
Ketika seseorang mencapai masa remaja, mereka mulai mencari identitas diri dan tujuan hidupnya. Hal ini juga terjadi pada si kembar Marcel dan Alina. Namun, keduanya memilih jalur yang berbeda dalam hidupnya, yang pada akhirnya membuat mereka harus berpisah dan mengikuti aturan pilihan masing-masing.
Meskipun masih memiliki cinta dan kasih sayang satu sama lain, tetapi hal tersebut tidak dapat membuat mereka sering bersama-sama lagi. Sama seperti saat mereka masih ada di bangku sekolah SMA.
Marcel dan Alina adalah sepasang kembar yang sangat dekat. Mereka selalu bersama-sama sejak kecil dan selalu mendukung satu sama lain dalam hal apa pun. Namun, ketika mereka mencapai usia remaja, mereka mulai menyadari bahwa mereka memiliki kecenderungan dan tujuan hidup yang berbeda.
Marcel menyadari bahwa ia memiliki minat yang kuat pada bidang teknologi informasi dan ingin mempelajari lebih dalam tentang hal tersebut. Sementara itu, Alina memiliki bakat dan minat di bidang musik, khususnya piano. Keduanya memutuskan untuk mengikuti jalur yang mereka pilih masing-masing.
Namun, hal tersebut membuat mereka harus berpisah dalam keseharian, di saat menjalani kehidupan mereka sendiri. Marcel memilih untuk belajar di perguruan tinggi pada umumnya, sedangkan Alina lebih memilih untuk fokus pada pengembangan bakat pianonya.
Walaupun keduanya masih sering bertemu dan peduli di rumah, tapi kesibukan mereka yang berbeda membuat mereka harus menempuh jalur hidup sendiri-sendiri jika berada di luar rumah.
Pada awalnya, Marcel memang merasa kesepian dan sedih ketika harus menjalani kehidupannya sendirian di kampus. Tidak ada Alina ataupun Elly juga. Karena Elly memilih kampus lain, tidak sama seperti Marcel.
Sementara itu, Alina juga mulai mengikuti kompetisi piano di berbagai kota dan berhasil meraih beberapa penghargaan. Ia juga mulai dikenal sebagai pianis yang berbakat dan semakin sering diundang untuk tampil di berbagai acara.
"Kamu jadi sering pergi-pergi Lin," protes Marcel, yang merasa makin jauh dengan kembarannya.
"Ck, gak juga. Bukannya Kamu yang sudah terlalu sibuk dengan kegiatan kampus?" Alina justru merasa jengah, dengan protes Marcel.
Alina tidak salah, karena Marcel memang sibuk sebagai mahasiswa baru. Selain kegiatan kuliah, Marcel juga aktif dalam kegiatan kampusnya juga. Hal ini tentu saja menyita banyak waktunya, sehingga terlihat jarang di rumah.
"Hehehe...sorry deh..."
"Apaan sorry?"
Marcel justru cengengesan dengan meminta maaf, yang membuat Alina mengerutkan keningnya mendengar permintaan maaf tersebut.
"Besok Aku jemput ya? Kamu gak usah bawa mobil sendiri, jadi mint antar supir aja pas berangkanya." Marcel memberikan usulan.
"Yakin Kamu bisa?" tanya Alina memastikan.
Dengan cepat Marcel menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh kembarannya yang sudah menjadi seorang gadis cantik.
"Ok deh. Mau ajak Aku ke mana?" tantang Alina, yang ingin pergi bersama-sama dengan kembarannya. Sama seperti dulu.
"Serah Kamu," sahut Marcel cepat.
__ADS_1
"Yakin?"
Marcel kembali menganggukkan kepalanya, meyakinkan Alina yang masih menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Yeee... gitu dong!"
Alina bersorak senang, kemudian memeluk Marcel dengan cepat. Dia sudah lama tidak pergi bersama dengan Marcel, karena waktu yang tidak memberikan kesempatan pada mereka berdua.
***
Kehidupan Marcel dan Alina tidak selamanya mudah. Meskipun mereka memiliki hubungan yang sangat dekat, namun terkadang ada beberapa halangan yang menghalangi hubungan mereka. Salah satu halangan tersebut adalah ketika banyak orang yang salah paham dengan hubungan mereka.
Marcel dan Alina tidaklah kembar identik, sehingga terkadang orang sulit untuk membedakan keduanya. Apalagi jenis kelamin mereka berdua juga berbeda.
