
Elly benar-benar merasa lelah karena baru pulang sekolah. Hari ini dia benar-benar sibuk, karena ada banyak tugas yang harus dia kerjakan. Termasuk presentasi di depan kelas, dengan teman-temannya yang memberikan pertanyaan.
Banyak teman sekelas, terutama yang laki-laki yang menyulitkan dirinya. Bertanya berbelit-belit utuk mempermalukan dirinya. Bukan rahasia umum lagi. Kalau dia banyak yang menyukai, terutama yang laki-laki. Tapi cara mereka mencari perhatian itu, yang kadang-kadang membuat Elly merasa kesal.
Tapi ada beberapa teman ceweknya yang merasa iri dengan apa yang dia miliki itu, yaitu perhatian teman-teman cowoknya.
"Rasanya Aku pingin nonjoki mereka satu persatu tuh cowok atau cewek yang bikin Aku neg," kata Elly dengan merebahkan kepalanya di atas bantal.
Dia masih merasa kesal karena persentasi di buat sulit oleh teman-temannya sendiri. Untung saja dia punya persiapan yang matang, sehingga tidak ada alasan untuk membuatnya malu.
"Kalau sedang seperti ini kayaknya enak nih punya pacar," keluh Elly, membayangkan sesuatu yang tidak mungkin.
*****
Reo dengan lembut mengelus kepala Elly, dia juga menyisir rambut Elly dengan hati-hati, gunakan jari-jari tangannya. Reo juga menggenggam tangan sebelah kiri Elly, kemudian menciumi punggung tangan Elly berulang kali.
Elly sekarang tidak ragu lagi bermanja-manja dengan Reo, karena sudah resmi menjadi kekasih dari kakaknya Alina. Reo juga sadar, kalau Elly menjadi lebih manja dengannya, dari yang sebelumnya.
Dalam hati Elly merasa sangat senang, namun juga sedikit takut. Dia akan kehilangan momen-momen ini, jika terbangun nanti.
"What? ini hanya mimpi?" tanya Elly tersadar.
Tapi dia tidak peduli, kemudian melanjutkan mimpinya itu, dengan bermanja-manja dan berbincang-bincang dengan Reo.
"Kak, Elly mau sama Kakak. Tapi Elly masih sekolah, apakah kak mau menunggu Aku lulus? apa Kakak tidak akan mencari cewek lain?" tanya Elly yang merasa khawatir.
"Tenang saja, Kakak pasti bakalan selalu menunggumu. Jadi Kamu tidak usah merasa khawatir ya," kata Reo menenangkan.
"Kita akan menua bersama. Jadi gak apa-apa, Aku akan senang saat menunggumu," kata Reo sambil memeluk pinggang ramping Elly.
"Kalau Kamu hidup mikir sekolah dan sekolah, tidak akan ada habisnya. Apalagi jika menuruti keinginan orang tua." Reo menambahi perkataannya.
"Ya sudah, kalau begitu kita buat nikah saja sekarang Kak," usul Elly dengan bersemangat.
__ADS_1
"Heh, otaknya jangan nikah terus. Ingat, umur Kamu masih kecil. Belum saatnya untuk menikah, ada pengaturan dan perundang-undangan yang mengatur umur seseorang yang sudah siap untuk melakukan pernikahan." Reo memberikan penjelasan pada Elly, yang mengajaknya segera menikah.
Wajah Elly tampak masam mendengar penjelasan yang diberikan oleh Reo barusan. Dia sudah bersemangat, tapi pada kenyataannya Reo justru menolaknya.
"Habisnya kakak sih," sungut Elly dengan wajah cemberut.
"Dasar otaknya, jangan mesum terus!" Reo mencubit hidung Elly dengan gemas.
"Ihsss... sakit tahu!" Elly meringis pura-pura kesakitan, membuat adegan tersebut lebih dramatis.
"Hahaha... gak apa-apa, entar dicium biar gak sakit lagi," sahut Reo, kemudian memajukan wajahnya lebih dekat ke arah wajahnya Elly.
Cup
Elly membelalakkan matanya, karena ternyata rio benar-benar mengecup pucuk hidungnya. membuat Elly jadi mematung, merasakan sensasi yang berbeda. Dia juga bengong karena melihat senyum manis Reo, yang jarang terlihat.
