
Alina yang telah menghabiskan beberapa hari di rumah Elly, warna merasa tidak enak hati. Dia bahkan sudah berpikir untuk pergi dari rumah keluarga Elly, tapi Elly mencegahnya.
"Jangan pernah berpikir jika Kamu merepotkan kami Alina. Kami justru lebih merasa repot, jika Kamu pergi dari rumah ini dan tidak tahu mau pergi ke mana."
Elly memberikan alasan supaya Alina tidak jadi meninggalkan rumahnya. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada temannya itu, yang akan membuat keluarga Nagato lebih kerepotan dengan kecemasan mereka atas keselamatan anak gadis mereka.
Sebenarnya hal ini berawal dari ketidakpuasan Alina, yang tidak bisa lagi menanggung sikap ayahnya yang melawan minat dan bakatnya dalam bermusik. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.
Tapi Ryan dan Mira, orang tuanya Elly, sudah membicarakan hal ini dengan Shiro Yuki, papanya Alina.
Hari ini Amy, mamanya Alina datang menjenguknya di rumah Elly. Alina merasa terharu dengan kata-kata dan bujukannya untuk kembali ke rumah. Mamanya juga memberitahu bahwa papanya sudah menyadari kesalahannya dan menyetujui keinginan Alina untuk mendalami musik.
"Pulang ya Sayang. Kami semua sangat merindukanmu." Amy mulai membujuk anak gadisnya.
"Kamu tahu Sayang, papa selalu merenung sebelum tertidur. Dia pasti merasa sedih dan menyesali sikapnya yang kemarin," lanjut Amy memberitahu Alina.
Mereka berdua saling berpelukan, bercerita dari hati ke hati. Meluapkan perasaan yang selama ini mereka simpan sendiri.
Setelah berpikir panjang, Alina memutuskan untuk pulang ke rumah dan memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk mengejar impian musiknya. Karena papanya sudah tidak lagi melarangnya.
Namun, Alina merasa khawatir dengan reaksi keluarganya, terutama papanya. Dia masih merasakan betapa marah papanya saat itu, di mana dia menceritakan tentang keinginannya untuk menjadi seorang musisi. Dia takut hal tersebut masih menjadi permasalahan di antara mereka dan dapat mempengaruhi hubungan keluarga mereka di masa depan.
Tapi, Alina merasa harus mencoba dan memberikan kesempatan pada dirinya untuk mengejar mimpinya, sehingga dia akan memiliki kesempatan untuk meraih apa yang diinginkannya selama ini.
"Iya Ma. Hiks hiks hiks..."
"Alina juga kangen sama Papa. Huhuhu..."
Alina kembali memeluk mamanya sambil menangis, merasakan rasa bersalah juga karena kabur dari rumah.
Setelah di rasa cukup, akhirnya mereka berpamitan pada keluarga Elly. Mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena sudah memberikan tempat tinggal untuk Alina selama ini.
Setelah kembali ke rumah, Alina merasa lega. Dia akan meminta maaf pada papanya, setelah papanya pulang dari kantor nanti sore.
"Apa papa akan marah, karena Alina bersikap kekanak-kanakan dengan kabur dari rumah?" tanya Alina khawatir.
"Tidak Sayang. Papa justru merasa bersalah dan menyesal karena telah melarang, padahal mendalami musik tidak harus terjun ke dunia entertainment."
__ADS_1
"Papa hanya khawatir jika Kamu terperosok jatuh ke dunia entertainment, dan merusak masa depanmu sendiri jika tidak berhati-hati."
Akhirnya Amy menceritakan sedikit kisah tentang kekhawatiran suaminya, iyang trauma dengan dunia keartisan. Tapi dia tidak menceritakan tentang Lay, yang sebenarnya adalah mama kandung Reo, kakaknya Alina.
Alina hanya menggangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh mamanya kali ini. Doa akhirnya mengerti dan memahami kekhawatiran papanya.
"Alina akan berhati-hati, dan mendalami musik sebagai hobby saja Ma. Alina juga akan masuk kuliah seperti yang disarankan papa," ujar Alina pengertian.
Amy mengangguk senang mendengar keputusan yang dibuat oleh anaknya. Dia merasa bersyukur karena masalah keluarganya bisa diselesaikan, tanpa harus berlanjut lebih lama.
"Alina, Mama tahu Kamu sedang kesulitan karena masalah dengan papa. Tapi, Kamu harus ingat bahwa keluarga adalah segalanya. Papa sebenarnya sangat menyayangimu."
