
Shiro Yuki akhirnya mengajak Marcel untuk pergi ke psikiater dulu guna berkonsultasi dengan apa yang dirasakan oleh anaknya itu. Dia tidak mau jika ada kelainan pada anaknya. Shiro Yuki percaya, jika apa yang dirasakan oleh Marcel yang mencintai calon kakak iparnya itu salah dan bisa dialihkan.
Saat Shiro Yuki mengajak Marcel untuk pergi ke psikiater, dia merasa khawatir dan sedih karena anaknya mengalami masalah psikologis yang tidak biasa. Shiro Yuki merasa bertanggung jawab untuk mencari bantuan profesional untuk anaknya, dan merasa sedih melihat anaknya mengalami kesulitan.
Namun, Shiro Yuki juga merasa lega, karena Marcel mengakuinya sedari awal. Hal ini membuat dirinya bisa mengambil tindakan cepat untuk membantu anaknya, dan memastikan bahwa dia mendapatkan perawatan yang tepat.
Dia berharap bahwa dengan bantuan psikiater, anaknya bisa menemukan solusi untuk masalahnya dan menjadi lebih baik. Shiro Yuki juga merasa sedikit takut, gugup dan tidak tenang tentang apa yang akan terjadi selama kunjungan ke psikiater, tetapi dia menganggap ini sebagai langkah yang penting untuk membantu anaknya.
"Marcel, hari ini kita akan pergi ke psikiater untuk membicarakan masalahmu." Shiro Yuki memberi tahu Marcel supaya bersiap-siap.
"Apa... apa yang akan terjadi di sana? maksudnya, apa yang akan ditanyakan?" Marcel ternyata sama gugupnya, dan takut jika salah menjawab.
"Kamu tenang saja. Psikiater akan membicarakan tentang apa yang kamu rasakan dan mencoba membantu menyelesaikan masalahmu. Kamu jawab dan bicara sesuai dengan apa yang ditanyakan saja," terang Shiro Yuki, memberikan gambaran tentang apa yang akan terjadi di tempat spikiater nanti.
"Tapi... A_pa ada orang yang menyalahkan Marcel, jika Marcel mengakui apa yang Marcel rasakan?"
Shiro Yuki menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia harus bisa bersikap sabar untuk menghadapi anaknya kali ini." Tidak ada yang salah denganmu, tapi terkadang kita butuh bantuan untuk menyelesaikan masalah kita yang sulit."
Akhirnya Shiro Yuki hanya memberikan pandangan tentang keadaan dan situasi yang berbeda pada masing-masing pribadi.
"Nanti... psikiater akan memberikan pertanyaan apa? dan apa yang harus aku katakan?" Tanya Marcel lagi dengan terbata-bata.
Puk puk puk
Shiro Yuki menepuk pundak anaknya itu, dengan memberikan semangat dan keyakinan pada Marcel.
"Dia akan mendengarkan apa yang kamu katakan dan mencoba membantu menemukan solusinya. Kamu bisa bertanya kepadanya, apa pun yang ingin kamu tanyakan." kembali Shiro Yuki memberikan penjelasan.
"Baiklah Pa, Marcel siap."
"Bagus. Itu sangat baik."
"Ingatlah Marcel, bahwa Papa ada di sini untukmu dan papa akan mencari cara untuk membantumu sebaik mungkin."
__ADS_1
Mendengar perkataan papanya, Marcel merasa terharu karena papanya adalah orang yang pengertian dan tidak menghakiminya yang ternyata memiliki perasaan yang salah.
*****
Setelah Shiro Yuki mengantar marcel ke spikiater, Reo mencari mamanya, karena keadaan rumah yang sepi. Tapi dia tidak menemukan siapapun, dan baru setelah dia sampai di belakang rumah, dia menemukan mamanya duduk termenung seorang diri.
"Mam, kok sepi. Pada ke mana?" tahu Reo, begitu berada di samping mamanya.
"Eh, Reo. Duduk sini!"
Reo menurut. Dia duduk di kursi yang ada di sebelah mamanya, yang tidak ada suguhan apa-apa. Hanya duduk-duduk sendirian saja.
"Papa sedang mengantar Marcel ke psikiater."
Reo mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada adiknya, dan kenapa harus ke psikiater.
