
"Tuan Shiro, turunkan Saya Tuan!"
Amy meronta-ronta, dalam keadaan tubuhnya yang dibopong Shiro Yuki memasuki ruangan IGD. Di mana tadi Reo juga mendapatkan perawatan medis di dalam sana.
"Diam!"
Mendengar bentakan Shiro Yuki, yang disertai dengan aura dingin dan kesal, membuat Amy langsung terdiam. Menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
Dia baru sadar, jika saat ini sedang berada di rumah sakit, tepatnya ada di ruangan IGD, sebab dia sedang menunggu anak asuhnya yang tadi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah jatuh dari pohon jambu.
Tapi dia heran, kenapa papanya Reo justru membopong tubuhnya, padahal dia tidak dalam keadaan sakit.
Namun Amy tidak berani protes lagi, mengingat keberadaannya saat ini ada di IGD. Di tambah lagi dengan raut wajah Shiro Yuki yang tidak bersahabat, membuat Amy memilih untuk diam menurut.
"Nah, diam jauh lebih baik."
Gumamam Shiro Yuki tentu saja terdengar dengan jelas di telinga Amy, yang sedang dalam posisi di depan dadanya Shiro Yuki sendiri. Bahkan telinga Amy bisa mendengar detak jantung papanya Reo ini.
Sadar jika dia sedang berada di dalam gendongan Shiro Yuki, membuat muka Amy memerah karena malu.
Tadinya dia mau marah, karena merasa diperlakukan seenaknya saja, tapi kini dia merasa malu sendiri, karena ternyata dia merasakan rasa nyaman dengan berada di dekapan Shiro Yuki. Padahal sebenarnya sebenarnya dilakukannya dengan kasar.
Brukkk!
"Awww!"
Pantat Amy mendarat dengan keras, di brangkar pasien IGD, karena Shiro Yuki melepaskan tangannya, yang tadi membopong tubuh pengasuh anaknya itu.
"Tuan Shiro..."
"Cepat obati kakinya!"
Amy tidak melanjutkan kalimatnya, karena mendengar perintah Shiro Yuki pada perawat yang mendekat dengan menunjuk ke arah kakinya. Dan ini membuatnya terbelalak kaget, saat melihat keadaan telapak kakinya yang berlumuran darah.
"Huwaaaa... kakiku kenapa? Tidak mau di amputasi kan? Tuan Shiro, Saya..."
"Diam atau kakimu akan di potong!"
Amy kembali menutup mulutnya dengan kedua tangan secepatnya, begitu mendengar suara Shiro Yuki yang memberinya ancaman.
Melihat tingkah laku Amy, Shiro Yuki tersenyum tipis. Tapi dengan segera menoleh ke arah lain, mengembalikan raut wajahnya seperti biasanya, supaya senyumnya tidak terlihat oleh Amy.
__ADS_1
Ternyata telapak kaki Amy terkena pecahan gelas jus Cresentia, yang tadi pecah di bawah pohon jambu. Dan di saat Amy membopong tubuh Reo yang jatuh dari atas pohon, dia tidak sadar jika kakinya juga terluka, bahkan hingga tiba di rumah sakit.
Amy meringis menahan rasa sakit hingga beberapa saat lamanya, saat perawat melakukan pertolongan dan perawatan pada kakinya yang terluka.
Setelah telapak kakinya selesai di balut dengan perban, Amy mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan papanya Reo. Dia ingin mengucapkan terima kasih, karena memperhatikan keadaan kakinya.
Tapi dia tidak bisa menemukan keberadaan Shiro Yuki. "Kemana Tuan Shiro yang kasar itu?" tanya Amy dengan bergumam.
"Sus. Tadi itu... emhhh... Tuan yang bawa Saya ke sini ke mana?" tanya Amy bingung, pada perawat yang sedang membereskan peralatan medis.
"Oh, Tuan tadi? Ada kok, tapi dia sedang pergi ke bagian administrasi. Apakah Anda istrinya?" Mendengar jawaban yang diberikan oleh perawat tersebut, membuat Amy lega.
Tapi dia juga bingung dengan pertanyaan yang tadi diajukan perawat tersebut. Sebab dia sebenernya bukanlah istri dari Shiro Yuki, melainkan hanya sebagai pengasuh dari anaknya saja.
"Bukan, bukan sus! Saya..."
"Mama! Mama Amy!"
