
"Cresen, Kamu mau ke mana?"
Mendengar suara om nya yg bertanya, Cresen yang hampir mencapai pintu, karena bermaksud untuk keluar, akhirnya menoleh ke arah belakang.
Di sana ada Yuki Nagato yang menunggu untuk mendengarkan jawaban atas pertanyaannya yang dia ajukan pada Cresen.
"Mau jalan-jalan Om di sekitar kebun teh, mumpung sore ini cerah. Siapa tahu besok pagi sudah tidak bisa jalan-jalan karena malamnya turun hujan." Cresen memberikan jawaban dengan memberikan alasannya.
"Hemmm... begitu," gumam Yuki Nagato. Tapi tak lama kemudian dia menyambungnya dengan sebuah pertanyaan. "Apakah Kamu bisa naik Motor? pastinya bisa kan. Jadi... bagaimana jika Kamu bonceng Om untuk keliling-keliling?"
Cresen mengerutkan keningnya sambil garuk-garuk kepala bagian belakang.
"Aku gak bisa menyusul Amy dan kak Shiro ke kandang kuda jika di minta Om. Tapi jika menolak... Aku juga gak enak." Cresen berpikir cepat bagaimana sebaiknya.
"Om mau keliling ke mana?" tanya Cresen setelah diam sejenak.
"Ya ke mana saja! Kita keliling-keliling perkampungan sekitar villa," ujar Yuki Nagato, yang ingin menggagalkan rencana keponakannya itu untuk menyusul anak dan menantunya ke peternakan kuda.
Sebenarnya Yuki Nagato sudah tahu jika Cresen ingin menyusul mereka, sebab tanpa Cresen sadari, semua pergerakannya di villa dipantau oleh Yuki Nagato.
Meskipun Yuki Nagato tidak mengetahuinya sendiri pun, ada penjaga villa yang akan memberikan informasi padanya. Itulah sebabnya, sore ini dia beralasan untuk mengajak Cresen naik motor.
"Kita sewa motornya di mana?" tanya Cresen bingung. Dia tidak tahu, darimana mendapatkan sepeda motor yang diinginkan oleh Om nya ini.
"Kita punya motor kok, ada tuh di gudang belakang. Biasanya penjaga villa yang bawa, tapi tadi om sudah bilang, jika Om pengen naik motor. Jadi gak di bawa pulang. Dia di jemput anaknya sekitar jam 03.00 tadi."
Selesai memberikan penjelasan kepada keponakannya itu, Yuki Nagato menarik tangan Cresen supaya ikut bersama dengannya ke arah belakang. Yaitu ke gudang.
Ternyata di gudang ada sepeda motor jenis lama dengan tipe H0nd4 Tiger. Yaitu jenis sepeda motor bertipe sport yang beredar di wilayah Indonesia sekitar tahun 2000, serta merupakan sepeda motor dengan kapasitas mesin tertinggi.
Cresen cukup terpana melihat motor tersebut, karena meskipun motornya sudah cukup tua, tapi terawat dengan baik dan masih tampak seperti baru.
"Ini motornya Om?" tanya Cresen tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Yuki Nagato menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia berhasil mengalihkan perhatian keponakannya itu dari Amy. Dia tidak mau jika Cresen sampai mengacaukan kebersamaan keluarga kecil anaknya, yang sedang menikmati liburan.
"Ayolah Om, gas kita!"
__ADS_1
Cresen tampak bersemangat kemudian meminta kunci sepeda motornya.
Yuki Nagato tersenyum dan merogoh kantong celananya, memberikan kunci sepeda motor kepada Cresen.
"Ayok!" ajak Yuki Nagato, setelah Cresen menerima kunci motornya.
Brummm... brummm...
Cresen menghidupkan mesin sepeda motor dengan mencoba gas nya terlebih dahulu. Suaranya sedikit keras, sehingga memekakkan telinga.
Namun tak lama kemudian, dia meminta kepada Om nya untuk naik ke atas boncengan. "Ayok Om!"
Cresen tampak bersemangat untuk naik sepeda motor untuk berkeliling-keliling. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Jadi dia bisa merasakan sensasi yang berbeda dari liburannya kali ini.
Apalagi rute dan medan pedesaan atau perkampungan di area villa, tentu saja tidak sama seperti di kota.
"Kenapa Om gak ajak Tante saja? Om juga bisa naik motor kan, atau takut dengan Medan jalannya?" Cresen berpikir jika Om nya takut untuk naik motor.
