
"Mama... Mama Amy! horeee..."
"Yeee... Reo mau Mama Amy!"
Reo bersorak kembali, dengan senyum yang merekah khas keceriaan anak-anak.
Kebahagiaan Reo ini membuat Amy terenyuh, sehingga tidak bisa mengatakan kebenaran yang sesungguhnya, jika tadi yang didengar oleh Reo itu hanyalah gurauan dari papanya saja.
Amy memandang ke arah Shiro Yuki, berharap duda dingin tersebut mau memberikan penjelasan kepada anaknya.
Tapi harapan Amy tidak terkabul, sebab Shiro Yuki sendiri hanya diam saja. Membuat kesalahpahaman anaknya itu berlanjut, tanpa mendapatkan penjelasan yang benar.
"Reo. Kembali tidur ya! Ini sudah malam, dan Mama Amy juga butuh istirahat."
Mendengar perintah dari papanya, membuat Reo segera menggelengkan kepalanya. "Gak mau! Reo mau tidur sama Mama dan Papa. Dulu, sewaktu Papa sendiri menidurkan Reo, Papa bilang gak ada mama yang bisa menemani. Sekarang sudah ada mama, jadi ayok Pa tidur sini! temani Reo sama Mama Amy ya Pa!"
Permintaan dari Reo ini, membuat Amy salah tingkah. Tapi berbeda dengan Shiro Yuki, yang hanya tersenyum tipis, menanggapi permintaan anaknya itu.
Ternyata dulunya, Shiro Yuki selalu menemani tidur anaknya, sebab Reo memang tidak mau tidur bersama dengan orang lain, termasuk nenek dan kakeknya. Sedangkan untuk pengasuhnya sendiri, ART di rumah ini, Reo juga tidak mau.
Dan kebiasaan Reo yang selalu tidur ditemani oleh papanya terlebih dahulu, berubah sejak ada Amy. Pengasuh yang diinginkan dan dipilih oleh Reo sendiri, meskipun itu dengan cara paksaan dari Papanya waktu itu.
Sekarang Shiro Yuki sudah bersiap-siap untuk berbaring di tempat tidur anaknya, sesuai dengan permintaan dari Reo tadi.
Tapi tentu saja hal itu berbeda dengan Amy. Dia menjadi canggung sendiri, karena itu berarti dia akan tidur bersama dengan Tuan Muda dan tuan Besar-nya, di tempat tidur yang sama. Yaitu tempat tidurnya Reo, yang memang berukuran besar. Tidak sama seperti tempat tidur anak-anak pada umumnya.
Shiro Yuki memang menempatkan tempat tidur yang berukuran besar, untuk keamanan anaknya saat tidur, supaya bisa bergerak sedikit lebih bebas, dan tidak takut jatuh.
Reo juga menyukai tempat tidur yang luas, karena dia suka bergerak ke sana-sini sesuka hatinya. Sedangkan dia sudah tidak tidur dalam box bayi atau ranjang khusus balita, sejak berusia satu tahun.
"Sini Ma, sini!"
Tangan Amy ditarik-tarik Reo, supaya mendekat dan menyusul naik ke tempat tidur.
Reo menepuk-nepuk tempat tidur, meminta pada Amy untuk berada di sebelahnya yang lain. Karena sebelahnya lagi sudah ada papanya, dalam posisi berbaring.
Wajah Amy sudah tidak bisa digambarkan seperti apa, dengan keadaan yang seperti ini.
Rasa canggung, malu, tidak nyaman dan was-was menguasai hati dan perasaannya, karena harus tidur bertiga dengan dua laki-laki, yang statusnya sebagai majikannya. Dengan usia dan tujuan mereka yang berbeda.
"Mama ayo!"
__ADS_1
Reo kembali menarik-narik tangannya Amy, karena tidak sabar untuk segera tidur dalam posisi yang dia inginkan.
"Cepatlah ikuti saja keinginannya, karena semakin cepat Kamu penuhi, itu akan lebih baik untukmu. Sebab setelah dia tidur, Kamu bisa kembali ke kamarmu sendiri untuk istirahat. Jadi lama atau tidaknya pekerjaan ini tergantung pada dirimu juga."
Amy tersadar saat mendengar perkataan papanya Reo, yang sebenarnya membuat gatal telinganya.
Bukannya membujuk seperti yang dilakukan oleh Reo, anaknya, Shiro Yuki justru berkata dengan entengnya, dalam memberikan perintah. Dan ini membuat Amy menyadari, bahwa dia hanya sebatas pekerja saja, tidak lebih dari itu.