Amy tidak melanjutkan kalimatnya, untuk memberikan penjelasan kepada perawatan tersebut, karena Reo yang ternyata sudah sadar dan memanggil dirinya.
"Anaknya saja memanggil Mama, tapi dia tidak mengakui statusnya sebagai seorang istri. Dasar wanita sekarang ini aneh-aneh!"
"Huhfff..."
Tapi Amy hanya diam saja tanpa mau memaksakan keinginannya untuk memberikan penjelasan pada perawat, yang salah paham dengan jawabannya tadi.
*****
Beberapa hari kemudian, di rumah besar keluarga Nagato.
Reo sudah bisa bermain seperti biasanya, dengan pengawasan Amy, meskipun keadaan telapak kaki Amy belum pulih benar.
Tapi karena ini memang sudah tugas dan pekerjaan yang harus dikerjakan, dia tetap melakukannya dengan baik. Meskipun harus dengan cara duduk.
Untungnya Reo seperti mengerti keadaan Amy, yang tidak bisa melakukan aktivitas dengan pergerakan bebas seperti biasanya, sehingga Reo hanya bermain dengan mainannya yang ada di kamar.
"Mama. Mama kaki masih sakit?" tanya Reo, saat Amy mengambilkan mainannya dengan langkah kaki pincang.
"Tidak kok, Mama sudah sembuh. Ini sudah tidak sakit lagi," jawab Amy berbohong.
Tapi sepertinya Reo mengetahui bagaimana keadaan mama asuhnya, yang sedang menahan sakit pada bagian telapak kakinya.
__ADS_1
"Mama, maaf." Reo tiba-tiba memeluk Amy, saat Amy meletakkan mainan yang dibutuhkannya.
Amy tersenyum, mendapati perlakuan yang manis dari anak asuhnya. Membuatnya tidak pernah bisa marah, karena perilaku dan tingkah Reo yang menggemaskan.
"Tidak apa-apa Tuan Muda. Mama merasa senang jika Tuan muda sehat dan tidak rewel." Amy membalas pelukan Reo, dengan mengungkapkan perasaannya.
Dalam keadaan seperti ini, Amy teringat dengan ibu dan adiknya yang mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, saat adiknya juga berumur sekitar 3 atau 4 tahun waktu itu.
Itulah sebabnya, Amy terpaksa tinggal sendiri. Berjuang sendiri untuk bisa tetap bertahan hidup di kota besar Jakarta.
Reo tiba-tiba mengusap air mata Amy yang menetes tanpa dia sadari.
"Mama menangis?" tanya Reo polos, karena saat ini Amy memang sedang menangis. Meskipun kini dia berusaha untuk bisa tersenyum, supaya Reo tidak bertanya lagi.
"Tidak Tuan Muda. Mama tidak menangis, tapi merasa bahagia, karena Tuan Muda tidak kenapa-kenapa pada saat jatuh kemarin."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Amy, Reo justru kembali memeluk pengasuhnya itu sambil meminta maaf. "Maaf Ma. Reo nakal ya Ma? Reo gak akan nakal lagi, gak akan buat Mama kena pecahan gelas lagi. Huhuhu..."
"Ehhh... cup cup cup!"
Amy berusaha untuk menenangkan anak asuhnya, yang sedang salah paham dengan jawabannya yang tadi.
"Mama. Mama Amy itu kan mamanya Reo, jadi... panggil Reo atau Sayang saja."
Sekarang Amy terbelalak kaget, mendengar permintaan anak asuhnya, yang memintanya untuk tidak memanggil dengan sebutan Tuan Muda.
"Tapi... Mama ini pengasuhnya Tuan Muda?" Amy berusaha untuk memberikan penjelasan pada Reo.
"Gak mau! Pokoknya harus panggil Reo saja. Atau Sayang!" Reo memaksa Amy untuk menyetujui permintaannya, dengan sebutan yang dia inginkan. Membuat Amy merasa tidak nyaman dengan permintaan tersebut.
"Emhhh..."
"Pokoknya harus! Reo ngambek sama Mama!"
*****
Di kamar sebelah, Shiro Yuki juga tampak terkejut dengan permintaan anaknya.
Dia memang sedang memantau kegiatan anaknya, yang dalam pengawasan pengasuhnya, yaitu Amy.
"Apa istimewanya dia?"
__ADS_1