
"Hahaha..."
"Kasian sekali Kamu Shiro..."
"Hahaha..."
Cresentia justru tertawa terbahak-bahak, menertawakan anaknya yang baru saja memberitahu kebenaran yang ada di rumah. Hal ini karena dia gagal melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukan dan diinginkan oleh maminya. Di tambah lagi dengan adanya Cresen yang datang secara tiba-tiba.
Plak plak plak
Cresentia menepuk-nepuk lengan anaknya, masih dengan tertawa-tawa dan menggelengkan kepala.
"Sabar ya, itu kan memang sudah alaminya seorang wanita normal. Hehehe... jadi mau bagaimana lagi?" Cresentia mengangkat kedua bahunya, memberikan nasehat pada sang anak.
Yuki Nagato yang baru saja keluar dari dalam, karena mendengar keributan di luar villa, cukup terkejut dengan kehadiran anak dan menantunya, ditambah lagi dengan keponakannya yang berasal dari Jerman.
"Lho..."
"Sudah Pi, jangan di tanya lagi. Hahaha..."
Belum juga papi Yuki Nagato bertanya, mami Cresentia mencegahnya untuk mengajukan pertanyaan. Mami Cresentia merasa kasihan juga pada nasib anaknya, yang di nilainya sedang apes untuk memanjakan diri dan menantunya di rumah.
Tapi karena papi Yuki adalah orang dewasa, tentu saja dia peka dengan gerak-gerik istri dan anaknya itu. Apalagi dengan adanya Cresen yang cengengesan saat melihat ke arah Amy dan Reo.
Namum ternyata papi Yuki Nagato salah paham, dan mengira jika kedatangan mereka karena adanya Cresen.
"Bocah tengil itu mengganggumu?" tanya papi Yuki Nagato, dengan menunjuk ke arah Cresen.
Shiro Yuki belum sempat menjawab pertanyaan tersebut, tapi Cresen sudah datang mendekat, menyapa Yuki Nagato dan mami Cresentia.
"Halo Tantenya Cresen, Om mya Cresen juga. wie geht es euch beiden?" tanya Cresen pada tante dan om nya.
"Maaf Cresen baru dateng dan tidak memberi kabar. Mama dan papa tidak bisa ikut datang ke Indonesia bersamaku."
Yuki Nagato dan Cresentia menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya barusan. Tapi mereka tidak tahu apa permasalahan yang sebenarnya dihadapi oleh anaknya sendiri.
"Sudah-sudah ayo kita masuk!"
"Reo... ayo ajak Mama Amy masuk Sayang!"
__ADS_1
Cresentia meminta pada semuanya agar masuk ke dalam villa. Dia juga meminta pada cucunya, supaya mengajak Amy masuk ke dalam. Itu karena Reo sedari tadi tidak mau melepaskan tangannya dari tangan mamanya.
Karena hari sudah siang, Cresentia meminta pada pembantu di villa untuk segera menyiapkan makan siang mereka semua. Apalagi Amy juga membawa aneka makanan siap saji dan Frozen food, yang tentu saja memudahkan dalam penyajian, sehingga tidak memerlukan waktu yang lama.
Lepas makan siang, Cresen dengan tantenya bersenda gurau di teras samping bersama dengan Reo dan Amy.
Shiro Yuki yang baru saja keluar dari kamarnya, di tepuk pundaknya oleh sang papi, yaitu Yuki Nagato.
Pluk!
"Papi! Bikin kaget saja," gerutu Shiro Yuki saat menoleh ke arah papinya.
"Hehehe... Kamu kenapa malah ikut menyusul ke sini? jika ada Cresen datang, Kamu bisa meminta supir untuk membawanya ke sini sendiri."
Yuki Nagato mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh istrinya, disaat anaknya baru saja datang tadi siang.
"Itu Pi... emhhh... ya selain memang terganggu adanya Cresen yang datang, Amy... Amy sedang..."
"Dia gak normal?" tanya Yuki Nagato cepat.
Wajah sang papi sudah tegang dan khawatir. Dia berpikir bahwa menantunya itu adalah seorang gadis yang tidak normal, sama seperti berita-berita yang sering berseliweran di sosial media, sehingga anaknya tidak bisa mendapatkan hak nya.
