Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Aku Cemburu


__ADS_3

"Tuan muda, siang ini Anda ada meeting di restoran Nagato, yang ada di gedung sebelah."


Sekretaris memberitahu Reo, yang sedang fokus pada berkas-berkas yang ada di atas mejanya saat ini.


"Iya."


Reo menyahut pendek tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas berkas yang dia pelajari.


"Siapkan saja materi yang akan bi bahas nanti," pinta Reo, sebelum sekretaris tersebut pergi dari hadapannya.


"Sudah siap Tuan," jawab sekretaris dengan menganggukkan kepalanya.


Reo tidak menjawab atau mengatakan apa-apa lagi, sehingga sekretaris tersebut kembali ke tempat kerjanya.


Beberapa saat kemudian, Reo beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat untuk pergi menemui Kliennya, yang sudah ada janji bertemu untuk meeting sekalian makan siang di sebuah restoran. Ketika mereka duduk di kursi mereka yang sudah dipesan di awal, mereka mulai mendiskusikan masalah bisnis.


Reo, yang merasa cukup baik tentang dirinya sendiri dan kesuksesannya baru-baru ini, mau tidak mau memperhatikan sekelompok orang di meja sebelah. Salah satu orang menarik perhatiannya, "Elly."


Ternyata tak jauh dari tempat duduknya, privat room dengan kaca transparan, ada sekelompok orang yang sedang makan bersama-sama.


Ada lima orang cewek cowok, yang salah satunya adalah Elly. Tapi yang menarik perhatian Reo adalah seorang pemuda yang tampaknya sangat memperhatikan Elly, yang tempat duduknya berhadapan langsung dengan Elly.


Reo mau tidak mau merasakan sedikit kecemburuan, meskipun faktanya dia tidak memiliki hubungan nyata dengan Elly. Namun demikian, dia mendapati dirinya menatapnya, mencoba untuk menangkap matanya. Akhirnya, dia menarik napas dalam-dalam dan memutuskan untuk mendekatinya nanti, setelah dia selesai dengan urusannya.


Beberapa saat kemudian, "ehem..." Reo berdeham. "Permisi, Elly," sapa Reo setelah Elly mendongak ke arahnya.


"Maaf, Aku tidak bermaksud menyela, tapi Aku tidak bisa tidak memperhatikanmu di sini. Apakah Kamu keberatan jika Aku bergabung denganmu di sini?"


Elly yang mendongak, terkejut. Dia tidak menyangka ada Reo di sini. Tetapi dia langsung tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya mengiyakan.

__ADS_1


Reo adalah bintang yang sedang naik daun di dunia bisnis, dengan reputasinya yang tajam dan teguh. Tapi untuk orang-orang seusianya, tentu saja belum memahaminya dengan baik.


Akhirnya Elly mengangguk dan tersenyum, memberi isyarat agar Reo duduk di kursi yang masih kosong.


Saat Reo duduk di kursi di sebelahnya, Elly berusaha tetap tenang. Sedangkan Reo sendiri, mau tidak mau memperhatikan pemuda yang duduk di seberang Elly, yang sepertinya mengerutkan kening padanya.


Reo merasakan luapan amarah, tapi dia berusaha menyingkirkannya. Sebaliknya, dia mulai mengobrol dengan Elly, menanyakan tentang kuliahnya dan kesehariannya. Dia adalah pembicara yang cerdas dan menarik untuk para kliennya, jadi Elly juga mendapati dirinya menikmati pembicaraannya dengan Reo saat ini.


Saat makan berlangsung, Reo mendapati dirinya semakin asyik dengan percakapannya dengan Elly. Dia nyaris tidak memperhatikan orang lain di meja itu, termasuk pemuda yang memandanginya dengan curiga. Namun demikian, ketika mereka selesai makan dan bersiap untuk pergi, Reo tidak bisa menahan rasa cemburu lagi. Dia menyadari bahwa dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Elly, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara bertanya.


"Elly, maukah Kamu minum secangkir kopi denganku?" tanya Reo.


"Kakak ingin berbicara lebih banyak tentang kita," ujar Reo memberikan penjelasan.