Alina menggangguk setuju, kemudian kembali memeluk mamanya dengan rasa haru dan bahagia serta bangga menjadi bagian dari keluarga ini.
Marcel tiba-tiba datang dan ikut memeluk saudara kembarnya, Alina, dengan mamanya, sehingga sekarang mereka bertiga saling berpelukan.
Ternyata dari ruang tamu, Shiro Yuki masuk dan merentangkan kedua tangannya. Dia juga ingin dipeluk oleh mereka bertiga, sebagai tanda sayang yang kemarin-kemarin sempat membuatnya gelisah.
"Sayangnya Papa..."
"Papa..."
Alina dan Marcel bersamaan memanggil papanya, saat memeluk papanya dengan rasa haru. Sedangkan Amy berjalan dengan pelan-pelan, memberikan kesempatan kepada kedua anaknya untuk memeluk suaminya terlebih dahulu.
Ternyata dibelakang Shiro Yuki, ada Reo yang juga datang. Dia memang mulai ikut papanya ke kantor, belajar untuk memimpin perusahaan dengan diawasi Shiro Yuki langsung.
Karena kedua anak kembarnya memeluk suaminya, Amy tersenyum dan merentangkan tangannya, meminta supaya Reo yang datang memeluknya.
Kini Amy memeluk Reo, sedangkan Shiro Yuki memeluk kedua anak kembar mereka.
Mereka semua merasakan kebahagiaan lagi, karena sudah berkumpul seperti kemarin-kemarin, sebelum terjadinya ketegangan karena ada beda pendapat dan cara pandang.
*****
Setelah Alina memutuskan untuk kembali pulang dan berdamai dengan keluarganya, Elly dan Reo merasa lega.
Sekarang Reo ada janji temu dengan Elly, untuk membahas hubungan mereka.
__ADS_1
"Kakak ingin mengucapkan terima kasih padamu El, karena sudah menjaga Alina selama berada di rumahmu."
Elly hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan terima kasih dari Reo.
"Oh ya, Kakak juga mau membahas tentang masalah kita." Reo akhirnya mengutarakan maksudnya, dengan ajakannya untuk bertemu kali ini.
"Iya Kak. Elly siap kok mendengar apapun keputusan yang menurut Kakak baik."
Elly menanggapi perkataan Reo dengan tenang, membuat Reo sendiri justru sedikit gugup karena hal ini menyangkut hubungan mereka berdua.
"Ehem..."
"Begini El, sebenarnya... Kakak tidak mempermasalahkan tentang rencana perjodohan kita ini mau berlanjut atau tidak. Kakak akan menyerahkannya pada waktu saja." Reo mulai membahas topik utama yang harus mereka bahas kali ini.
"Tidak apa-apa," ucap Elly tetap tenang.
Sepertinya Elly sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Reo kali ini. Dia sudah siap dengan segala sesuatu yang akan diputuskan oleh Reo.
"Jangan khawatir Kak, Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Kita semua saling mendukung satu sama lain sejak lama kan?"
"Benar sekali El. Sekarang, ayo kita bicara hal lain. Bagaimana dengan sekolahmu, Elly?" akhirnya Reo mulai memahami jalan pikirannya Elly.
"Oh ya, Aku baru saja diterima di universitas impianku. Aku sangat senang!" Elly memberikan kabar baik.
"Wow, selamat ya! Aku yakin Kamu akan menjadi mahasiswa yang hebat." Reo memberikan ucapan selamat pada Elly.
"Terima kasih, Kak. Aku akan berusaha semaksimal mungkin."
"Dan bagaimana denganmu, Kak? Apa kabar dengan perusahaan Om Shiro?" tanya Elly, mengenai kegiatan dan pekerjaan Reo di kantor Nagato Group.
"Perusahaan kami sedang dalam masa transisi kepemimpinan. Ayahku mulai mempersiapkan Aku untuk mengambil alih perusahaan keluarga."
Reo akhirnya menceritakan tentang rutinitas sehari-harinya di kantor. Bagaimana dia yang harus belajar banyak dari papanya, mengenai permasalahan demi permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan.
"Wow, itu pasti tanggung jawab yang besar. Aku yakin Kakak bisa melakukannya dengan baik," sahut Elly memberikan semangat.
Setelahnya, mereka melanjutkan obrolan santai sambil menikmati makan malam. Mereka berdua masing-masing tahu bagaimana perasaan yang ada di hati, karena seiring waktu mereka akan memahaminya.
__ADS_1