"Om bisa naik, tapi Tantemu itu yang tidak mau. Dia menjerit-jerit, jika Om bonceng!" Yuki Nagato memberikan alasannya.
Jika sedang liburan ke villa, Yuki Nagato memang sering berkeliling kampung atau perkebunan teh bersama dengan Cresentia, istrinya. Tapi itu dengan berjalan kaki, atau dulu-dulu dengan naik kuda. Tidak pernah menggunakan sepeda motor ataupun mobil.
Mereka berdua merasa lebih sehat, jika bisa berjalan kaki saja. Jadi sepeda motor tersebut memang diperuntukkan bagi penjaga villa untuk kepentingannya menjaga villanya. Bukan untuk liburannya sendiri.
"Kita lewat mana Om?"
Cresen yang tidak tahu jalan perkampungan, harus banyak-banyak bertanya-tanya supaya tidak tersesat.
Yuki Nagato akhirnya menjadi petunjuk jalan demi rencananya sendiri.
Setibanya di jalan kampung, Yuki Nagato meminta keponakannya untuk berhenti sebentar. Dia ingin mampir ke sebuah warung yang ada di pinggir jalan.
"Cresen, Cresen. Berhenti dulu."
Ciiittt...
Dengan cepat Cresen mengerem sepeda motornya, sehingga ban dan jalanan yang bergesekan mengakibatkan suara yang mengiris pendengaran.
__ADS_1
Puk!
Yuki Nagato menepuk pundak Cresen, kemudian berkata, "pelan-pelan. Om sudah tua, jangan sampai kena serangan jantung karena ulah mu!"
Cresen hanya nyengir kuda, mendengar protes Om nya. Meskipun dia yakin, jika Yuki Nagato justru jauh lebih sehat dibandingkan dengan papanya di Jerman. Sebab papanya justru sudah mengalami beberapa gangguan kesehatan pada pencernaannya.
Mengingat kesehatan papanya, Cresen tampak murung. Dia ingin sekali melihat papanya sehat dan tidak bolak-balik masuk rumah sakit. Tapi papanya juga tidak bisa berbuat banyak, selain menjaga menu makanannya sendiri.
Mamanya Cresen, adik Cresentia, juga membantu dan pendukung suaminya dengan cara mengikuti pola makan makanan papanya. Itulah sebabnya, jika berada di rumahnya, tidak tidak ada makanan yang enak untuk orang-orang normal dan sehat seperti Cresen.
Dengan alasan itu juga, akhirnya Cresen lebih suka tinggal di luar rumahnya, dengan tinggal sendiri di apartemen. Seminggu sekali dia baru pulang berkunjung ke rumah untuk melihat keadaan kedua orang tuanya, atau jika di minta pulang.
Puk!
"Ehhhh..."
Cresen terkejut ketika pundaknya di tepuk Yuki Nagato, yang sudah kembali dari warung. Om nya itu membawa beberapa gorengan yang masih hangat, yang dibeli di warung tersebut.
"Kamu melamunkan apa?"
"Hhh... Cresen ingat Papa Om. Papa sudah masuk rumah sakit 5 kali tahun ini."
Yuki Nagato mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh keponakannya itu. Dia juga pernah datang ke Jerman, untuk menjenguk iparnya, papanya Cresen.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Yuki Nagato, sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
"Entahlah Om. Mungkin Cresen akan secepatnya kembali ke Jerman. Cresen tidak mau jika Papa terlalu lelah mengurus semua pekerjaan di kantor, pada saat tidak ada Cresen di sana."
Yuki Nagato kembali menggangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Cresen barusan. Dengan demikian, dia tidak perlu repot-repot mencari cara lagi untuk segera mengusirnya dari Jakarta.
Bukan karena tidak sayang atau tidak mau menerima Cresen, tapi Yuki Nagato lebih mengkhawatirkan keadaan keluarga anaknya, yang baru saja menjalin ikatan pernikahan bersama Amy.
Dan ternyata Cresen memiliki pemikiran lain setelah mengingat keadaan papanya di Jerman sana.
"Itu lebih baik Cresen. Bagaimanapun juga, Kamu harus menjaga papamu." Ujar Yuki Nagato menasehati Cresen.
"Tapi..." Cresen cepat mengeleng di saat ingat dengan niatannya yang tadi.
__ADS_1