Jantung Elly perlahan tapi pasti, mulai menambahkan degup jantungnya sehingga lebih cepat berpacu. Lebih cepat dan lebih cepat lagi, sehingga wajahnya mulai memerah karena tersipu malu-malu.
"Kakak suka banget lihat ekspresi wajahmu sekarang. Seakan-akan Kamu lagi jatuh cinta pada Kakak lagi dan lagi. Rasanya seperti... benar-benar menyenangkan," kata Reo dengan lembut, lalu mengecup bibir Elly lagi.
"Gak pernah terbayangkan, bayi mungil yang selalu Aku goda dulu, kini berada dalam pelukanku, menemani waktuku untuk hari tua nanti. Kamu mau kan El?"
Reo dan Elly sama-sama berdebar kencang sekarang, namun tidak ada diantara satu dari mereka yang berani mengatakan jika cinta sudah benar-benar mengikat mereka.
Mereka sama-sama saling meyakinkan diri, untuk mengatakan perasaan masing-masing. Takut ditolak adalah alasan yang paling utama, karena kebersamaan mereka ini karena hasil perjodohan.
Mereka sama-sama tidak ingin kehilangan momen ini, kalau mereka mengatakan perasaannya. Mereka takut salah satu diantara mereka tidak merasakan hal yang sama, sehingga hubungan mereka menjadi rusak dan canggung. Membuat moment romantis ini akan menghilang.
Padahal mereka sama-sama sudah jatuh cinta sekarang. Tapi, mereka memilih menyembunyikan rasa cintanya. Memilih jalan aman untuk hubungan mereka saat ini, dengan mengakui bahwa kebersamaan ini karena perjodohan saja.
Ini mereka lakukan karena keinginan masing-masing orang tua, yang ingin membuat mereka saling kenal lebih dekat, sehingga diberikan waktu untuk lebih intens bertemu. Mengenal lebih jauh sebelum melanjutkan perjodohan mereka berdua.
Tok tok tok
__ADS_1
Tok tok tok
"Non, Non Elly!"
Ketukan pintu kamar Elly, dengan panggilan suara bibi, membuat Elly sadar dari mimpinya.
"Hoammm... hahhh," keluh Elly sambil menguap karena masih merasa ngantuk.
"Aku... ternyata Aku tertidur?" tanya Elly pada dirinya sendiri, menyadari keadaannya yang sekarang.
"Huhfff... Aku pikir beneran," kesah Elly menyayangkan apa yang dia rasakan tadi.
Ternyata semua kejadian yang seakan-akan nyata, hanyalah mimpinya sore ini. Dia baru saja pulang sekolah dan merasa sangat lelah, sehingga langsung tertidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Bahkan baju seragamnya juga belum diganti.
Tok tok tok
"Non bangun, hari mulai malam!" Suara bibi kembali terdengar, sambil mengetuk-mengetuk pintu kamarnya.
"Iya, ini udah bangun!"
Elly juga berteriak dari dalam kamar, kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Dia ingin segera mandi supaya cepat sadar, bahwa mimpinya tadi hanyalah sebuah mimpi saja.
"Huhfff... mana mungkin Kak Reo mau dengan Aku. Dia saja sebenarnya sudah punya seseorang yang spesial," keluh Elly lagi, disaat menyadari posisinya.
Secara tidak sengaja, Elly pernah melihat foto Reo bersama dengan seorang gadis di depan kampusnya di Amerika sana, dari akun sosial media miliknya Reo. Tapi entah alasan apa, dua hari kemudian foto itu tidak lagi terlihat.
Elly sudah berusaha mencari sosok gadis tersebut di antara pertemanan Reo, tapi dia tidak menemukan satu pun teman gadis Reo di mana wajah gadis yang pernah dilihatnya.
Dengan demikian, Elly semakin yakin bahwa Reo sebenarnya sudah memiliki kekasih. Tapi kemungkinan untuk saat ini tidak dipublikasikan, atau merasa belum saatnya untuk diperkenalkan pada keluarganya. Karena itulah, Elly tidak terlalu senang pada saat mendengar rencana perjodohannya dengan kakaknya Alina dan Marcel.
Meskipun begitu, hari Elly tetap berharap agar Reo mempertimbangkan dan menerima rencana kedua orang tua mereka.
"Aku harap Kak Reo mau, dan bisa menjalani perjodohan denganku dari hatinya."
__ADS_1