Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Semua Keinginan


__ADS_3

Alina merasa senang dan bersemangat karena dia telah diberi tugas untuk memimpin sekolah musik keluarga yang dulunya menjadi tempat bekerja mamanya. Alina merasa terhormat untuk mengambil alih tanggung jawab tersebut dan merasa bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan bakat dan keahliannya dalam dunia musik.


Setelah lama merasa kesepian, Alina merasa hidupnya kembali berarti dengan tugas barunya ini. Dia bisa menyalurkan hobi dan minatnya dalam musik, sambil memenuhi tugas profesionalnya.


Alina merasa sangat bersyukur karena dia masih bisa terlibat dalam dunia musik tanpa harus terjun ke dalam dunia artis yang mungkin terlalu menuntut dan mengganggu kehidupan pribadinya. Dan yang pasti tidak direstui oleh papanya.


Alina merasa bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk berkembang dan memperoleh pengalaman baru. Dia bersemangat untuk memimpin sekolah musik keluarga dan membantu siswa-siswa di sana untuk berkembang dalam dunia musik. Alina berharap bahwa dia bisa memberikan yang terbaik dalam tugas barunya ini dan menjadi teladan bagi siswa-siswa di sekolah musik keluarga.


Di saat Alina diberikan tugas papanya untuk memimpin dan mengelola sekolah musik yayasan keluarga, Alina sangat antusias dengan tugas tersebut. Apalagi dia tidak begitu suka dengan situasi kantor perusahaan papanya yang terlalu besar dengan banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan diprioritaskan.


"Alina, sayang. Papa ingin memberikan tugas penting untukmu. Papa ingin kamu memimpin dan mengelola sekolah musik yayasan keluarga kita. Apakah kamu mau?" tanya Shiro Yuki, saat selesai makan malam.


"Wah, itu terdengar sangat menarik, papa! Aku selalu ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan memberikan dampak positif pada masyarakat. Alina senang mendengarnya, pa."


Shiro Yuki melihat ke arah anaknya dengan tegas. "Itu benar-benar tugas yang penting, Alina. Kamu harus bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengembangan sekolah musik, mencari peluang pendanaan, mengelola staf dan siswa, serta mengorganisir acara dan pertunjukan musik. Apakah kamu merasa siap untuk itu?"


Alina mengangguk pasti. "Ya, papa! Alina siap sepenuhnya dan siap bekerja keras untuk membuat sekolah musik menjadi lebih baik. Alina yakin bisa mengelola tugas ini dengan baik dan memberikan dampak positif pada masyarakat sekitar."


"Baiklah, Alina. Papa senang melihat semangatmu dalam tugas ini. Mama akan membantumu dengan memberikan dukungan dan saran jika diperlukan. Ingatlah bahwa ini adalah tugas yang besar dan memerlukan waktu, energi, dan dedikasi yang cukup, jadi pastikan kamu siap dan memiliki rencana yang baik."


Amy ikut tersenyum melihat dan mendengar pembicaraan mereka berdua, yang merupakan orang-orang yang sangat dia sayangi.


"Terima kasih, papa. Alina berterima kasih atas kesempatan ini dan akan bekerja keras untuk membuat sekolah musik kita menjadi lebih baik."

__ADS_1


Alina akan banyak belajar dari mamanya, yang pernah mengajar di sekolah musik tersebut dan menjadi kepala sekolah juga beberapa tahun terakhir ini.


Alina memiliki sumber daya internal yang kuat dalam mengelola sekolah musik yayasan keluarga. Dengan pengalaman dan pengetahuan dari mamanya yang pernah mengajar dan menjadi kepala sekolah di sekolah musik yang sama, Alina dapat mengambil manfaat dari pengetahuan dan wawasan yang telah dikembangkan oleh mamanya.


Pengalaman mamanya di sekolah musik dapat menjadi keuntungan bagi Alina dalam mengelola sekolah musik yayasan keluarga. Alina dapat belajar dari pengalaman mamanya dalam mengelola siswa dan staf, membuat kurikulum dan program, serta menjalin hubungan dengan orang tua siswa dan masyarakat.


Alina memiliki keuntungan untuk dapat belajar dan berkonsultasi dengan mamanya secara langsung, dan dapat memanfaatkan keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh mamanya untuk membuat sekolah musik yayasan keluarga menjadi lebih baik dan sukses.


Hal yang sama juga terjadi pada Marcel, saudara kembarnya Alina.


