetaplah berbahagia."


Ryan tertawa-tawa senang, kemudian memeluk erat putrinya. Matanya mulai berkaca-kaca, merasa jika Elly akan semakin jauh darinya jika resmi menjadi istri Reo nantinya. Menjadi bagian dari keluarga Nagato.


Rasanya ini sangat berat, tapi bagaimanapun juga Ryan harus rela melepas putrinya demi menjalani biduk rumah tangga suatu hari nanti. Yang pasti dia bisa memastikan bahwa anaknya itu akan berbahagia dengan laki-laki yang tepat.


"Kamu sudah besar sekarang, El. Padahal baru kemarin kamu sekecil ini lho! kok tahu-tahu sekarang sudah mau dilamar orang," ucap Ryan tak dapat menahan air mata, tapi tetap berusaha untuk melucu, supaya anaknya tersenyum.


"Ihsss, Papa jangan nangis dong... Nanti aku juga ikut nangis," ucap Elly mulai meneteskan air mata, ikut dalam rasa haru yang dirasakan oleh papanya.

__ADS_1


Mereka pun saling berpelukan untuk saling menguatkan, sampai akhirnya Mira masuk memanggil mereka berdua, karena acara lamaran akan segera di mulai.


"Mas, Elly. Kok malah..."


Mira tidak jadi melanjutkan kalimatnya, karena dia ikut meneteskan air mata bahagia, melihat anak dan suaminya saling berpelukan.


Mira justru mendekat dan ikut memeluk keduanya, sama-sama memiliki perasaan kehilangan yang pastinya tidak akan lama lagi. Seandainya acara lamaran ini langsung menentukan tanggal pernikahannya Elly dan Reo.


Dengan perasaan campur aduk, Ryan Jamaludin dan Mira menggandeng Elly untuk membawanya turun ke bawah. Di mana tamu yang datang sudah berkumpul di sana.


Reo menatap tak berkedip, saat melihat kedatangan Elly yang di apit kedua orang tuanya. Bahkan Marcel juga melihat dengan kagum pada Elly, yang akan menjadi kakak iparnya suatu hari nanti.


"Ck, itu kata kedip juga kali!" celetuk Alina mengingatkan kakaknya.


Shiro Yuki dan Amy tertawa kecil, mendengar suara anak gadisnya yang sedang menggoda kakaknya.


"Hihihi..."


"Hehehe... jadi ingat dulu ya Ma?"


Tapi Amy mencubit lengan suaminya sambil berbisik-bisik, "jangan ingatkan Pa, atau Mama minta dibuatkan pesta yang besar nanti. Hihihi..."


"Serius Bee?"


Cepat Amy mengelengkan kepalanya beberapa kali, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya. Hal ini membuat Shiro Yuki jadi gemas dan mencubit hidung istrinya. Membuat anak-anak mereka melihat mereka berdua dengan tatapan aneh.


"Ma, Pa..."


"Malah asyik sendiri..."


"Pa, ini acara Reo Pa."


"Ehem..."


Shiro Yuki langsung ber_dehem untuk menetralkan wajahnya, begitu juga dengan Amy yang merasa kikuk sendiri karena ketahuan anak-anaknya.


"Sudah. Fokus lagi dengan acara!" pinta Shiro Yuki dengan wajah datarnya.


Acara lamaran pun berjalan sangat lancar, mulai dari pengajian, pengenalan keluarga sampai akhirnya tukar cincin. Semua orang terlihat bahagia, begitu juga Reo dan Elly. Mereka berdua tak henti-hentinya tersenyum sambil memandang cincin pertunangan mereka.

__ADS_1


"Kak Reo, terima kasih sudah melamar Elly. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Kakak, nanti" ucap Elly dengan pipi merah dan terlihat sangat bahagia.


"Iya."


Reo menjawab pendek, tapi langsung menggenggam tangan Elly, kemudian mencium punggung tangan tersebut.


Cup


"Terima kasih juga karena mau menerima Kakak. Maaf untuk yang kemarin-kemarin."


Elly mengangguk-anggukkan kepalanya cepat. Dia tidak mau melihat dan mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu. Yang pasti hatinya kini berbunga-bunga dengan lamaran Reo yang masih mengisi seluruh ruang hatinya.


"Ciehhhh..."


"Aku sungguh gak kuat! bisa gak langsung ke penghulu aja?!"


Puk


Alina memukul lengan Marcel yang ikut-ikutan menggoda Reo dan Elly, dengan candaan yang membuat Elly tersipu malu.


"Gak yangka ya, kita akan jadi saudaraan." Alina duduk di samping Elly.


Marcel tidak mau kalah.Dua justru memaksa duduk di antara Reo dan Elly, pura-pura memeluk Elly supaya Reo cemburu.


"Minggir ih!"


Reo merasa tidak nyaman dengan adanya Marcel yang mengganggunya, sehingga dia menarik tangan Marcel supaya pergi menjauh dari tempat duduk mereka.


Alina dan Elly tertawa-tawa senang dengan tingkah keduanya, sehingga membuat kedua orang tua mereka mengelengkan kepalanya beberapa kali.


"Lihatlah! Mereka tampak akur."


"Iya. Aku harap juga begitu," sahut Shiro Yuki, menanggapi perkataan Ryan.


"Aku percaya padamu Shiro. Selama ini Elly sendiri, tidak punya saudara di rumah. Mungkin dengan adanya Alina dan Marcel yang menjadi saudaranya setelah menikah dengan Reo, dia tidak akan merasa canggung karena sudah berteman sejak lama juga."


"Aku juga berharap demikian. Jadi tidak ada acara drama ipar dengan ipar."


"Hahaha..."

__ADS_1


Tawa dua pria dewasa itu memperlihatkan, bahwa mereka juga berbahagia dengan hubungan kedua keluarga yang semakin baik.


__ADS_2