"Memangnya apa yang terjadi dengan Marcel? Dia tampak sehat dan tidak kenapa-kenapa," tanya Reo, yang tentu saja tidak tahu apa-apa tentang adiknya.
"Oh, bukan. Ti_dak ada yang perlu dikhawatirkan, dia baik-baik saja." Amy merasa gugup setelah sadar bahwa dia memberikan jawaban yang tentunya membuat Reo curiga.
"Apa ada masalah di kampus, dengan teman-teman kuliahnya mungkin?"
Reo kembali bertanya tentang keadaan adiknya, Marcel. Sebab beberapa hari terakhir ini, dia memang sibuk sehingga sedikit merasa jauh dengan hubungan antar anggota keluarga di rumah.
"Ah, tidak udah khawatir. Itu hanya karena dia sedang menghadapi beberapa masalah kecil, tapi papa merasa khawatir, sehingga membawaku ke psikiater untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik."
Amy masih berusaha untuk menutupi keadaan psikologi anaknya. Dia tidak mau jika Reo sampai merasa terancam, dengan hubungannya bersama Elly.
"Tapi Ma, apa mama tidak bisa memberitahuku apa yang terjadi? Aku ingin membantunya jika aku bisa, Ma." Reo masih berusaha mendesak agar mamanya mau berbicara.
"Tidak, sayang. Kamu sebaiknya fokus sama persiapan pernikahan mu saja. Masalah Marcel, biar papa yang menanganinya sendiri. Tidak ada yang serius, jadi jangan khawatir."
Amy tersenyum, dan menepuk-nepuk lengan anaknya. Dia tidak mau membebani pikiran Reo, yang sedang mempersiapkan acara pernikahannya dengan Elly.
__ADS_1
"Baiklah, Ma. Tapi jika ada sesuatu yang terjadi, jangan sampai sungkan untuk memberitahuku. Aku pasti akan membantu, dan memastikan bahwa Marcel akan baik-baik saja."
Amy mengangguk mengiyakan permintaan Reo. "Tentu saja, Mama mengerti Reo. Papa pasti akan menjaga agar adikmu baik-baik saja. Atau kamu meragukan kemampuan papamu?" tanya Amy memancing.
Reo tampak tersenyum canggung. Tapi dia tetap merasa khawatir tentang keadaan adiknya, Marcel. Dan ingin mengetahui apa yang terjadi.
Sayangnya, Amy tetap tidak mau bicara dan mencoba untuk menutupi keadaan Marcel, agar Reo tidak merasa khawatir atau terganggu dengan kelainan adiknya. Apalagi ini menyangkut dengan Elly, gadis yang dicintai Marcel, dan merupakan calon istrinya Reo.
Meskipun kemungkinan besar Reo tidak sepenuhnya yakin dengan jawaban mamanya, jika mau berterus terang, tapi Amy tetap menyembunyikan rahasia ini. Dan untungnya Reo menghormati keputusan mamanya untuk menjaga kerahasiaan tentang keadaan Marcel, dan hanya berjanji untuk memberitahu jika ada satu yang memang memerlukan bantuannya.
"Baiklah, Ma. Reo masuk dulu."
Amy mengangguk dan membiarkan anaknya itu masuk dan pergi ke dalam kamarnya sendiri. Dia masih ingin duduk sendirian di teras belakang rumah. Meskipun pikirannya sedang tidak di tempatnya.
Rei sendiri langsung masuk ke dalam kamar, dan mencoba menghubungi tunangannya, Elly. Sudah sejak pagi, tunangannya itu memintanya untuk tidak mengganggunya dengan panggilan atau pesan, karena sedang mengerjakan tugas.
Tut tut tut
Tut tut tut
..."Hai, Kak!"...
..."Hai. apa tugasnya sudah selesai?"...
..."Iya, ini baru saja selesai. Elly sedang bersiap untuk pulang ke rumah, karena tidak ada kegiatan lain."...
..."Kamu bawa mobil sendiri?"...
..."Tidak. Tadi aku diantar supir, dan sopirnya aku minta untuk pulang. Tapi, ini sudah aku hubungi lagi untuk menjemput."...
..."Telpon supir untuk tidak usah menjemputmu, dan kirim lokasi tempat mu berada. Kakak akan menjemputmu sekarang."...
..."Eh, tapi..."...
__ADS_1
Klik
Tut tut tut...