"Apa? Dia sudah tidak perawan begitu? atau tidak bisa melawannya?" Yuki Nagato kembali menebak-nebak, sebab anaknya tidak memberikan jawaban yang jelas, sehingga dirinya menjadi salah paham.
"Tamu Pi, Amy kedatangan tamu!"
Shiro Yuki ikut gemas dan gregetan, di saat memberikan penjelasan kepada papinya. Dia tidak bisa memberikan istilah yang tepat sehingga bingung harus memberikan informasi tentang keadaan istrinya.
"Tamu? Dia masih punya saudara atau kerabat begitu maksudnya?"
"Ihsss... datang bulan Pi!" jawab Shiro Yuki dengan menekan kalimatnya, tapi dengan suara yang pelan. Dia tidak mau jika ada orang lain yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka kali ini.
"Ehhh..."
"Hahaha...."
Yuki Nagato tertawa terbahak-bahak setelah berpikir beberapa detik, kemudian baru memahami situasi yang dialami oleh anaknya, yang sebenarnya sudah tidak perlu diragukan lagi dengan kemampuannya.
Tapi jika tetapi dalam situasi seperti itu, tentu saja semua laki-laki normal tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali jika laki-laki tersebut gila dan tidak tahu aturan. Dalam keadaan seperti apapun sang istri, pastinya tetap dihajar juga.
__ADS_1
"Hemmm... jadi sekarang Kamu harus bisa bertahan, dan menunggu minimal 5 hari. Hahaha... kasian sekali Kamu Shiro..."
Kali ini Yuki Nagato tidak segan-segan untuk mengolok-olok anaknya, sambil terus tertawa.
*****
Di kantor polisi.
Pengacara Lay Sanespere datang bersama dengan sang manajer, yang ternyata adalah kekasihnya Lay Sanespere selama berada di luar negeri.
Manager tersebut juga orang yang mempengaruhi Lay Sanespere di masa lalu, ingatkan meninggalkan anak dan suaminya demi karirnya di dunia modelling.
"Dear. I was really surprised when I found out about your condition. Bagaimana bisa Kamu memiliki rencana gila seperti itu?"
"Apa Kamu tidak memikirkan perasaanku? Bahkan Kamu pamit pulang ke Indonesia, hanya untuk kepentingan iklan saja. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?"
Ternyata kekasihnya Lay Sanespere tidak tahu dengan rencana sang artis, yang berusaha untuk mendapatkan suaminya lagi.
Itulah sebabnya, sang manager langsung datang ke Indonesia, setelah mengetahui kabar tentang Lay Sanespere. Artis sekaligus kekasihnya sendiri.
"Sorry. I didn't mean to betray our love. But I can't see Shiro being possessed by anyone else."
Ternyata perasaan Lay Sanespere sakit, saat melihat sang mantan suami mau menikah dan berbahagia. Ada rasa iri dan cemburu, karena tidak rela jika melihat mantan suaminya menikah lagi.
"So if it's like this, what do you want?"
"Jika udah seperti ini kamu mau apa? Masih mau melanjutkan rencana Kamu atau kembali ke luar negeri saja?"
"Aku bisa membebaskan Kamu dari sini dengan mudah, tapi Kamu harus nurut sama Aku. Apa Kamu setuju?"
Sang manager memberikan usulan kepada Lay Sanespere, tentang kemudahan-kemudahan yang akan dia dapatkan, jika masih mau menurut dengannya.
Lay Sanespere yang sebelumnya berpikir untuk menyerah, kini merasa jika di mendapatkan angin segar lagi.
"Apa itu bisa dijamin?" tanya Lay Sanespere meyakinkan dirinya.
"Hai Kamu lupa Sayang, siapa Aku?" sahut sang manager cepat, dengan membanggakan dirinya.
"Baiklah. Aku akan menuruti skenario yang Kamu miliki."
__ADS_1
Akhirnya Lay Sanespere mengangguk setuju, dengan apa yang telah menjadi rencana kekasihnya itu. Dia percaya bahwa sang manager mempunyai banyak pengaruh, bukan hanya di dunia fashion dan entertainment.