Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Kelainan Cresen


__ADS_3

Liburan di villa memang mengasyikan, apalagi semua anggota keluarga juga ikut bersama dalam acara liburan ini.


Reo tampak sangat menikmati jagung bakar yang dipegang Amy, sebab dia kepanasan sendiri saat mencoba memegang jagung bakar tersebut.


"Yam... yam..."


Reo terus menguyah, terlihat sangat nikmat, sehingga membuat iri siapa saja yang melihatnya. Termasuk Shiro Yuki dan juga Cresen, adik sepupu papanya yang tadi ikut datang ke villa keluarga.


Mereka berdua sama-sama melihat ke arah Reo dan Amy, yang asyik sendiri dan menghidupkan keadaan di sekitar.


"Jangan melihat anak dan istriku seperti itu!" Shiro Yuki memperingatkan adik sepupunya, dengan suara rendah tapi penuh dengan tekanan.


"Huhfff... Aku tidak melihat mereka berdua kak Shiro. Aku melihat jagung bakar yang dipegang istrimu itu!"


Mata Shiro Yuki menyipit, di saat mendengar perkataan Cresen yang menurutnya aneh. Tapi beberapa detik kemudian, dia baru saja sadar, jika pikiran adiknya itu mesum.


"Jangan bilang jika Kamu sedang membayangkan sebagai jagung bakar tersebut?" todong Shiro Yuki dengan sorot mata yang tajam.


"Hahaha... pikiran kita sepertinya sama Kakak. Jadi tidak perlu menyalahkan Aku," ujar Cresen membela diri.


Plak!


"Aduh!"


"Kakak jangan suka main tangan!"


Cresen pura-pura kesakitan, pada saat Shiro Yuki memukul lengannya yang kekar. Dia hanya mencari perhatian Amy, supaya menoleh ke arahnya. Dan maksud dan tujuannya tersebut berhasil.


"Ada apa Tu... Boo?" tanya Amy, melihat suaminya sedang menatap tajam Cresen.


Reo sendiri melihat dengan tatapan penuh tanda tanya, karena mamanya yang menyebut "Boo" untuk sang papa, Shiro Yuki, dengan gugup. Sedangkan Cresen justru tersenyum-senyum sendiri, tanpa berasa kesakitan atau bersalah.


"Tidak usah pedulikan dia, ayo pergi!"


Amy dan Reo yang masih kebingungan dengan sikap Shiro, hanya menurut saja. Mereka berdua yakin jika Cresen akan baik-baik saja meskipun mereka tinggal.


"Hai, tunggu!"


Teriakan Cresen tidak di pedulikan Shiro Yuki, dengan tetap melangkah menggandeng tangan anak dan istrinya masuk ke dalam rumah.


"Ada apa? Bakar jagungnya sudah selesai?" tanya Cresentia yang baru mau keluar, tapi tertahan karena melihat mereka bertiga justru masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Keluar dari kamarnya, Yuki Nagato memutuskan kembali ke kamarnya. Harusnya dia meneruskan langkah ke taman untuk ikut acara bakar-bakar jagung bersama yang lain. Tapi dia sempat mendengar suara anaknya yang ketus saat berbicara dengan istrinya.


"Apa yang dilakukan oleh Cresen, sehingga Shiro Yuki marah?" tanya Yuki Nagato di dalam kamarnya sendiri.


Nanti dia pastikan akan bertanya pada istrinya, jika Cresentia kembali ke dalam kamar. Dia tidak mau jika anaknya yang baru saja menikah untuk kedua kalinya, harus mengalami kekecewaan sama seperti perkawinan pertamanya dulu.


Yuki Nagato cukup mengenal siapa Cresen, yang terkesan slengean dan tidak serius. Tapi jika sudah memiliki niat untuk membuat targetnya tunduk, dia bisa melakukan apa saja. Tidak peduli itu adalah saudaranya sendiri, dan Yuki Nagato tidak mau jika Cresen sampai mengganggu hubungan Shiro Yuki dengan Amy.


Tapi istrinya tidak juga masuk ke dalam kamar, sehingga dia tidak sabar dan menyusul ke taman yang ada di teras samping villa.


Malam memang belum larut, Cresentia tampak menarik paksa tangan Cresen supaya beranjak dari tempat duduknya.


"Apalagi itu ulah Cresen? Manjanya minta ampun! Apa dia lupa jika dia bukan lagi anak kecil?" batin Yuki Nagato dengan mengelengkan kepalanya, melihat bagaimana tingkah keponakan istrinya itu.


"Cresen haus Tante," rengek Cresen, yang justru membuat Cresentia memukul lengannya.


Plak!


"Jaga sikapmu yang kekanak-kanakan. Tante tidak mau Kamu diusir oleh Om atau Shiro!" gerutu Cresentia menasehati.


"Aku haus, Tante. Tadi Aku belum sempat makan jagung bakarnya, tapi kak Shiro justru ngambek-ngambek. Padahal Aku belum melakukan apa-apa," ujar Cresen memberikan alasan pada tantenya.


"Kamu jangan sampai bikin ulah. Ini di Indonesia, bukan Jerman! Jadi Tante harus memperingatkan Kamu. Mungkin Shiro terkesan over protective pada Reo maupun Amy. Tapi Tante yakin, jika dia memiliki alasan yang tepat untuk itu."


Itulah sebabnya, Shiro Yuki berhati-hati karena tidak mau jika istrinya mengalami hal yang sama seperti wanita-wanita korbannya Cresen. Apalagi secara fisik Cresen memang lebih beberapa persen dibanding dengan dirinya sendiri.