Sering kali orang salah paham dengan kebersamaan mereka berdua, yang orang pikir adalah sepasang kekasih. Mungkin karena itu juga, Alina maupun Marcel jarang sekali terlihat bersama orang lain, yang berstatus sebagai kekasih. Selain mereka memang tidak pernah ingin punya pacar terlebih dahulu, orang-orang juga takut jika ingin mendekati mereka.
Sore ini, Marcel datang untuk menjemput Alina dari sekolah musiknya. Namun seperti biasanya, banyak orang yang salah mengartikan hubungan mereka.
Beberapa teman cewek Alina curiga bahwa Marcel adalah pacarnya Alina, tapi justru mereka ingin merebut perhatian Marcel agar tidak berhubungan dengan Alina.
"Kenapa Lo mau pacaran sama cewek sombong kek dia?" tanya salah satu dari mereka, yang berpenampilan nyentrik.
"Ck, timpang."
"Apanya?" tanya Marcel lagi, karena jawaban cewek tersebut tidak dia mengerti.
"Ya pokoknya gak pas aja," sahutnya enteng.
"Alina saudara Gue. Ada yang salah?"
"Halahhh... sok ngaku-ngaku saudaraan. Bilang aja Lo masih mau menerima cewek lainnya lagi, hahaha..."
Marcel mengerutkan keningnya bingung, dengan sikap yang terjadi pada cewek tersebut.
Hal ini membuat Alina merasa kesal dan sedih. Baginya, Marcel adalah saudaranya yang sangat ia cintai dan sayangi. Ia tidak pernah memandang Marcel sebagai pacarnya. Namun, terkadang orang-orang sulit memahami hubungan mereka yang sebenarnya.
Sementara itu, Marcel juga merasa kesal dengan situasi tersebut. Ia tidak pernah memandang Alina sebagai pacarnya, tetapi terkadang sulit menjelaskan hal tersebut kepada orang lain. Beberapa orang bahkan menganggap bahwa Marcel berbohong dan mencoba menyembunyikan hubungannya dengan Alina.
__ADS_1
Ketika situasi semakin sulit, Marcel dan Alina memutuskan untuk berbicara dengan jujur kepada teman-teman mereka. Mereka menjelaskan bahwa mereka hanya saudara kembar dan tidak pernah memandang satu sama lain sebagai pacar.
"Gue saudaranya Alina. Kami kembar."
Alina menggangguk mengiyakan perkataan Marcel, yang mencoba memberi tahu mereka-mereka.
"Ohhh... kembarannya Alina."
"Masak sih?"
Beberapa teman mereka memahami situasi tersebut dan membantu mereka menjelaskan kepada orang lain. Namun, ada juga beberapa orang yang tidak percaya dan terus menganggap bahwa Marcel dan Alina memiliki hubungan yang lebih dari sekadar saudara kembar.
Situasi ini membuat hubungan Marcel dan Alina menjadi sulit. Mereka merasa frustasi karena tidak dapat menjalani hubungan sebagaimana mestinya. Beberapa orang bahkan menganggap hubungan mereka sebagai sesuatu yang aneh dan tidak wajar.
"Gak percaya ah Gue!"
"Iya,gak biasanya ada cowok yang jemput Alina. Paling juga supirnya yang cowok, tapi udah tua. Hahaha..."
"Serah kalian deh!" kata Alina menyerah.
"Udah biarin aja mereka," sambung Marcel, meminta pada Alina supaya tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Akhirnya Marcel dan Alina memutuskan untuk tetap bersama dan saling mendukung satu sama lain. Mereka tidak membiarkan situasi tersebut menghancurkan hubungan mereka.
"Ya udah yuk!"
Kali ini, Alina justru menggandeng tangan Marcel dengan mesra, sengaja supaya teman-temannya merasa panas dan iri.
Marcel juga tidak mempermasalahkan hal itu, karena dia tidak peduli dengan apa kata orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan mereka.
"Kamu gak takut, jika gak ada cowok yang akan mendekati Kamu karena berfikir jika Kamu udah punya pacar?"
"Biarin. Malah gak gangguin Aku."
"Hehehe... bilang aja gak laku!"
Marcel terkekeh geli, setelah menyahuti perkataan Alina yang asal.
__ADS_1
Kini mereka berdua menuju ke sebuah Mall, sesuai dengan permintaan Alina yang ingin pergi makan dan nonton bioskop.