Hal ini tentu membuat Amy salah paham lagi, sama seperti ajakan Shiro Yuki tadi. Pada saat Tuan Besar-nya itu mengajaknya untuk menikah.
'Apa ajakannya tadi juga cuma sebatas pekerjaan yang harus Aku lakukan? padahal menikah bukankah sebuah pekerjaan, yang bisa mendapatkan bayaran setiap bulan. Aneh-aneh saja memang orang kaya!'
Amy membatin, dengan kesalahpahaman yang semakin besar di dalam hatinya, dengan semua yang terjadi saat ini.
Padahal sebenarnya maksud dari perkataan yang diucapkan oleh Shiro Yuki itu adalah untuk kebaikan anaknya agar secepatnya tidur, sehingga Amy bisa cepat beristirahat, setelah seharian penuh meladeni anaknya. Yang tentunya sedang banyak bergerak, karena aktifitasnya sebagai seorang anak laki-laki.
Reo juga sudah terlihat sangat mengantuk, meskipun dia berusaha untuk membuka lebar-lebar matanya, supaya bisa merasakan tidur dengan dipeluk kedua orang yang dia inginkan ini.
Hal yang diinginkan dan diimpikan oleh Reo selama ini.
Akhirnya Amy memposisikan dirinya sendiri dengan berbaring di samping Reo. Sedangkan Reo juga segera berbaring kembali, dengan satu tangan yang memegang tangan mama asuhnya, supaya mau memeluknya.
"Ehhh!"
Amy terkejut saat tangannya yang memeluk tubuh anak asuhnya itu, bersentuhan dengan tangan Shiro Yuki.
"Hihihi... kenapa Ma?" tanya Reo, yang sepertinya sengaja melakukan semua itu.
"Emhhh... gak. Gak apa-apa."
Amy cepat menjawab pertanyaan tersebut, dengan berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
Dia memang terkejut dengan kejadian tadi, apalagi setelah itu Reo justru mengaitkan tangannya dengan tangan papanya.
Sedangkan Shiro Yuki sendiri tampak baik-baik saja, dan tidak terpengaruh dengan keadaan mereka saat ini.
Setelah proses menidurkan anak asuhnya yang penuh dengan drama, akhirnya Amy bisa bernafas lega. Sebab Reo memang kembali tidur tak lama kemudian.
Tapi di saat dia mau beranjak dari tempat tidur, tangannya justru digenggam oleh Shiro Yuki, supaya tetap berada di tempatnya semula, yaitu dalam posisi memeluk Reo bersama dengan tangannya juga.
"Tuan, Saya mau ke kamar. Tuan Muda Reo juga sudah tidur lagi."
__ADS_1
"Hemmm... pergilah! Tapi besok Kamu harus mau menerima permintaanku yang tadi."
Setelah berkata demikian, Shiro Yuki justru beranjak dari tempat tidur terlebih dahulu. Meninggalkan Amy yang masih diliputi dengan tanda tanya.
'Ini cuma pekerjaan? Tapi...'
Amy menggelengkan kepalanya beberapa kali, membuang pikirannya yang tidak-tidak.
*****
Pagi hari di meja makan.
"Pagi Nenek, Kakek!"
"Pagi Pa!"
Reo menyapa semua orang yang sudah ada di meja makan, saat baru saja datang bersama Amy.
"Pagi Sayang..."
Ucap nenek dan kakeknya bersamaan, begitu juga dengan Shiro Yuki.
"Pa. Ayo bilang sama Kakek dan nenek, soal Mama!"
Amy terkejut dengan permintaan Reo pada papanya, yang ternyata masih ingat dengan pembicaraan mereka semalam.
Cresentia dan Yuki Nagato, saling pandang, sebab mereka berdua tidak tahu apa-apa.
"Ada apa Shiro?" tanya Cresentia, mendesak supaya anaknya itu bercerita.
Akhirnya Shiro Yuki menceritakan keinginannya untuk bisa menjadikan Amy sebagai mamanya Reo, dengan cara menikahi pengasuh tersebut.
"Benarkah? kapan?"
Cresentia justru merasa sangat senang mendengar berita ini, bahkan langsung menyetujuinya. Begitu juga dengan suaminya, yang mengganggukan kepalanya setuju.
Tapi kebahagiaan metey pagi ini terasa singkat, di saat ada tamu yang tidak pernah mereka sangka-sangka datang ke rumah sepagi ini.
"Kamu?"
"Ngapain Kamu ke sini?"
__ADS_1