Marcel, kembaran Alina yang tidak jadi berangkat ke luar kota, akhirnya melakukan kegiatannya sehari-hari dengan kuliah dan beberapa kegiatan olahraga dengan mengelola sanggar olahraga yang dia rintis sendiri, terlepas dari peran orang tua dan nama besar keluarga. Dia juga masih beberapa kali datang ke psikiater untuk mendapatkan terapi.


Marcel memutuskan untuk tidak berangkat ke luar kota karena beberapa faktor, dengan memilih untuk tetap berada di kota Jakarta saja dan menjalani kegiatan sehari-harinya seperti biasanya.


Marcel juga memutuskan untuk tetap kuliah di kampus yang sama dan mengelola sebuah sanggar olahraga yang dia rintis sendiri, dengan tidak bergantung nama besar papanya, atau Nagato Group.


Pada dasarnya, Marcel mencari jalan hidup yang berbeda dari Alina. Dia tidak tertarik untuk mengambil peran dalam keluarga atau bergantung pada nama keluarga mereka. Marcel lebih memilih untuk mengejar minatnya dalam olahraga dan membangun karir di bidang tersebut secara mandiri.


Dengan mengelola sanggar olahraga sendiri, Marcel mengembangkan keterampilan manajerial dan kewirausahaan, serta belajar untuk menjadi pemimpin yang efektif dan berinovasi dalam menciptakan solusi untuk masalah yang dihadapi oleh sanggar olahraga. Marcel memiliki kemampuan untuk mandiri dan kreatif dalam mencari solusi atas tantangan yang dihadapinya.


Namun, situasi kesehatan mental Marcel mengindikasikan bahwa dia mungkin sedang mengalami stres dan tekanan dari tanggung jawab dan tuntutan dalam kehidupannya yang mandiri. Dalam hal ini, penting bagi Marcel untuk terus mencari bantuan dan dukungan profesional dari psikiater dan orang-orang terdekatnya untuk membantunya mengatasi masalah tersebut.


"Kenapa kamu tidak mau meminta bantuan papa, Cel?" tanya Shiro Yuki, yang baru mengetahui jika marcel membuka sanggar olahraga.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, pa. Marcel hanya ingin belajar mandiri saja, kok." Marcel memberikan alasan yang wajar.


Shiro Yuki menggangguk setuju, karena Marcel adalah tipe orang yang tidak manja sedari dulu. Berbeda dengan Alina, kembarannya yang memang menjadi anak cewek sendiri di antara dua anaknya yang laki-laki. Meskipun kembar, tapi mereka sepeda jenis kelamin dan tidak sama dalam karakternya juga.


Puk


Shiro Yuki menepuk pundak anaknya, dengan memberinya nasehat dan pesan agar anaknya itu melupakan dirinya.


"Tidak apa-apa. Papa mendukung keputusanmu. Tapi jika ada sesuatu yang bisa papa bantu, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan pada papa."


"Ya, pa. Terima kasih."


Setelah selesai berbicara dengan Marcel, Shiro Yuki kembali ke kamarnya. Meninggalkan Marcel yang masih ada di ruang perpustakaan keluarga, mengerjakan tugas kuliahnya.


Tapi tak lama setelah papanya pergi, Marcel membuka galeri yang tersimpan di laptopnya. Dia memandang lengkap foto-foto yang ada di layar laptop tersebut.


"Elly. Aku bisa membiarkanmu bersama dengan kakak, asal kamu bahagia. Tapi jika kamu merasa tersakiti, aku siap untuk menjadi tujuanmu."


Setelahnya, Marcel menonaktifkan laptop dan menutupnya. Dia pergi meninggalkan perpustakaan keluarga menuju ke kamarnya, dengan membawa laptop tersebut.


Marcel hanya ingin Elly bahagia dengan kakaknya, Reo, sama seperti postingan yang ditunjukkan oleh Reo di group wa keluarga mereka, sebab saat ini Reo memang mengajak Elly pergi bulan madu ke Australia. Memanfaatkan hadiah pernikahan dari Shiro Yuki, yang belum sempat mereka ambil kemarin-kemarin setelah pulang berkeliling dari Eropa.


***

__ADS_1


Nb: Perjalanan Reo, Amy dan Shiro Yuki selesai ya gaesss. Biarkan mereka menjalani kehidupan sesuai dengan garis takdir masing-masing.


Klik profil TK, dan sampai ketemu di Novel Baru TK ✋✋


__ADS_2