Cresentia berupaya menekan rasa malunya, sebab untuk ke sekian kalinya Cresen mengatakan haus. Dan dia tahu apa arti dari kata haus itu.


"Sudah kuduga, Shiro Yuki tidak akan tinggal diam jika Kamu terus bersikap seperti ini." Cresentia kembali menasehati Cresen.


"Ada apa sih Mi, kenapa bakar jagungnya tidak jadi? Dan kemana Reo bersama Shiro dan Amy?" Yuki Nagato tiba-tiba muncul, dengan mengajukan pertanyaan.


Meskipun sebenarnya Yuki Nagato sudah tahu sedikit permasalahan yang terjadi, dia hanya ingin membuat suasana tidak semakin memanas.


Cresen mengendikkan bahu, kemudian berlalu ke arah pintu masuk ke dalam villa. Dia ingin pergi ke dalam kamarnya.


"Ada rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Amy!" kata Cresen setelah berada di dalam kamarnya.


Faktanya, Cresentia tidak menyembunyikan apa-apa pada sang suami. Dia menceritakan kejadian yang terjadi pada saat acara bakar jagung, sehingga Shiro Yuki membawa Reo dan Amy pergi ke kamar terlebih dahulu.


"Mami merasa bersalah dengan kedatangan Cresen ke Jakarta Pi. Bagaimana jika dia nekad? Mami tidak mau jika Amy sampai tertarik dengan Cresen dan meninggalkan Shiro Pi," kesah Cresentia tidak tenang.

__ADS_1


"Aku akan bicara pada Shiro nanti, tapi Mami usahakan agar Cresen secepatnya kembali ke Jerman."


Yuki Nagato tidak mau mempertaruhkan ikatan pernikahan anaknya, hanya karena sungkan pada keponakan atau iparnya di Jerman. Dia akan melakukan apa saja untuk anaknya, Shiro Yuki.


"Ini gara-gara penyakit Cresen yang aneh-aneh! Dia terbiasa hidup bebas di sana." Cresentia menggerutu lagi, menyalahkan pergaulan yang dimiliki keponakannya.


*****


Semalaman Shiro Yuki tidak bisa tertidur dengan nyaman, karena memikirkan cara untuk menjauhkan istrinya dari Cresen. Tapi dia juga tidak mau mengusir sepupunya itu secara langsung.


"*Bagaimana caranya agar dia mau kembali pulang ke Jerman dengan sendirinya?"


"Jika ada Om dan Tante, mungkin bisa menasehati Cresen tanpa harus Aku banyak berpikir. Tapi ini mereka tidak ada*," kesah Shiro Yuki dalam hati.


Dia menghabiskan waktu hingga lewat tengah malam untuk berpikir, tapi apa saja tidak menemukan solusinya. Padahal dia telah melakukan segala cara agar matanya bisa terpejam.


Memikirkan Cresen dan Amy membuat insomnianya kambuh, dan pagi ini Shiro Yuki sendiri yang harus menuai akibatnya.


Usai menyiapkan diri, dia bergegas menuju ruang makan dan menemukan tempatnya telah diisi Cresen.


"Minggir!" hardik Shiro Yuki dengan menatap Cresen tajam


Tapi Cresen tidak menanggapi, bahkan tersenyum-senyum tanpa ada rasa bersalah.


Amy menggeleng demi melihat suaminya yang tampak tidak bersahabat dengan sepupunya. Sehingga Shiro Yuki menghela nafas panjang kemudian duduk di kursi lainnya.


Plok plok plok!


"Horeee..."


Tepuk tangan Reo menyadarkan Shiro Yuki, sebab ternyata dia duduk tepat disebelah Amy, membuat anaknya itu senang.


Mama barunya itu melebarkan senyum paling menawan, mengabaikan tatapan datar Shiro Yuki yang tengah mengibarkan bendera perang dengan Cresen. Tapi tentunya hal tersebut tidak diketahui oleh Amy, sebab Shiro Yuki belum memberitahu istrinya, tentang kelainan adik sepupunya, yang lebih tertarik dengan wanita bersuami dibandingkan dengan yang lajang atau masih bebas tanpa ikatan pernikahan.


"Kamu dalam masalah." Shiro Yuki berbisik ke pada Amy, mengirim getaran halus ke seluruh tubuh istrinya yang justru menggigit bibir.


Siku Shiro Yuki yang menyentuh siku Amy, membuat debar jantung yang tadi normal jadi menggila. Amy berdehem, menggeser posisi tangan, lalu susah payah mengembalikan konsentrasinya kepada Reo, yang tengah meminta makanan.


Amy mengutuk kegugupannya sendiri. Dia tidak suka mengetahui, bahwa keadaannya tidak bisa baik-baik saja, jika berdekatan dengan suaminya itu. Padahal dia masih dalam keadaan seperti ini, tidak bisa melakukan apa-apa, tapi tetap bereaksi dengan spontan untuk tubuhnya.


"Ambilkan Aku telur ceplok!"

__ADS_1


Kesadaran Amy akhirnya benar-benar kembali, saat mendengar suara suaminya yang meminta telur untuk lauknya pagi ini.


Semua interaksi antara Shiro Yuki dengan Amy, tidak ada yang luput dari perhatian Cresen. Dan pemuda itu tersenyum penuh arti, melihat kegugupan Amy saat berhadapan dengan kakak sepupunya.


__ADS_2