Elly tersenyum, tampak senang. "Tentu, kedengarannya bagus," katanya. "Aku ingin mengobrol lebih banyak tentang itu."


Saat mereka melangkah keluar dari restoran, Reo merasakan gelombang kepercayaan diri. Dia merasa seperti telah menjalin hubungan nyata dengan Elly, dan dia tidak sabar untuk membicarakan hal ini.


Tetapi ketika mereka berjalan di jalan, dia merasakan sebuah tangan di pundaknya. Dia berbalik untuk melihat pria muda di restoran tadi, cemberut padanya.


"Apa yang Kamu inginkan dengan Elly?" dia bertanya dengan sorot mata yang tajam.


Reo merasakan gelombang kemarahan di dalam hatinya. Dia tidak suka dituduh atas sesuatu yang tidak dia lakukan. Tapi sebelum dia bisa menjawab, Elly angkat bicara.


"Hei, tidak apa-apa. Dia adalah Kak Reo." kata Elly, melangkah di antara mereka.


"Reo adalah kakaknya teman Aku, anaknya Om Shiro. Teman papaku juga. Jadi Aku sudah mengenalnya dengan baik." Elly memberikan penjelasan kepada pemuda, teman kuliahnya.


Pria muda itu tampak sedikit rileks dalam hal ini, tetapi dia masih terlihat skeptis. Reo bisa merasakan kecemburuannya naik lagi, tapi dia berusaha menekannya. Dia tahu bahwa dia tidak memiliki klaim nyata pada Elly, karena mereka berdua memang belum mengikrarkan diri sebagai sepasang kekasih atau calon istri.

__ADS_1


Akhirnya pemuda tersebut pergi, tapi dengan rahang yang mengeras menahan rasa marah.


Saat mereka terus menyusuri jalan, Reo dan Elly mengobrol dengan santai. Mereka berbicara tentang pekerjaan, keluarga mereka, dan minat mereka. Reo mendapati dirinya semakin menikmati kebersamaannya. Akhirnya mereka sampai di sebuah kafe, dan Reo memesankan mereka berdua kopi.


Reo merasa ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Elly, karena mereka baru saja bertemu setelah sekian lama. Reo merasa makin terpesona dengan kepribadian Elly dan merasa ada hubungan yang baik di antara mereka. Dan dia siap untuk menentukan pilihan yang memang sudah ada sejak lama.


Tapi rasa cemburu Reo saat melihat teman cowok Elly yang terlihat tertarik padanya, Reo akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya juga tentang cowok tadi.


"Yang tadi, emhhh... cowok tadi siapa?" tanyanya pada Elly.


Reo merasa bahwa teman cowok Elly itu mencuri perhatian Elly darinya, dan merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Dia merasa bahwa teman cowok itu bisa menjadi ancaman bagi hubungan mereka.


"Apa maksudmu, Kak Reo? dia temanku. Teman kuliah," jawab Elly polos.


"Aku tidak suka Kamu dekat-dekat dengan, cowok seperti tadi." Reo mengutarakan ketidaksukaannya.


Kening Elly berkerut heran, mendengar pernyataan Reo tentang teman kuliahnya. Padahal dia merasa itu adalah hal yang wajar.


Dia pergi makan bersama dengan teman-temannya bukan hanya dengan satu orang, dan itu juga tidak ada kejadian yang di luar batas. Mungkin saja temannya tadi merasa harus menjaganya, sehingga bertanya pada Reo secara langsung.


"Elly mengerti perasaanmu, Kak Reo. Tapi please... jangan membatasi pergaulan Elly di kampus." Elly berusaha memberikan penjelasan yang dapat diterima oleh Reo.


"Hhhh... tapi kakak tidak suka Kamu dekat-dekat dengan cowok El," terang Reo memberitahu perasannya.


Sekarang Elly mulai mengerti, apa yang terjadi pada Reo saat ini. 'Dia cemburu ya?' tebak Elly dengan sikap Reo ini.


"Aku cemburu El. Aku tidak bisa melihatnya." Reo kembali mengatakan apa yang dirasakannya. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan isi hatinya.


"Aku akan mengatakan pada papa sekarang, supaya segera mengadakan acara lamaran untuk kita." Reo tegas dengan keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2